WangSit Pawukon

Metafisika Waktu itu Bernama Pawukon

Membongkar Peta Batin Kuno Di dalam diri kita, terbentang sebuah "peta" batin yang unik. Peta ini adalah cerminan dari pola ...

Minggu, 31 Mei 2015

Minggu Wuku Gumbreg, 7 -13 Juni 2015, Turunnya Wahyu Kepemimpinan di Ratawu


Mpu Totok Brojodiningrat, Memimpin ritual kirab Tombak Pusaka
"Kyai Kali Pepe" untuk Kelurahan Sudiprajan, Pasar Gede, Surakarta, Jateng (2015)


Wuku Gumbreg, durasi dari tanggal 07 Juni 2015 ~ 13 Juni 2015 ( Minggu Paing ~ Sabtu Pon ).

Tanggal 07 Juni 2015 ( Minggu Paing ): Tidak baik untuk bepergian jauh dan urusan penting. Untuk segala urusan banyak terjadi kebuntuan.

Tanggal 08 Juni 2015 ( Senin Pon ): Di bumi manusia banyak mengalami kesialan.

Lukisan Pawukon, Wuku Gumbreg
Tanggal 09 Juni 2015 ( Selasa Wage ): Sangat baik untuk upaya pengobatan orang Stres bahkan orang gila, cenderung cepat maendapat kesembuhan. Apalagi disyarati tangannya di-baluri dengan kulit pohon Turi yang sudah ditumbuk lembut. Untuk kulakan ternak berkaki 4 dan berkaki 2 sangat bagus. Akan tetapi sebaiknya menghindari pekerjaan atau kegiatan yang penting/diperlukan, seperti mendirikan rumah, boyongan rumah, khitanan dan mantu. Hari ini bertepatan dengan Lebu Katiyup angin. Banyak perjuangan yang sia-sia seperti debu yang tertiup angin.

Tanggal 10 Juni 2015 ( Rabo Kliwon ): Rahayu. Baik untuk memulai membabar/membuat pusaka seperti keris, tombak dll. Baik untuk melakukan Mahar/Mas kawin untuk pusaka keris, tombak dan pusaka-pusaka lainnya. Untuk mencari jodoh pendamping hidup sangat baik. Hari ini juga hari Lebu Katiyup Angin.

Tanggal 11 Juni 2015 ( Kamis Legi ): Rahayu. Baik untuk bepergian. Untuk segala keperluan dan pekerjaan juga baik hasilnya.

Tanggal 12 Juni 2015 ( Jum'at Paing ): Hari ini bertepatan Bangas Padewan, tidak baik untuk Mantu atau punya hajad penting seperti Nikahan dan Khitanan.

Tanggal 13 Juni 2015 ( Sabtu Pon ): Rahayu, cenderung banyak rejeki beruntun pada hari ini. Siklus kondisi alam pada hari ini banyak berpihak kepada penghuninya jika pola pikir dan perilaku selaras dengan kehendak alam.

Bathara Cakra, Simbol Wuku Gumbreg
Wuku Gumbreg dibawah pengaruh Dewa Bumi Batara Cakra. Kayunya: Waringin/Beringin. Bisa menjadi tempat berlindung bagi yang membutuhkan. Burungnya: Ayam hutan. Disayang bangsawan atau priyagung. Perintahnya dingin didepan tetapi panas dibelakang, artinya, cara memerintah tenang tapi harus terlaksana apa yang diperintahkannya. Wuku Gumbreg: Geter pater wong tiningku abane, artinya: orang pada segan membantah perintah atau intruksinya. Celakanya: Jika Tenggelam. Kala/Apesnya: berada di Selatan menghadap utara. Selama durasi wuku Gumbreg dari tanggal 07 Juni ~ 13 Juni 2015 ( Minggu Paing ~ Sabtu Pon ) jangan melakukan perjalanan jauh ke arah Selatan.

Catatan: wuku Gumbreg dibawah pengaruh Batara Cakra, dewa lambang Sastra dan Budaya juga yang menguasai Pustaka, maka selama wuku Gumbreg sangat bagus sekali untuk mendalami pustaka-pustaka kuna, akan lebih sangat mudah merasuk dalam jiwa. Konon Batara Cakralah yang menurunkan pustaka/kitab Jitabsara dan ajaran Hasta Brata/Astabrata kepada bagawan Palasara (disebut juga Parasara) di pertapaan Ratawu, yaitu kawruh tentang doktrin kepemimpinan dan ketatanegaraan. Ajaran Astabrata itu juga diberikan Begawan Kesawasidi kepada Risang Dananjaya.

Wuku Gumbreg, keris yang cocok adalah: keris dapur Jalak Sangu Tumpeng, keris dapur Jalak Dinding/Diding. Keris dapur Jalak Sumelang gandring, keris dapur Jalak Tilam sari. Keris dapur Jalak Ngore. Keris dapur Condong Campur, keris dapur Panimbal.

Wuku Gumbreg kali ini masuk dalam Pranoto Mongso Sadha. Dengan condronya mongso: "Tirta sah Saking Sasana" Mongso Bediding, arang wong kringeten, mangsane bubar panen. Bayi kang lahir ing mongso iki watakke Sedengan.




Selasa, 26 Mei 2015

Minggu Wuku Tolu, 31 Mei - 6 Juni 2015, Ekspansi Cabang Usaha

Mpu Totok Brojodiningrat (baju hitam) diapit Mpu Basuki T. Yuwana (baju putih),
saat memimpin ritual proses akhir membuat Keris Pusaka
untuk Bapak Joko Widodo, Presiden RI Periode 2014-2019.


Wuku Tolu, lama durasi dari tanggal 31 Mei 2015 ~ 06 Juni 2015 ( Minggu Kliwon ~ Sabtu Legi).

Tanggal 31 Mei 2015 ( Minggu Kliwon): Hari ini bertepatan hari Lebu Katiyub angin (Debu yang diterbangkan angin). Tidak baik untuk bepergian jauh. Tapi hari ini sangat baik untuk menanam tanaman Umbi-umbian. Hama relatif tidak mau mengganggu dan hasilnya baik.

Lukisan Wuku Tolu
Tanggal 01 Juni 2015 (Senin Legi): Rahayu. Baik untuk memulai usaha perkebunan. Baik untuk menanam tanaman Pala Kabrungkah, baik untuk menanam jenis Umbia umbian.

Tanggal 02 Juni 2015 ( Selasa Paing): Naasnya tanggal Bangas Padewan. Jangan punya hajad Mantu, Boyong Rumah. Banyak Tenung atau Santet berterbangan di jalan. Akan tetapi banyak untuk memulai usaha perkebunan.  Hari ini bertepatan dengan Satriya Wirang. Banyak orang yang mendapatkan Malu.

Tanggal 03 Juni 2015 (Rabu Pon): Rahayu. Sangat baik untuk segala keperluan. Orang yang melakukan kekhilafan dan kesalahan cenderung tidak kelihatan, seperti tanah yang tertimbun.

Tanggal 04 Juni 2015 ( Kamis Wage): Sangat baik untuk Kulakan dagangan, cenderung mendulang untung. Orang yang melakukan proses jual beli cenderung lancar dan mencapai kesepakatan yang baik.

Tanggal 05 Juni 2015 ( Jumat Kliwon ): Rahayu, sangat baik untuk ekspansi membuka cabang usaha di tempat lain dan ditempat yang jauh, akan berkembang pesat. Segala sesuatu yang dirintis pada hari ini jika penuh kesungguhan akan cepat tumbuh kembangnya.

Tanggal 06 Juni 2015 (Sabtu Legi ): Rahayu. Sangat baik untuk melakukan pengobatan penyakit yang sudah lama tidak sembuh sembuh. Sangat baik untuk mengambil keputusan sesuatu yang ada kaitannya dengan Pemerintahan, cenderung punya banyak manfaat bagi kepentingan rakyat kecil. Untuk mengadakan hajad apapun baik.

Wuku Tolu dalam minggu ini masuk durasai Mongso Sadha. Candrane mongso: "Tirta Sah Saka Sasana". Mangsane Bedhidhing, arang arang wong kringeten. Mangsane bubar panen. Bayi lahir ing mongso iki watakke Sedengan. Artinya: "Air mengalir dari sumbernya" Musim dingin dan jarang orang keluar keringatnya. Kebanyakan orang sudah selesai panen padi. Bayi yang lahir di Mongso ini cenderung Serong.
Bathara Bayu, Simbol Wuku Tolu

Wuku Tolu, dibawah pengaruh Dewa bumi Batara Bayu. Burungnya: Branjangan. Wataknya: tidak bisa tenang, selalu bergerak seperti angin. Kemuliaan dan kesuksesannya dikelak kemudian hari. Suka memamerkan harta bendanya. Cenderung Angkuh. Celakanya terkena Taring atau terkena Tanduk. Kolo/naas: Berada di Barat Laut. Individu yang ber wuku Tolu selama satu minggu dari tanggal 31 Mei ~ 06 Juni 2015, jangan melakukan perjalanan jauh ke arah Barat Laut.

Keris yang cocok untuk wuku Tolu: Keris dapur Sabuk Inten, keris dapur Sabuk Tampar, keris dapur Pandawa, keris dapur Carang Soka.







*Nukilan Informasi tentang Keris Dhapur Pandawa untuk Presiden RI Joko Widodo

Dipersembahkan Keris untuk Presiden dan Wapres

20 Mei 2015 0:15 WIB Category: SmCetakSolo Metro A+ / A-
KARANGANYAR -Padepokan Keris Brojobuwono, mempersembahkan sebuah keris masing-masing untuk Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Yusuf Kalla.
Keris yang dibuat besalen padepokan itu disimbolkan sebagai lambang pemimpin yang mempunyai jiwa kesatria dan mampu membawa rakyat mencapai kesejahteraan dan kedamaian.
Menurut Pendiri Padepokan Keris Brojobuwono di Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar, Basuki Teguh Yuwono, selain mempersembahkan keris bagi pimpinan negara, padepokan juga memberikan hibah pusaka berbentuk keris dan tombak.
Keris dan tombak diberikan kepada pengelola lembaga adat Kedaton Pasirluhur, adapun tombak masing-masing diberikan kepada Kelurahan Sudiroprajan dan SMA Warga.
Keris untuk presiden dibuat dengan dapur pandawa luk lima dan pamor teknik gedegan serta motif netra sewu. Adapun keris untuk wakil presiden dengan dapur sabuk inten luk 11, pamor gedegan netra sewu dengan motif anggur memakai selut jeruk keprok.
‘’Dua keris itu pada hakikatnya mempunyai filosofi yang sama, apabila dipandang dari kosmis budaya Jawa. Pemimpin mempunyai jiwa kesatria (Pandawa). Luk lima mampu menyimbolkan filosofi Pancasila maupun pandangan hidup keblat papat lima pancer. Intinya, pemimpin bisa membawa bangsanya mencapai kesejahteraan dan kedamaian,’’ kata Basuki.
Sementara itu, keris dan tombak yang dihibahkan kepada Kedaton Pasirluhur dimaksudkan sebagai regalea yaitu kelengkapan kebesaran kerajaan dalam upacara. Sebagai lembaga yang ingin membangun kembali spirit Kerajaan Pasirluhur, lembaga itu layak memiliki perangkat upacara yang mempunyai nilai simbolis dan adat Jawa.
‘’Kami sangat mendukung upaya pelestarian dan penggalian kebudayaan Jawa. Kami menghibahkan keris dan tombak itu sebagai bentuk dukungan kami kepada upaya Kedaton Pasirluhur memetri kebudayaan,’’ tambahnya.
Bentuk Edukasi
Hibah kepada Kelurahan Sudiroprajan, menurut Basuki yang juga dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Solo itu, berupa tombak diharapkan sebagai regalea umbul mantra Grebeg Sudira. Selama ini, masyarakat Sudiroprajan sudah menggelar garebeg dan kirab Sudira yang melibatkan masyarakat etnik Jawa dan Tionghoa.
‘’Kami juga sangat mendukung upaya masyarakat Sudiraprajan dengan kegiatan budaya garebeg itu. Diharapkan, lewat upaya pelestarian kebudayaan tu akan mampu mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.’’
Sebuah tombak juga dihibahkan kepada SMA Warga. Hibah itu, lebih karena Basuki sendiri merupakan alumnus sekolah itu. Selebihnya, sekolah itu mempunyai karya ilmiah bidang perkerisan berbasis budaya. Pemberian itu merupakan bentuk edukasi budaya Jawa.
‘’Diharapkan, siswa juga akan mengenal budaya yang salah satunya berupa benda pusaka. Ke depan kami juga akan memberikan 10 tombak lagi ke SMA Warga. Bulan lalu, kami juga memberikan 18 tombak ke Kampung Jawi di Ktai Baray Kalimantan Timur,’’ tambahnya. (sri-76)

Sumber: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/dipersembahkan-keris-untuk-presiden-dan-wapres/

Rabu, 20 Mei 2015

Minggu Wuku Kurantil, 24-30 Mei 2015, Kehati-hatian Berniaga, Antisipasi "Nuju Pati"

Mpu Totok Brojodiningrat,
Kirab Pusaka untuk Karaton Pasir Luhur,
Banyumas Purwokerto, Jateng

Wuku Kurantil, Dewa Bumi Batara Langsur. Durasi dari tanggal 24 Mei 2015 ~ 30 Mei 2015 (minggu pon ~ Sabtu Wage).

Tanggal 24 Mei 2015 (Minggu Pon): Untuk mencari jodoh baik. Akan tetapi untuk segala kegiatan dan kerja tidak baik.

Tanggal 25 Mei 2015 (Senin Wage): Untuk bepergian penting tidak bagus, jauh dari apa yang menjadi harapan. Segala kerja tidak baik, tapi untuk melakukan perburuan baik.

Tanggal 26 Mei 2015 (Selasa Kliwon): Untuk bepergian banyak sekali aral melintang, karena hari ini adalah Nuju Pati. Banyak segala kehendak yang tidak kesampean.

Tanggal 27 Mei 2015 (Rabu Legi): Tidak baik melakukan hal penting seperti Pernikahan, boyongan, memulai membangun rumah atau gedung fasilitas umum. Akan tetapi untuk berniaga baik.

Bathara Langsur, Wuku Kurantil
Tanggal 28 Mei 2015 (Kamis Paing): Hari ini adalah Nuju Pati. Banyak terjadi kecelakaan dijalan, banyak orang kesakitan. Untuk bepergian banyak mendapatkan musuh baru.

Tanggal 29 Mei 2015 (Jumat Pon): Hari ini Naasing Tanggal Bangas Padewan. Tidak baik untuk Mantu, boyongan rumah, memulai membangun rumah dan gedung fasilitas umum. Banyak terjadi kecelakaan, tidak baik untuk bepergian.

Lukisan Wuku Kurantil
Tanggal 30 Mei 2015 (Sabtu Wage): Hari ini bertepatan dengan Satriya Wirang, Tidak baik untuk Mantu. Akan tetapi baik untuk segala kegiatan. Memancing akan mendapatkan hasil maksimal.

Wuku Kurantil, dibawah pengaruh Batara Langsur. Kayunya: ingas. Watak: Cepat panas dan emosi hatinya, akan tetapi juga akan sangat cepat mereda emosinya. Burungnya: Slinditan, untuk berdiam diri tidak betah. Gedungnya menengadah keatas, artinya: Sangat boros. Senang menghabur hamburkan uang dengan keperluan yang tidak jelas. Memiliki kemuliaan dan kehormatan. Wuku Kuranti Anggara kasih Nuju Wogan, artinya: Tidak tetap pada pendirian. Bilahi/celakanya bila Memanjat. Kolo/Apesnya: Berada di Bawah menghadap ke atas. Wuku Kurantil selama tujuh hari, dari tanggal 24 Mei 2015 ~ 30 Mei 2015, Seyogyanya Jangan Memanjat.

Wuku Kurantil keris yang cocok: Keris dapur Bethok, keris dapur Kebo Lajer, keris dapur Kebo Teki, keris dapur Tebu Sauyun, keris dapur Sangkelat, keris dapur Pandawa.

Wuku Kurantil kali ini masih masuk durasi Mongso Dhesta. Candraning Mongso: "Sotya Sinara Wedi". Mangsane manuk podho ngloloh. Bayi lahir mongso iki watakke climut.

Minggu Wuku Wukir, 17-23 Mei 2015, Promosi Jabatan dan Jamas Pusaka

Mpu Totok Brojodiningrat

Wuku Wukir, dibawah pengaruh batara Langsur, durasi dari tanggal 17 Mei ~ 23 Mei 2015 (Minggu Legi ~ Sabtu Paing).

Tgl 17 Mei 2015 (Minggu Legi): Rahayu. Sangat baik untuk menyimpan padi di lumbung atau gudang. Untuk memulai buka usaha hasilnya baik. Begitu juga untuk mengadakan kongsi dagang. Menanam modal juga baik.

Tanggal 18 Mei 2015 (Senin Paing): Rahayu. Baik untuk merekrut karyawan. Sangat baik untuk promosi jabatan atau kenaikan pangkat. Baik untuk menggali sumur, sumbernya besar dan airnya jernih. Untuk berburu juga baik. Mencari barang barang dagangan cenderung mendulang untung.

Tanggal 19 Mei 2015 (Selasa Pon): Sangat baik untuk merekrut pegawai. Untuk bepergian banyak mendapat rejeki.

Tanggal 20 Mei 2015 (Rabu Wage): Hari ini bertepatan Padangon: Wogan. Sangat baik untuk membuat senjata pusaka seperti keris dan tombak. Akan tetapi pantangan Memamerkan Pusaka, karena akan banyak para para pejabat dan priyagung yang Koncatan Kelantipannya (kehilangan kearifannya), dan para penimbun bahan pokok makan semakin tidak Kamanungsan (tidak ketahuan). Baik untuk memulai usaha, membentuk kongsi dagang dan menanam modal.

Lukisan Wuku Wukir
Tanggal 21 Mei 2015 (Kamis Kliwon): Bayi yang terlahir pada hari ini banyak rejeki. Untuk bepergian akan ketemu dengan yang diharapkan, juga akan mendapatkan banyak rejeki.

Tanggal 22 Mei 2015 (Jumat Legi): Baik sekali untuk menjamasi dan mewarangi Pusaka, akan tetapi tidak baik untuk memamerkan pusaka, akan banyak pemimpin yang Kewirangan dan dapat Sial, karena hari ini bertepatan dengan padangon Wurung sekaligus pancasuda Satriya Wirang. Akan tetapi untuk melamar baik.

Tanggal 23 Mei 2015 (Sabtu Paing): Hari ini Sangarnya tanggal, tidak baik untuk Mantu. Bepergian banyak halangan. Akan tetapi bayi yang lahir banyak rejeki.

Wuku Wukir: Dewa Bumi Batara Mahayekti. Kayunya: Nagasari. Watak: Hambesut rogo/prihatin. Burungnya: Manyar, tidak ingin ada orang yg melebihi atau menyaingi dirinya. Budinya sopan santun dan ramah. Dilingkungan manapun selalu ada didepan atau cenderung memerintah. Suka memamerkan harta bendanya. Wuku Wukir, indah dari jauh jika dipandang, akan tetapi berbahaya kalau didekati. Dengan kata lain, sulit dipercaya budi baiknya alias pamrih. Celakanya: kena fitnah. Kolo/bahaya: Di Tenggara menghadap Barat Laut. Dalam satu minggu selama durasi wuku Wukir, Minggu legi ~ Sabtu Paing, jangan melakukan perjalanan jauh kearah tenggara.

Bathara Mahayekti, Wuku Wukir
Wuku Wukir keris yang cocok adalah: Keris dapur Campur Bawur, keris dapur Pudhak Sategal, keris dapur Kebo Lajer, keris dapur Sempono Kinjeng.

Wuku Wukir kali ini dalam durasi Mongso Dhesta. Candrane: "Sotya Sinara Wedi". Mangsane manuk manuk podho ngloloh. Bayi lahir mongso iki watakke climut.

Sabtu, 09 Mei 2015

Minggu Wuku Landhep, 10-16 Mei 2015, Memulai Usaha Otomotif, Deteksi Sumber Tambang

Mpu Totok Brojodiningrat, Talk Show di Radio Kutai Barat,
Kirab Budaya Nusantara Kutai Barat Kaltim (2015)

Wuku Landhep, dewanya Batara Mahadewa. Durasi dari tanggal 10 Mei 2015 sampai dengan 16 Mei 2015 (Minggu Wage ~ Sabtu Kliwon).

Tanggal 10 Mei 2015 (Minggu Wage): Baik sekali untuk memulai usaha, khususnya usaha Perbengkelan dan jasa Pertukangan. Baik untuk mencari jodoh dan mencari tenaga kerja.

Tanggal 11 Mei 2015 (Senin Kliwon): Baik untuk memulai usaha perbengkelan dan Otomotif. Hari ini bertepatan dengan hari Satriya Wirang, hati-hati didalam mengambil langkah kebijaksanaan publik, karena akan mendapat malu besar atau Kewirangan. Untuk niaga banyak meraup untung.

Tanggal 12 Mei 2015 (Selasa Legi): Wataknya Rahayu. Hari ini sangat baik untuk mendeteksi Sumber Tambang, mencari mata air di lokasi yang sulit air akan lebih mudah menemukan. Sangat baik untuk membuat sumur, airnya bening dan melimpah sumbernya.

Lukisan Wuku Landhep

Tanggal 13 Mei 2015 (Rabu Paing): Hari ini bertepatan Tali Wangke (Tali pengikat mayat), cenderung banyak mayat karena terjadi malapetaka. seyogyanya menghindari bepergian jauh. Tidak baik untuk melangsungkan nikahan atau mantu. Tidak baik untuk memulai membuat rumah dan boyongan. Untuk melakukan urusan penting tidak baik. Akan tetapi untuk membasmi hama tanaman sangat baik hasilnya.

Tanggal 14 Mei 2015 (Kamis Pon): Naasnya tanggal, jangan untuk mantu/nikahan. Untuk keperluan lain bagus.

Tanggal 15 Mei 2015 (Jumat Wage): Sangat baik untuk kegiatan mengebor tambang, cenderung berhasil dengan gemilang. Sangat baik untuk menggali sumur, sangat mudah mendapatkan sumber air yang melimpah sepanjang musim dan airnya sangat jernih. Untuk melakukan keperluan penting lainnya tidak baik.

Tanggal 16 Mei 2015 (Sabtu Kliwon): Tidak baik untuk bepergian suatu urusan penting.

Wuku Landhep, dewanya Batara Mahadewa. Kayunya: Gendhayakan. Wataknya: bisa menjadi pelindung bagi orang yang sedang menderita sakit. Burungnya: Atat Kembang (peliharaan para bangsawan/priyagung). Sering bekerja pada orang. Perintahnya berakibat baik dibelakang hari. Bisa membuat terang hati orang lain. Celakanya: Kejatuhan Pohon kayu yang tumbang. Kolo/Marabahaya: Berada di Barat menghadap ke timur. Orang terlahir Wuku Landhep selama satu minggu dari tanggal 10 Mei 2015 sampai dengan tanggal 16 Mei 2015 (Minggu wage ~ Sabtu Kliwon) tidak melakukan perjalanan jauh ke arah Barat.
Bathara Mahadewa

Wuku Landhep keris yang cocok: Keris dapur Brojol, keris dapur Semar tinandu, keris dapur Semar Pethak, keris dapur Semar Mesem, keris dapur Supono/Sempono Bandhung. Keris dapur Rarasiduwa, keris dapur Pandawa Cinarita dan Pandawa Lare.

Wuku landhep kali ini masih masuk Mongso Dhesta. Candrane: "Sotya Sinara Wedi". Mangsane manuk manuk podho ngloloh. Bayi Lahir ing mongso iki watakke climut.




Minggu Wuku Sinta, 3-9 Mei 2015, Membuka Peternakan Skala Besar



Mpu Totok Brojodiningrat, memegang keris Bali bersejarah (Ki Baro Kumandang),
bersama dengan Pande Suteja Neka, pemilik Museum Neka Ubud Bali.
Pusaka karya Mpu Rudaya dari Banjar Jasri Kerajaan Karang Asem Bali.


Wuku Sinta. Dewanya Batara Yamadipati. (Dewa pencabut nyawa). Durasi wuku Sinta dari tanggal 03 Mei 2015 sampai dengan 09 Mei 2015 ( Minggu paing ~ Sabtu Pon).

Tanggal 03 Mei 2015 (Minggu Paing): wataknya Rahayu. Baik untuk membuka peternakan berskala besar. Untuk memulai usaha dagang baik.

Lukisan Wuku Sinta

Tanggal 04 Mei 2015 (Senin Pon): hari ini adalah Sampar Wangke. Pantangan untuk bersenggama. Pantangan untuk memotong bambu dan pohon yang banyak mengandung pathi (tepung), akan mudah dimakan bubuk atau rapuh. Baik untuk memulai membuka lahan pertanian. Baik untuk mencari buruan.

Tanggal 05 Mei 2015 (Selasa Wage): Tidak baik untuk memulai suatu usaha, jangan memulai suatu pergerakan atau kegiatan yang sifatnya khusus.

Tanggal 06 Mei 2015 (Rabo Kliwon): wataknya Rahayu. Baik untuk bepergian mencari nafkah dll. Orang yang punya niyat jahat apapun bentuknya akan kandas.

Tanggal 07 Mei 2015 (kamis Legi): Sangat baik untuk pengobatan mata. Baik untuk memulai usaha khususnya bahan sandang pangan. Untuk mulai masuk bekerja sangat baik, disayang atasan dan rekan kerja.

Tanggal 08 Mei 2015 (Jum'at Paing): hari ini Bangas Padewan, pantangan untuk mantu atau melangsungkan pernikahan. Tidak baik untuk segala keperluan dan kepentingan. Tapi bagus untuk memasang jebakan.

Tanggal 09 Mei 2015 (Sabtu Pon): Baik untuk memulai usaha perkebunan. Baik untuk menanam ubi ubian dan baik untuk segala keperluan.

Wuku Sinta, dewanya Batara Yamadipati (dewa pencabut nyawa). Kayunya: pohon Gendhayakan. Wataknya: bisa menjadi pelindung orang yang sedang menderita sakit. Burungnya: Gagak. Peka terhadap wangsit atau pertanda alam. Memiliki kemuliaan dalam hidupnya. Wuku Sinta: Wulan "Wulan Karahinan".  Kelemahannya: pada usia setengah tua, bisa kena celaka, hati-hatilah di tengah perjalanan.  Kolo berada di Timur laut menghadap selatan. Dalam tujuh hari dari tanggal 03 Mei ~ 09 Mei 2015 (Minggu paing ~ Sabtu Pon) hindari perjalanan jauh kearah Timur Laut.

Bathara Yamadipati

Wuku Sinta keris yang cocok adalah: Keris dapur Jalak Ngore, keris dapur Jalak Sangu Tumpeng, keris dapur Jalak Dhindhing, keris dapur Jalak Tilam Sari, keris dapur Condong campur, keris dapur Panimbal.

Wuku Sinta kali ini masuk dalam Mongso Dhesta. Candrane: "Sotya Sinoro wedi". Mangsane manuk podho ngloloh. Bayi kang lahir ing mongso iki watakke climut.


Minggu Wuku Watu Gunung, 26 April - 2 Mei 2015, Kisah Gelar Perang dan Awal Tebar Benih


Mpu Totok Brojodiningrat
bersama Tombak Kanjeng Kyai Sigar Penjalin,
Kirab Budaya Nusantara di Kutai Barat, Kaltim (2015)


Wuku Watu Gunung dan Kisah Terjadinya Pawukon

Saat lembayung senja menggerayangi sudut sudut Taman Sari nan indah, Sang dewi Sinta yang cantik jelita tiada tara sedang asyik masyuk mencabuti satu dua rambut uban di Pasondholan (kepala) Prabu Watu Gunung. Bagaikan disambar petir dengan mata terbelalak dan jemari tangan tergetar hebat ketika menyibakkan rambut Sang Prabu ada sebuah bekas luka belang dikepala. Tertegun sesaat, kemudian Sang Dewi teringat kenangan yang terpatri abadi dalam jiwanya, peristiwa getir dan kelabu puluhan tahun yang silam. 

Dengan perut besar karena usia kehamilan menginjak bulan sembilan, seorang wanita muda cantik jelita menerobos lebat dan ganasnya hutan belantara, dengan air mata tiada henti meleleh lantaran diperas roda kepedihan yang teramat dahsyat....telapak kaki penuh berhiaskan onak duri hingga penuh darah penuh nanah.  Wanita cantik malang tersebut tak lain sebenarnya adalah Permaisuri Raja Palindriya. Walau dalam keadaan hamil tua tekadnya telah bulat, lebih memilih meninggalkan kemewahan hidup di istana daripada hidup dimadu dengan adiknya sendiri.

Setelah usia kehamilan memasuki Nawa Candra Dasa Ari (sembilan bulan sepuluh hari), maka terlahirlah bayi laki laki yang mencorong laksana Pratima mas (boneka emas) dengan tangisnya yang teramat keras seakan memenuhi seluruh belantara suara tangisnya, bayi tersebut diberi nama Raden Wudug, dengan penuh kasih sayang dirawat sendiri oleh ibunya.

Bulan berganti, musim berlalu, tanpa terasa sewindu sudah usia R. Wudug, alam rimba raya dan isinya, seperti harimau, gajah, kijang, monyet, berbagai burung dan binatang binatang lainnya adalah sahabatnya. Terkadang R. Wudug pulang terlalu sore membuat cemas ibunya.

Pada suatu hari ibunya terasa cemas sekali, karena semalaman R. Wudug tidak pulang, dan paginya baru pulang, dengan perut sangat lapar R. Wudug memaksa ibunya untuk segera menyiapkan makan, pada saat itu ibunya sedang sibuk menanak nasi dengan tangan kanan memegang Centhong (semacam alat/sendok untuk mengambil nasi). Karena lepas kendali maka secara reflek centhong itu dipukulkan ke kepala anaknya. Sambil mendekap luka di kepalanya yang mengucurkan darah segar R. Wudug mengaduh lirih tanpa keluar suara tangisnya, tertegun sesaat memandangi ibunya dengan hati tidak percaya ibunya akan tega melakukan itu.  Sekejap kemudian R. Wudug lari se-kencang-kencangnya meninggalkan gubug ibunya.

Ibu R. Wudug yang sejatinya adalah Dewi Sinta, dengan penyesalan yang teramat dalam mengejar dan meneriaki R. Wudug, akan tetapi R. Wudug lenyap bagaikan ditelan pertiwi dan bertiraikan lebatnya pepohonan rimba raya. Dalam hati R. Wudug merasa sudah tidak lagi disukai oleh ibunya, maka terus berlari dan berlari menjauh dari gubug dimana ibunya tinggal. Hidup terlunta lunta seorang diri dan mengganti namanya menjadi Raden Redite. Singkat cerita, tahu-tahu R. Redite telah berhasil menaklukkan penguasa Giling Wesi, R. Redite Sinengkak aken ing aluhur (dinobatkan) menjadi raja Giling Wesi bergelar Prabu Watu Gunung.

Pada suatu pagi yang cerah, di hutan yang asri, ketika Sang Prabu Watu Gunung sedang Membedhag Buron Wono (berburu dihutan), di tepi Sendang (mata air) yang airnya bening berkilau, dilihatnya ada seorang wanita muda yang teramat cantik jelita, tak ubahnya tetungguling Bidadari yang sedang turun dari taman swargaloka sedang mencuci kainnya, dengan rambut hitam legam setengah basah tergerai hingga pinggangnya. Oleh Prabu Watu Gunung disapanya wanita cantik jelita itu, dengan tubuh menggigil seakan tidak mampu berdiri dan bertumpu dikedua kakinya, dengan mata terbelalak terpesona ketampanan Sang Prabu, seketika itu tumbuh akar asamara merambat disekujur tubuh dan jiwanya...ketika Prabu Watu Gunung menyentuh lembut pundaknya, seluruh senar hati Sang Jelita tergetar hebat...

Demikian juga halnya dengan Prabu Watu Gunung, menggigil dalam hasrat dan tumbuh sayap-sayap kehendak untuk meminang Sang Jelita dalam rengkuhan singgasana cintanya yang agung. Gayung bersambut, Sang Jelitapun menerima pinangannya. Diboyonglah Dewi Sinta ke kerajaan untuk diajak Mukti wibowo hambau dendho hanyokrowati (menjadi permaisuri) mendampingi Sang Prabu Watu Gunung. Dan dewi Sinta samasekali tidak mengira bahwa yang menjadi suaminya adalah putra kandungnya sendiri.

Prabu Watu Gunung pun tidak mengira bahwa wanita jelita yang nampak masih perawan itu adalah ibu kandungnya sendiri. Dipikirnya tentu ibunya sudah meninggal atau kalau masih hidup pun tentu sudah tua renta. Adapun dewi Sinta tetap awet muda karena tiap hari siram jamas di Sendang Panguripan dan rajin minum jamu dedaunan awet muda hasil racikannya sendiri. Hubungan asmara terlarang sudah terlanjur terjadi, bubur tidak lagi mungkin kembali menjadi nasi. Hal yang bisa diupayakan Sang Dewi adalah mengakhiri hubungan asmara ini untuk menghindari kutukan Dewata.

Gambar Wuku Watugunung

Setelah Maneges (mohon petunjuk) akhirnya Sang Dewi mendapatkan petunjuk dari Hyang Widhi, ia mengajukan permintaan agar dimadu dengan tetungguling bidadari di Kayangan yang bernama Dewi Supraba, dengan alasan suatu kebanggaan dan kehormatan kalau dimadu dengan ratunya bidadari. Walau dengan basa basi, permintaan wanita yang amat dicintainya itu disanggupi. Tanpa menunggu waktu lama, Prabu Watu Gunung naik ke Kayangan Kaendran untuk meminang Dewi Suprobo. Tentu saja Batara Indra tidak mengijinkan, maka terjadilah perang tanding yang akhirnya dimenangkan oleh Prabu Watu Gunung. Seluruh dewa di Kayangan tidak ada yang mampu mengalahkan Prabu Watu Gunung. Maka majulah Senopati Perang para dewa yang amat terkenal sakti dan cerdik, yaitu Dewa Wisnu.

Menghadapi Dewa Wisnu yang amat cerdas dan sakti mandraguna itu, Prabu Watu Gunung menggunakan Gelar Perang yang di-support oleh dua istrinya yaitu Dewi Sinta dan Dewi Landhep dan dua puluh tujuh putranya, mengepung Dewa Wisnu dari delapan penjuru mata angin, angkasa dan pertiwi. Gelar perang yang sempurna ini tidak mampu ditembus oleh Dewa Wisnu, apalagi Prabu Watu Gunung menguasai ilmu kebal Lembu Sekilan, tidak bisa terkena senjata apapun. Menyadari tidak akan mampu menerobos formasi perang yang digelar oleh Prabu Watu Gunung, maka sebagai dewa yang amat cerdik, dewa Wisnu menantang untuk adu kecerdasan dan kepintaran otak. Prabu Watu Gunung langsung menerima tantangan tanpa menyadari bahwa diakali oleh dewa Wisnu. Adu kecerdasan itu dengan cara adu main catur.

Sampai ber hari hari pertandingan catur berjalan dengan seru, dewi Sinta semakin cemas, khawatir kalau dewa Wisnu kalah, maka akan gagal harapannya untuk menghentikan kutukan Dewata. Saat dewi Sinta masih tenggelam dengan puja semedinya, tiba-tiba terdengar Surak-Surak Manengker Gumuruh hamboto rubuh (suara tempik sorai) para dewa dewa yang meng-elu-elukan kemenangan dewa Wisnu.  Prabu Watu Gunung yang sakti mandraguna telah dikalahkan dengan kecerdikan dewa Wisnu.  Karena rasa malu yang tak tertanggungkan, maka dengan tertunduk lesu ditinggalkanlah tempat itu oleh Prabu Watu Gunung, dan ditempat yang sepi Prabu Watu Gunung mengakhiri hidupnya dengan cara Moksa. Menyaksikan hal itu maka dewi Sinta dan dewi Landhep ikut bela pati, yang juga diikuti oleh keduapuluh tujuh anak-anaknya.

Gelar perang Prabu Watu Gunung. Yang amat tangguh dan rapi ini mendapat pujian khusus dari dewa Wisnu, begitu pula dengan dewa-dewa lainnya juga mengagumi kehebatan Gelar Perang ini. Tiga puluh orang yang mumpuni dalam olah kanuragan guno kasantikan, telah menjadi Ruas-Ruas pertahanan, setiap Ruasnya memiliki kekuatan satu minggu lamanya. Diawali dari hari minggu hingga dengan hari Sabtu. Terus berjalan silih berganti tiada henti dalam setahun 30 wuku = 7 x 30 = 210 hari.

Rotasi Waktu Wuku Watu Gunung
Wuku Watu Gunung dibawah pengaruh Hyang Hanantaboga. Dalam minggu ini durasinya dari tanggal 26 April 2015 sampai dengan tanggal 02 Mei 2015 (Minggu kliwon ~ Sabtu Legi). 
Hyang Hanantaboga,
Simbol Minggu Wuku Watugunung

Tanggal 26 April 2015 (Minggu Kliwon): wataknya Rahayu. Baik sekali untuk kulakan hewan berkaki empat, seperti Sapi, Kerbau, kambing, Kuda.

Tanggal 27 April 2015 (Senin Legi): sangat baik untuk memulai menyebar benih padi. Memulai usaha agrobisnis dan usaha peternakan.

Tanggal 28 April 2015 (Selasa Paing): hari ini Satriya Wirang, tidak baik untuk bepergian, mendapatkan malu.

Tanggal 29 April 2015 (Rabo Pon): Tidak baik. Jangan mengambil keputusan/tindakan penting, karena yang ada dibumi akan sangat mudah bereaksi keras dan pada akhirnya akan menjadi sandungan dan halangan.

Tanggal 30 April 2015 (kamis Wage): wataknya Rahayu. Bepergian mendapatkan keselamatan. Bayi yang lahir akan banyak rejeki.

Tanggal 01 Mei 2015 (Jumat Kliwon): Tidak baik untuk bepergian.

Tanggal 02 Mei 2015 ( Sabtu Legi ): wataknya Rahayu. Baik untuk segala keperluan. Untuk menanam Polo kabrungkah (seperti ketela) baik.

Wuku Watu Gunung: Dewanya Sang Hyang Hanantaboga. Kayunya: Wijayakusuma. Burungnya: Gogik. Sangat menyukai ketenangan. Bersikap seperti pendeta. Berbadan Naga Jantan dan Betina. Menyukai Semedi/tirakat. Wuku Watu Gunung tidak bisa diam (kreatif). Celakanya jika Dianiaya. Kolo berada di Timur menghadap kebarat. Selama tujuh hari saat wuku Watu Gunung sebisa mungkin tidak mengadakan perjalanan penting kearah Timur.

Keris yang cocok untuk wuku Watu Gunung antara lain: Keris dhapur Sabuk Inten, keris dapur Sabuk Tampar, keris dapur Carangsoka, keris dapur Pandawa Cinarita, keris dapur Pandawa Lare.

Wuku Watu Gunung kali ini masuk Mongso Dhesta. Candrane: "Sotya Sinoro wedi". Mangsane manuk podho ngloloh. Bayi kang lahir ing mongso iki watake climut.

*climut: mudah mengambil benda yang tergeletak

Minggu Wuku Dukut 19-25 April 2015: Bisnis Ternak, Tirakat, Melamar, Tebar Padi


Wuku Dukut, dewanya Batara Sakri. Durasi dari tanggal 19 April ~ 25 April 2015 (Minggu Pon ~ Sabtu Wage). 
Mpu Totok Brojodiningrat,
Kirab Budaya Nusantara di Kutai Barat, 
Kalimantan Timur 2015


Tanggal 19 April 2015 (Minggu Pon): Melakukan aktifitas penting tidak baik pada hari ini, akan tetapi baik untuk kulakan binatang ternak.

Tanggal 20 April 2015 (Senin Wage): wataknya hari Rahayu. Untuk bepergian banyak rejeki. Baik untuk bersedekah, akan sampai pada sasaran. Bayi yang terlahir pada hari ini banyak rejeki.

Tanggal 21 April 2015 (Selasa Kliwon): Sangat baik untuk melakukan tirakat. Untuk bepergian jauh tidak baik.

Tanggal 22 April 2015 (Rabo Legi): Wataknya Rahayu. Baik untuk kulakan dagangan. Membongkar bangunan juga baik. Akan tetapi tidak baik untuk Mantu, karena naasnya tanggal. 

Tanggal 23 April 2015 (Kamis Paing): Tidak baik untuk mantu. Akan tetapi untuk melamar dan membangun kembali tali persaudaraan yang terputus sangat baik.

Tanggal 24 April 2015 (Jum'at Pon): Wataknya Rahayu. Baik untuk menyebar benih padi dan bercocok tanam.

Tanggal 25 April 2015 (Sabtu Wage): hari ini Satriya Wirang, tidak baik untuk segala hal keperluan. Untuk bepergian tidak baik.

Bathara Sakri
Wuku Dukut dewanya Batara Sakri. Kayunya: Pandan. Tempat kediamannya sulit untuk diketahui, senang menyepi dan menyendiri. Burungnya: Ayam hutan. Disayangi para priyagung. Berperasaan sangat halus dan peka. Bisa menerima takdir yg Maha Kuasa. Untuk hal yang disenangi sangat boros, hemat untuk hal yang tidak disukai. Celakanya dikhianati di medan peperangan. Kolo di barat daya menghadap Timur laut. Dalam satu minggu saat wuku Dukut jangan berjalan jauh kearah Barat Daya.

Keris yang cocok untuk wuku Dukut antara lain: Keris dapur Kebo Lajer, keris dapur Kebo Teki, keris dapur Bethok yang memakai Sekar Kacang (seperti dalam Naskah Babad Rerengganing Karaton). Keris dapur Tebu Sauyun. Keris dapur Sangkelat. Keris dapur Pandawa Cinarita dan Pandawa Lare.

Lukisan Wuku Dukut
Wuku Dukut kali ini masuk dalam durasi Mongso Kasepuluh. Condronya: "Gedhong Minep Jroning Kalbu". Mangsane sato kewan podho meteng. Manuk manuk podho gawe susuh. Pari wis tumungkul. Bayi kang lahir ing mongso iki watakke kakon aten.