WangSit Pawukon

Metafisika Waktu itu Bernama Pawukon

Membongkar Peta Batin Kuno Di dalam diri kita, terbentang sebuah "peta" batin yang unik. Peta ini adalah cerminan dari pola ...

Kamis, 15 Januari 2015

Minggu WUKU KURUWELUT (25-31 Januari 2015): SATRIA WIRANG dan TALI WANGKE: 25-31 Januari 2015

ROTASI WUKU KURUWELUT
25-31 Januari 2015

Mandau di Kutai Barat, Warisan Budaya Nasional
Mpu Totok Brojodiningrat (berbaju hitam)
Padepokan Keris Brojodiningrat
bersama dengan Hari Supranoto, SH (Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar; AJI GASAN)
dan Mpu Basuki T. Yuwono (berbaju putih)


A. BATHARA WISNU DAN WUKU KURUWELUT

Wuku Kuruwelut yang menaungi adalah Batara Wisnu, senopati perang para dewata, pernah mengalahkan Prabu Watu Gunung tanpa menggunakan kesaktiannya, tapi dengan kecerdikannya. Oleh karenanya, dalam konteks komunikasi individu antar-wuku, orang yang dinaungi wuku Watugunung disarankan untuk berhati-hati saat berpapasan dengan wuku Kuruwelut yang dipayungi oleh putra kelima Hyang manikmaya ini.

Batara Wisnu berkahyangan/bersemayam di Untarasegara. Sering ngejawantah atau  menjelma ke dunia untuk brastha watak angkoro budi candhala ambeg siya (angkara murka) dengan cara menitis.

BATHARA WISNU
Simbol Wuku Kuruwelut

Senjata yang dimiliki Bathara Wisnu berupa Cakra Baskara, yang titisannya juga memiliki, kecuali Sang Rama Regawa. Bathara Wisnu juga memiliki pusaka sakti yang bisa menghidupkan orang meninggal Sak Jabane Pepesthen (mati sebelum waktunya) yang bernama Kembang Cangkok Wijayakusuma. Bathara Wisnu juga memiliki Aji Braholosewu yang amat nggegiri jika triwikrama (berubah wujud menjadi raksasa yang teramat besar). Saat Batara Wisnu menitis sebagai Narayana/Krisna, ajian itu diberikan oleh gurunya yang bernama Begawan Padmanaba yang sesungguhnya adalah Hyang Wisnu sendiri.

Batara Wisnu pernah menjelma sebagai Narasingha (manusia dengan berkepala singa) ketika memusnahkan raja raksasa Prabu Hiranyakasipu. Ia menjelma menjadi Matsa (ikan) untuk membinasakan Hargagriwa yang berujud raksasa sakti. Juga pernah ber-Avatara dalam wujud Wimana (orang kerdil) untuk membinasakan Ditya Bali.

Batara Wisnu identik dengan tunggangannya yaitu Garuda birawa bernama Bhirawan. Karena sayangnya kepada Garuda titihannya, Bhirawan dijadikan menantu dan dijodohkan dengan salah satu putrinya, yaitu Dewi Kastapi.

Didalam Purana, Batara Wisnu dikisahkan menjadi raja di Medangkamulan dengan gelar Prabu Satmata, juga sebagai Raja Pinandita di Kadiri bergelar Sri Aji Jayabaya yang kondang hingga sekarang dengan kitab Jongko Joyoboyo yang disadur oleh seorang Putut dari Padepokan Tegal Sari dibumi Wengker, yaitu Raden Mas Ngabehi Rongga Warsita.

B. ROTASI WUKU KURUWELUT (Januari 2015)

Wuku Kuruwelut rotasinya dari tanggal 25 Januari (Minggu Wage) sampai dengan tanggal 31 Januari 2015 (Sabtu Kliwon), sebagaimana diuraikan berikut.

Tanggal 25 Januari 2015 (Minggu Wage): Tidak baik untuk melakukan kegiatan ataupun transaksi penting. Tetapi sangat baik untuk memasang tumbal sebagai penolak bala dan menetralisir penyakit yang diakibatkan dari faktor “x” atau non medis.

Tanggal 26 Januari 2015 (Senin Kliwon): Sifatnya Rahayu. Sangat baik untuk memulai mencari Lokasi/lahan perumahan, hotel. Memulai menjalin kerjasama bidang usaha apapun. Menyambung kembali tali persaudaraan yang terputus. Baik untuk mencari jodoh.  Individu yang terlahir pada hari Senin Kliwon, wuku Kuruwelut tergolong Satriya Wirang (akan mendapatkan malu, walau bukan dari perbuatannya sendiri)

Tanggal 27 Januari 2015 (Selasa Legi): Seyogyanya menghindari bepergian untuk urusan bisnis yg penting, karena cenderung akan merugi bahkan celaka.

Tanggal 28 Januari 2015 (Rabu Paing): Tidak baik bepergian untuk urusan penting. Cenderung banyak terjadi kecelakaan, harus lebih ditingkatkan kewaspadaan dan tidak sembrono para pengguna jalan, dalam kurun ini atmosfir metafisika bumi sedang acak dan berpengaruh pada penghuninya.

Tanggal 29 Januari 2015 (Kamis Pon): Rahayu atau baik. Untuk pasang tumbal tempat usaha seperti hotel, toko, restoran dan kantor, akan sangat bagus dan cenderung mendulang untung. Individu yg terlahir pada hari Kamis Pon, wuku Kuruwelut masuk kategori Satriya Wirang (akan mendapat malu, baik dari perbuatan sendiri atau dari perbuatan orang lain tapi terkena imbasnya).

Tanggal 30 Januari 2015 (Jumat Wage): Rahayu untuk segala urusan dan keperluan. Utamanya untuk membuat tumbal/syarat tempat usaha agar terhindar dari malapetaka

Tanggal 31 Januari 2015 (Sabtu Kliwon): Hari Tali Wangke (menyandung bangkai/mayat), cenderung terjadi musibah yg memakan banyak korban, berhati-hati dalam segala hal. Sebaiknya menghindari untuk pernikahan, memulai membangun rumah atau suatu bangunan, boyongan/pindah rumah, sebisa mungkin dihindari. Karena dampak jangka panjangnya akan terbukti.
 Individu yg terlahir Satriya Wirang, pada jaman dahulu dinetralisir energi Negatifnya dengan cara Ruwatan Pawukon. Dijaman sekarangpun terkadang masih bisa dijumpai, walau sudah langka.

Suasana Ruwatan Pawukon
Padepokan Brojobuwono, Tahun 2014


C. PERTAUTAN WUKU KURUWELUT DAN MANGSA

Wuku Kuruwelut akan mengakhiri rotasi mongso Kapitu (Wisa Kentar Ing Maruta) dan menjelang masuk mongso Kawolu (Anjrah Jroning Kayun). Mongso Kawolu, candrane:

"Anjrah Jroning Kayun".  Mangsane kucing Gandhik, mangsane pari podho meteng lan akeh Uret. Bayi kang lahir ing mongso iki watake sedhengan.

Artinya: Mekar semerbak dalam angan. Mongso ini musimnya kucing birahi, hati para insan akan ditimpa terik kerinduan yang maha dahsyat kepada tambatan jiwa, mewartakan gejolak jiwa yang tertawan rantai asmara tidak malu meneriakkan kepada alam, seperti suara kucing kasmaran di lututnya subuh. Padi mulai belajar bunting, banyak sekali hama ulat yang sulit di basmi. Bayi yang terlahir pada mongso Kawolu perangainya cukupan.

D. TEKS NARATIF WUKU KURUWELUT

Wuku Kuruwelut, Dewa Bumi Hyang Batara Wisnu.
·      Kayunya: Parijata.
·      Burungnya: Sepahan. Halus budi pekertinya akan tetapi sering dianggap salah, sering dirundung suasana nestapa. Sering selamat didalam terjadinya marabahaya.
·      Celaka atau apesnya terkena senjata yang dilepas/peluru.
·      Selamatannya dengan kambing Tujah/Topong (kambing yang kaki depannya warna bulunya putih).
·      Selawatnya 1 (satu) dinar emas.
·      Kala/halangan yang menghadang berada diatas menghadap ke bawah. Selama tujuh hari didalam wuku Kuruwelut hati-hati jika menaiki sesuatu yang tinggi, misal: tangga suatu bangunan dan lain sebagainya, bisa jatuh.


Teks Asli:
Wuku Kuruwelut: Dewane Hyang Bathara Wisnu. Prayitna mantep ing karya. Ngagem Cakra pratandha yen prajurit. Yen parentah panas kapareng ngarsa. Slamet , penggalihe resik, tan darbe toya, gedhong neng ngarsa. Ngatokke kadunyane, pradhah nanging tan arju, geng budine, akeh bejane. Kayu Parijatha, becik pinangkane luwih adi wicarane. Tansah prihatin. Manuk Sepahan, kesit bebudene lembut barang karepe, sathithik pangane. Candrane banyu banjir agung, dhadhalaken wicarane, nanging tan teyeng wigati. Wah gagawa kathah. Kathah bilahine, susah mrih kinaniaya.

Tulak slamet ana menda Tujah, tegese wedhus kang putih sikile ngarep. Slawate Samas, dungane slamet kabula.  Kuruwelut candrane kapas agring, tegese bilahine kinaniaya ing durjana. Pangruwating bilahi tebu ireng 4 lonjor lan ambengan weton. Slawate wolung ketheng. Kala wuku neng Dhuwur pitung ndina.


[editor: anom s putra]

Minggu WUKU PAHANG DAN FILOSOFI KERIS, 18-24 Januari 2015

ROTASI WUKU PAHANG 
18-24 Januari 2015
Mpu Totok Brojodiningrat
Padepokan Keris Brojodiningrat, Surakarta
Acara: Menjelang Ritual Ruwat Bumi, Situs Kerajaan Pinang Sendawar,
Kutai Barat, Kalimantan Timur


A. Pertautan Wuku Pahang dan Keris

Wuku Pahang, dibawah pengaruh Hyang Tantra. Begitu kuatnya nilai-nilai roh Batara Tantra ini sehingga di belahan bumi tumbuh subur aliran semacam Tantrayana, Tantra Bhairawa dan sebagainya. Leluhur Nusantara tidak sedikit yang gandrung akan aliran Bathara Tantra.

Bathara Tantra, Simbol Wuku Pahang

 Di candi Sukuh, tepatnya pada suatu tempat yang sangat erotis, sebelah barat kaki gunung Udayadri (jaman sekarang lebih masyhur dikenal dengan nama Gunung Lawu), terdapat sebuah relief.  Relief itu menggambarkan suasana didalam besalen (tempat membuat keris) yang bangunannya berbentuk Limasan Gigir Kebo
Candi Sukuh
Memaknai Wuku Pahang dan Keris
Doc: Padepokan Keris Brojobuwono, Karanganyar, Jawa Tengah

Didalam relief terdapat gambaran seorang Mpu dimana ia disertai seorang panjak (tukang ububan) dengan posisi berdiri dengan satu kaki. Posisi berdiri satu kaki itu menggambarkan salah satu sikap yoga Hyang Tantra. Sorot mata sang Mpu terlihat Jatmiko (tajam penuh wibawa) ketika ia sedang menempa keris dengan Paron Dhengkul (lutut sebagai ganti landasan besi tempa), dengan ageman/atribut yg masing masing mengirim pesan kepada manusia di bumi sebagai berikut.

1.     Sosok Mpu tersebut dengan model rambut Hagegelung Minangkoro cinandhi renggo (wus datan keweran dununging panembah marang sesembahan jati) artinya: sudah tidak ragu lagi akan penyatuan terhadap Tuhannya (manunggaling kawulo Gusti) atau bersatunya antara kehendak Yang Disembah dengan Yang Menyembah;
2.     Ditengah antara kedua alis memakai Pupuk Emas Rineka Jaroting Asem (budine ngrawit pindho jaroting asem). Maknanya: manusia harus halus budinya melebihi lembut dan rumitnya serat buah asam;
3.     Ditelinga menyelipkan Sumping Pudhak Sinumpet (pinter api api balilu). Maknanya: sebenarnya cerdas tapi tidak menampakkan kecerdasannya. Berbeda dengan kondisi mental pada umumnya manusia di jaman sekarang, seperti diingatkan dalam Serat Wedatama: Durung Besus Kasusu Kaselak Besus (belum bisa apa-apa, tapi terburu-buru ingin terlihat pintar);
4.     Ditangannya memakai Kelat Bau Rineka Balibar Manggis Binelah Tekan Kendhagane (Njobo njero podho). Maknanya: antara ucapan dan tindakan selaras (sabdo pandhito ratu), jika berucap bisa dipegang ucapannya, bukannya esuk tempe sore dhele (lain sekarang, lain nanti kenyataan ucapannya);
5.     Memakai kalung Sangsangan Nogo Bondo, dari arah kanan ke kiri (yen prang campuh mundure yen wus prapteng lampus). Maknanya: jika sudah mempunyai kesanggupan didalam sebuah perjuangan untuk bangsa, maka tidak akan pernah mundur sejengkalpun, mundur jika sudah berkalang ibu pertiwi;
6.     Memakai Kampuh Poleng Bang Bintulu, Abang, Ireng, Kuning, Putih (memakai kain poleng merah, hitam, kuning, putih). Maknanya: meletakkan nafsunya dibawah perut atau diluar tubuhnya, yaitu bukan ditunggangi oleh nafsu Amarah, Aluamah, Supiah, Mutmainah, akan tetapi mampu menyetir dan menunggangi 4 (empat) nafsu yg melekat pada setiap individu yang memang merupakan anasir 4 (empat) asal muasal badan wadag manusia. Adapun nafsu empat tadi selalu menyeret manusia kepada:
a.     Abang/Api kepada nafsu amarah, emosi;
b.     Ireng/Tanah kepada Aluamah, urusan perut;
c.     Kuning/Air kepada nafsu Supiah, urusan birahi; dan 
d.     Putih/Udara kepada nafsu Mutmainah, hal spiritual yang jika berlebihan (over) akan menimbulkan pamer (riya').

Begitu kentalnya spirit yang ditebarkan Hyang Tantra pada kehidupan umat manusia yang mampu diserap oleh leluhur kita. Utamanya para Mpu keris di jaman dahulu menitipkan pesan filosofisnya lewat maha karyanya, yaitu keris.

B. ROTASI WUKU PAHANG (Januari 2015)

Wuku Pahang rotasinya mulai dari tanggal 18 Januari (Minggu Paing) sampai dengan tanggal 24 Januari (Sabtu Pon) 2015,  selanjutnya diuraikan ringkas sebagai berikut.

Tanggal 18 Januari 2015 (Minggu Paing): Banyak sekali aral melintang, segala sesuatu akan menjadi sandungan. Tidak baik, banyak halangan.

Tanggal 19 Januari 2015 (Senin Pon): seyogyanya menghindari bepergian untuk urusan-urusan yang sangat penting, karena hasilnya tidak baik.

Tanggal 20 Januari 2015 (Selasa Wage): Hindari untuk bepergian yang sifatnya penting, banyak aral lintangan, dan dibelakang hari bisa mendatangkan celaka jika diterjang/dilanggar. Individu yang terlahir pada hari Selasa Wage, Wuku Pahang termasuk Lebu Katiyup Angin (perjuangan dan hasilnya tidak sebanding, cenderung merugi, banyak pengeluaran tidak terduga).

Tanggal 21 Januari 2015 (Rebo Kliwon): Sangat baik untuk memulai bercocok tanam, untuk sembarang kerja baik. Akan tetapi pantangan untuk Mantu/hajadan pengantin, karena naasnya tanggal (Bangas padewan). Individu yang terlahir pada hari Rabu Kliwon, wuku Pahang, termasuk menyandang Lebu Katiyup Angin.

Tanggal 22 Januari 2015 (Kamis Legi): Baik untuk memulai beternak unggas, seperti ayam, burung, itik dan lain sebagainya. Hari ini juga pantangan untuk Mantu/hajadan perkawinan.

Tanggal 23 Januari (Jumat Paing): Tidak baik untuk bepergian urusan penting. Tapi untuk memulai membongkar bangunan baik.

Tanggal 24 Januari 2015 (Sabtu pon): Sangat baik untuk pengobatan, berbagai macam penyakit akan lebih mudah mendapat obat atau penanganan yang cocok pada hari ini (bagi yang berkenan ikhtiar).

C. Pertautan Wuku Pahang dan Mangsa

Wuku Pahang pada kali ini masih dalam Pranoto Mongso Kapitu, yang candranya:
Wisa Kentar Ing Maruta" ing mongso iki akeh lelara panas lan weteng. Akeh kali banjir lan kali gedhe, wong sesawah wiwit tandur. Bayi lahir ing mongso iki watake Brangasan, seneng gawe larane atine liyan.

Artinya: Wisa (sejenis racun) yang berhamburan dibawa angin. Pada mongso ini banyak sakit panas/demam dan sakit perut. Banyak sungai banjir, angin besar/pohon tumbang dan tanah longsor. Petani mulai tanam. Bayi yang terlahir pada mongso ini sifatnya cenderung Brangasan/emosional dan cenderung membuat sakit hati sesama.

D. Teks Naratif Wuku Pahang

Wuku Pahang, dipengaruhi Dewa Bumi Batara Tantra. 
  • Kayunya Gendayakan, bisa menjadi perlindungan orang yang sedang sakit. 
  • Burungnya Cocak, wataknya sangat mudah mengeluarkan perkataan atau pendapat. Mempunyai jabatan/kedudukan. 
  • Gedungnya didepan, artinya terhadap hartanya ikhlas bila telah diberikan. 
  • Kata-katanya sering menimbulkan panas di telinga orang yang mendengarkan. 
  • Air disebelah kiri, punya kecenderungan untuk Serong. Punya sifat iri hati. 
  • Celakanya: kena aniaya. Selamatannya:  Nasi Gurih dengan lauk ingkung ayam putih mulus. Selawat 40 keteng. 
  • Kala/apesnya di Selatan menghadap utara. Selama tujuh hari didalam wuku Pahang dari hari Minggu hingga Sabtu menghindari perjalanan penting ke arah selatan.


Teks Asli:
Wuku Pahang, Dewane Hyang Batara Tantra. Peksa luwih pangucape. Angiwakaken banyu neng wuri. Remen pangiwo pambegkane. Amandhi Kris ligan, panas pangucape tur panasten. Gedhong malumah, luwih boros nanging lila ing dunyane. Kayu Gendhayakan, dadi pangaubane wong kawelas arsa lan wong minggat saking karya. Manuk Cocak, juweh wicarane. Lambange nuju pati. Tegese rada pakewuh pikire, watak para tantang, nanging rada kabrabean.

Candrane pulo katon katebihan, misuwur sabarange. Suci jaba, nanging jruning tyas angkuh kalangkung. Tansah prihatin. Bilahine kena kaniaya.  Tulak slamet ana sega wuduk dangdangan beras sepitrah. Iwak pitik mulus linembaran kuluban warna sawelas. Slawate sangang ketheng. Dungane Rosul. Pahang akeh manuk lengleng. Bilahine kena pasangan. Pangruwating bilahi jambu klampok satampah lan ambengane weton. Kang darbe wuku yen peteng atine nylametono weton pawukone. Kala ana kidul madhep mangalor.

[editor: anom s putra]

Sabtu, 10 Januari 2015

Profil Mpu Totok Brojodiningrat



Rekam Jejak Budaya

Mpu Totok Brojodiningrat
Padepokan Keris Brojodiningrat, Surakarta


Ketua dan pendiri Padepokan Keris "Brojodiningrat". Padepokan ini merupakan pengembangan dari Sanggar Tosan Aji "Sangkelat" yang didirikan pada tahun 1989 di daerah Surakarta. 

Padepokan keris "Brojodiningrat" memiliki 3 (tiga) Besalen keris, yaitu Besalen di Mojolaban, sebelah timur Bengawan Sala,  Besalen di Karang Pandan, Karang Anyar dan Besalen di Kartosura sebelah barat Surakarta.

Mpu Basuki Teguh Yuwana (kiri), Mpu Totok Brojodiningrat (tengah)
Erman Suparno (SNKI; kanan)

Aktivitas dalam Organisasi Tosan Aji
  1. Ketua Paguyuban Tosan Aji "Brojodiningrat" kabupaten Sukoharjo, Ketua "Boworoso Tosan Aji Sujatmoko" Surakarta.                   
  2. Pengurus Paguyuban pangrukti tosan aji / Pasupati, Surakarta.     
  3. Ketua Paguyuban "Mahening Suci" pelestarian Sendang/mata air, sumur tua.    
  4. Sesepuh Padepokan dan Museum keris "Brojobuwono" Karang anyar Jawa Tengah.     
  5. Sesepuh dan salah satu pendiri Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar (Aji Gasan) Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Aktivitas Konsultan dan Bisnis
  1. Konsultan mendeteksi Lokasi Tambang Batubara di Wilayah Sumatra, Kalimantan dan Lokasi Tambang Emas di wilayah Nusantara.      
  2. Direktur "Rinjani Kencono Rukmi" Gold Mining, Trading, General Contractor di Nusa Tenggara Barat.   
  3. Direktur "PT. Prima Buana Alami" Coal Mining, Trading, general Contraktor. 

Kegiatan di Bidang Budaya
  1. Penelusuran jejak para Mpu tempo dulu
  2. Penelitan dan mengumpulkan jenis-jenis pasir besi sebagai bahan keris dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan dan pulau lainnya di Indonesia.                   
  3. Menggali dan membedah/mengkaji Manuskrip dan Lontar yang khususnya berkenaan dengan kawruh Keris dan Pawukon.                    
  4. Di Museum Radya Pustaka pernah membantu Prof. Nancy Florida dari Amerika dalam menerjemahkan manuskrip Arab Pegon yg menggunakan bahasa jawa kina (kuno).
  5. Menjadi pemeran utama film dokumenter Mbabar Pusaka Keris versi Kawruh Mpu, untuk Prof. Duffan dari California State University pada tahun 2009.                          
  6. Membabar Keris untuk duta besar "Slovakia". Beliau datang langsung ke Padepokan.                
  7. Membabar keris untuk Gubernur Jawa Tengah Bpk. Bibit Waluyo dan diserahterimakan pada acara peresmian "Kertabrata" di Semarang, Jateng
  8. Mengajar mata kuliah Filsafat Jawa dan Tangguh keris di ISI Surakarta untuk Program Studi Keris. Memimpin Ritual Ruwat Bumi pada acara Grebeg Sudiroprajan di daerah Pasar Gede Solo (2015). 
  9. Aktif dalam mengembangkan studi keris dengan mengambil referensi Naskah Kawruh Mpu, Serat Paduwungan, Serat Banyu Bening, Serat Pangracutan, Babad Banjaran Sari, Babad Pengging Witaradyo, Suluk Tambang Raras, buku pameran duwung tahun 1958 di Paheman Radya pustaka dening Sang Maharsitama Panenbahan Hadiwijoyo, dan lain sebagainya.

Kegiatan Kolaborasi 
Bersama Padepokan Keris dan Museum "Brojobuwono" diantaranya:
  1. Mewakili Pemerintah RI pada Festival Budaya Asia Afrika, peragaan proses menempa keris.
  2. Memimpin Ritual Ruwat Bumi di Situs Kerajaan Pinang Sendawar, Kutai Barat, Kalimantan Timur
  3. Penelitian Mandau dan pembuatan Film Mandau untuk pendukung Pengusulan Mandau ditetapkan Pemerintah RI sebagai Warisan Budaya Nasional.                     
  4. Memimpin ritual "Umbul Montro Mbabar Pusaka Nuswantoro Gung" di lokasi Candi Brau, Trowulan, pada acara 721 tahun Mojopahit.                    
  5. Memimpin ritual "Umbul Montro Mbabar Keris Pusaka" untuk Wakil Presiden RI, Bapak Yusuf Kalla" di Candi Cetho, Karang Anyar, Jateng.
  6. Melakukan ruwat-pawukon di lokasi Padepokan Keris dan Museum Brojobuwono.

Suasana Hening, Ruwatan Pawukon di Bulan Purnama, Oktober Tahun 2014
Lokasi: Padepokan Keris dan Museum Brojobuwono, Karanganyar, Jawa Tengah



Minggu Wuku Julung Pujud, 11-17 Januari 2015: Tumbuhnya Generasi Paripurna


"Rotasi Wuku Julung Pujud, 11-17 Januari 2015"
Mpu Totok Brojodiningrat
Padepokan Keris Brojodiningrat Surakarta


Mpu Totok Brojodiningrat (baju hitam)
Peluncuran Buku "Kujang", Gedung Indonesia Menggugat, Bandung
Bersama Mpu Basuki Teguh Yuwana (sisi kiri) dan
Sri Mpu Darmapala Vajrapani dari Bali (Tengah)
A. Kisah Generasi Paripurna

Wuku Julung Pujud, dewa yg mempengaruhi adalah Batara Guritna. Dalam versi Redisutan, Batara Guritna adalah Spirit/jiwa dari Jabang Tetuka, Koconagoro, Purbaya, yang proses berkembang dan dewasanya digembleng di pusat pendadaran bernama Kawah Candradimuka.

Bathara Guritna, Simbol Wuku Julung Pujud

Kawah Candradimuka secara simbolik merupakan inti dari lelehan pijarnya magma untuk membentuk sebuah generasi baru yang mumpuni. Generasi baru ini mempunyai sikap mental yang gagah berani, tangguh, tanggon dan memiliki sifat tanggung jawab tinggi. Ibarat ber-otot kawat balung wesi (otot kawat, tulang besi), sungsum gegolo (sungsum inti nuklir). Sosok generasi yang mampu terbang menggapai langit lazuardi dan membelah mega-mega yang merangkak di cakrawala.

Tubuh generasi yang memancarkan medan energi dahsyat tiada tara untuk menetralisir panas dan curah derasnya air hujan, karena limambaran pusaka sakti berupa baju atau Kutang Antakusuma dan Caping Basunando. Bahkan sang generasi itu mampu melanglang buwana (dunia) dan segala medan, tanpa terdeteksi oleh radar lawan. Ibarat "Kayu aeng, Lemah sangar dadi towo", karena ia memiliki Kasut podo kacarmo, yaitu sepatu yang tercipta dari kulit penjaga bumi berwujud naga bernama Sang Hyang Ananta Kusuma.

Namun, generasi paripurna ini harus lebih awal gugur sebagai kusuma bangsa. Lantaran dijadikan tumbal atau tameng hidup oleh titisan Wisnu Batara. Ini terjadi dalam situasi langkah penyelamatan terhadap Arjuna dari senjata pamungkas yang bernama panah Kunta Wijayandanu. Senjata pamungkas itu dilepas oleh Surya Putra/Karna Basusena dalam perang suci antara Darma dengan Adarma di padang Kuru Kasetra nan angker.

Bathara Guritna telah mempersiapkan generasi berikutnya, putranya, yaitu Sasikirana. Ibarat persalinan atau melahirkan, sekecil apapun harus berdarah darah, maka Bathara Guritna itulah yang berdarah tumbal untuk menghantarkan Sang Sasikirana.

B. Pawukon Skala Harian

Tgl 11 Januari 2015 (Minggu Kliwon): Rahayu, menguntungkan untuk mengikat kerjasama, menjalin persaudaraan kian erat. Orang yang terlahir pada hari Minggu Kliwon wuku Julung Pujud ini termasuk Lebu Katiyup Angin (apa yg diperjuangkan hasilnya cenderung tidak sesuai atau muspra/sia sia).

Tanggal 12 Januari 2015 (Senen Legi): Baik untuk membebaskan orang yg terbelenggu, merekrut tenaga kerja bagus, untuk mencari jodoh cepat dapat. Akan tetapi Naasnya tanggal, hindari punya hajat mantu/perkawinan.

Tanggal 13 Januari 2015 (Selasa Paing): Untuk bepergian niaga baik. Njabung pusaka atau memasang perangkat pusaka seperti tombak dan keris. Orang yang terlahir pada hari Selasa Paing wuku Julung Pujud termasuk Satriya Wirang (dalam perjalanan hidupnya sering sekali mendapat malu baik karena perbuatannya sendiri maupun karena ulah orang lain).

Tanggal 14 Januari 2015 (Rabo Pon): baik untuk segala keperluan. Baik untuk njamasi pusaka seperti keris, tombak dan lain sebagainya, termasuk didalamnya untuk pasang warangka.

Tanggal 15 Januari 2015 (Kamis Wage): tidak baik untuk keperluan penting dalam segala hal, menghindari bepergian, banyak Sambikolo/halangan.

Tanggal 16 Januari 2015 (Jum'at Kliwon): Tidak baik untuk merencanakan sesuatu (planning) karena rencananya hanya akan membawa bencana. Naasnya/sialnya tanggal, hindari mantu atau hajadan perkawinan dan hajatan penting lainnya.

Tanggal 17 Januari 2015 (Sabtu Legi): Rahayu. Baik untuk Menanam modal, menyimpan padi dilumbung atau dilogistik, memulai usaha pangan dan sejenisnya.      

Individu yang terlahir pada kategori Lebu Katiyup Angin dan Satriyo Wirang, seyogyanya diruwat Pawukon untuk mentralisir energi negatif yg menyelimutinya.

C. Pranata Mangsa dan Wuku Julung Pujud

Di dalam Pranoto mongso Wuku Julung Pujud, pada bulan Januari ini masih didalam rotasi mongso Kapitu, candranya: "Wisa Kentar Ing Maruta".

Ing mongso iki akeh lelara panas lan weteng. Akeh kali banjir lan angin gedhe. Wong sesawah wiwit tandur. Bayi lair ing mongso iki watake Brangasan, seneng gawe lara atine liyan.

Artinya: racun atau sesuatu yg berbisa, berhambur dibawa angin. Banyak orang sakit panas dan sakit perut. Banyak bencana banjir dan angin ribut, tanah longsor. Para petani mulai tanam. Bayi yang terlahir didalam mongso ini wataknya cenderung Emosional dan mudah membuat sakit hati sesama.

Salah satu solusi spiritualitas yang diwariskan leluhur Nusantara adalah ruwatan pawukon terhadap bayi yang terlahir dalam situasi pranoto mongso kapitu, wuku Julung Pujud. Prasyarat simbolik untuk mengatasi karakter emosional dalam rotasi tersebut antara lain berupa ruwatan pawukon dengan tumpeng, seperti diuraikan dalam bagian narasi wuku Julung Pujud berikut ini.


D. Narasi Wuku Julung Pujud

Wuku Julung Pujud: dewanya Batara Guritno. Kayunya: Rembuyut, indah dalam pandangan mata, banyak orang mencarinya walau tidak berbunga. Burungnya: Emprit Tondang. Wataknya dekat dengan keberuntungan, menjadi buah bibir yang baik. Julung Pujud: Lengkowo (menyenangkan hati orang). Bilahi atau celakanya: Jika ditenung/diguna-guna. Wilujengan/selamatannya: Tumpeng dengan lauk daging ayam merah. Selawat: 50 keteng. Kala/apesnya berada di Barat laut menghadap tenggara. Disaat rotasi wuku Julung Pujud selama 7 (tujuh hari), mulai hari Minggu sampai Sabtu menghindari berjalan ke arah Barat laut.

Teks asli:

Wuku Julung Pujud: Dewa Hyang Bathara Guritna. Remen rame tur becik pocapane lan ana lungguhe lan ana kawiyasane. Tan darbe gedhong tan darbe toya. Kayu Rembuyut abagus warnane. Tanpo gondo saenggon enggon diupoyo. Manuk Prit johan asugih nanging geng kersane. Remit artine gunung ing ngarsane. Tandha geng kersane tur lumuh kaungkulan barang karepe. Lambanging teja lengkawa kukuwung, tegese blere abagus candrane baita ing laut. Ngalor ngidul nggennyo ngupoyo tedho, nanging tan kirang rijeki. Bilahine kateluh. Tulak slamet ana tumpeng dangdangan beras sepitrah. Iwakke pitik abang pinanggang, kuluban warna sanga. Slawate tigang dasa ketheng, dongane Bolo srewu. Julung Pujud keh lara sambarimpung. Bilahi winisaya. Pangruwating bilahi gedhang becici satundhun kang sinang, lan ambengan weton. Kang darbe wuku iki yen peteng atine nylametono nuju weton pawukone. Kala wuku neng Ler Kilen marep mangidul ngilen pitung ndina.


E. Keris dan Wuku Julung Pujud

Keris yang cocok bagi individu yang ber-Wuku Julung Pujud adalah keris keluk (Luk), yaitu dhapur Sabuk Inten, Sabuk Tampar, Carang Soka dan dhapur Pandawa Lare, Pandawa Cinarita.

Catatan Editor (Anom Surya Putra):

Dibawah ini terdapat uraian ringkas tentang perbandingan antara keris dhapur Sabuk Inten (Luk 11) dan Sangkelat (Luk 13). Dikutip dari Forum Diskusi Vikingsword pada http://www.vikingsword.com/vb/showthread.php?p=50028 

Almost every collector who collect Javanese kerises in Java, know this popular dhapur "sabuk inten" (diamond belted), with 11 luks. As popular as Nagasasra (mostly thirteen luks, with naga or dragon relief). For comparison, I show you the dhapur "sengkelat" (thirteen luks) with almost similar "ricikan" (details) -- only differed by luks number... (The sengkelat with Solonese hilt is from 21th century, and the Sabuk Inten with Yogyanese hilt supposed to be from Mataram era. Or say it, keris with Mataram style)

The wood of the "branggah" style sheath is quite rare. It is from "nagasari" wood (Messua ferrea Linn.). Nagasari tree, is believed, came from part of India. The name of origin is "nagakesara". Or maybe in Malay, you may call it as "penaga lilin, penaga putih or penaga suga. Correct me if I'm wrong...


Ganjawulung
Attached Images
      



Senin, 05 Januari 2015

Minggu Wuku Mandhasiya, 4-10 Januari 2015: Hindari Pecah-Belah dan "Provokasi", Teladani Wisanggeni

Mpu Totok Brojodiningrat;
Kirab Pusaka; Membawa Pusaka Keris
dalam ukuran panjang


Mpu Totok Brojodiningrat, Padepokan Keris BROJODININGRAT, Surakarta, menyatakan, watak Bathara Brahma akan berpengaruh terhadap suasana batin individu yang terlahir pada Wuku Mandhasiya (dilafalkan: Mondosiyo). Ia akan cenderung mudah memecah belah paksa hubungan harmonis, seperti yang dilakukan oleh Bathara Brahma kepada putrinya sendiri, Dewi Dersanala dengan Arjuna. 

Alkisah, sikap Brahma itu merupakan hasil hasutan Batari Durga. Hasutan/provokasi tersebut pada akhirnya membuahkan konspirasi yang berujung pada ke-wirang-an dengan munculnya bayi Ajaib yaitu Wisanggeni yang terlahir dari rahim seorang ibu yg didzolimi (Dewi Dresanala). Pada Wuku Mandhasiya, terjadi adu kekuatan antara kekuatan Bathari Durga dan kekuatan “api” (Bathara Brahma). 

Uraian berikut ini adalah hasil wawancara tulis dengan Mpu Totok Brojodiningrat yang mempertautkan pawukon (ilmu tentang wuku), pewayangan, keris dan karakter manusia “Wuku Mandhasiya”, bulan Januari 2015.


A. Pertautan Wuku Mandhasiya dan Pewayangan

Tanggal 4 Januari (Minggu Pon) sampai dengan tanggal 10 Januari (Sabtu Wage) 2015 masuk dalam kurun waktu Wuku Mandhasiya. Yang menaungi sifat wuku ini adalah Batara Brahma (Brama). Ia putra kedua Hyang Manikmaya dari permaisuri Dewi Uma (Umayi) dan berkahyangan/bersemayam di Argadahana.

Bathara Brahma, Wuku Mandhasiya

Dalam “karier/profesi” sebagai pengendali Agni/api (nafsu amarah), Batara Brahma pernah melakukan kesalahan fatal, memisahkan hubungan harmonis dua bongkah hati yang direkat manis madunya asmara, yaitu antara Dewi Dresanala, putri Batara Brahma sendiri dengan Lelananging Jagat, Sang Arjuna. Ini terjadi atas bujukan dan konspirasi kotor Hyang Batari Durga yangg mempunyai pamrih pribadi ingin mengawinkan Dewi Dresanala dengan salah satu putra sendiri yang bernama Dewa Srani.

Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah untuk menyuramkan ke-Moncer-an Pamor Sang Arjuna. Bahkan Batari Durga, lambang dari segala malapetaka itu, dengan bengisnya memaksa terjadinya pengguguran atas hasil buah cinta kasih Dewi Dresanala bersama Arjuna, dimana pada saat itu Dewi Dresanala sedang mengandung.

Namun yang terjadi, bukannya mampu melenyapkan benih sejati di rahim Dewi Dresanala, justru terjadi kejadian sebaliknya. Ada ungkapan bijak leluhur mengatakan, Kridhaning ati tan kuwawa mbedhah kuthaning pesthi, budi dayaning manungsa ora bisa ngungkuli garising kawasa (upaya hati tidak akan mampu menggapai dan menjebol pintu gerbang takdir, usaha manusia tidak akan mampu menyentuh garis batasan kekuasaan Sang Pencipta). Benih didalam rahim Dewi Dresanala bukannya lenyap, akan tetapi terlahir secara Adi-Kodrati. Walau usia jabang bayi prematur, ia terlahir dengan berbagai talenta yang luar biasa dan kesaktian yang ngedab-edabi.

Kebengisan Batari Durga berlanjut dengan menyiksa dan ingin menghancur-lumatkan bayi ajaib itu dengan melemparkannya ke dalam Kawah Candradimuka, tempat inti dari segala panasnya api. Batari Durga kelepyan (kehilangan wawasan kecerdasan) dan samasekali lupa bahwa jabang bayi tersebut sejatinya adalah cucu dari Batara Brahma sendiri sebagai penguasa Agni (api). Jabang bayi itu bukannya hancur lebur menjadi abu, tapi seketika menjelma wujud sebagai ksatriya yang ngedab-edabi kesaktiannya dan mumpuni, sasat wruh sak durunge winarah (seakan mengetahui segala peristiwa yang bakal terjadi dengan gamblang).

Tindakan tidak pantas dan tegel (tega; bhs Jawa) yang dilakukan Batara Brahma lantaran hasutan Batari Durga, bisa dimaknai seperti kawruh leluhurPertama, unsur Api/Agni dan berwarna merah adalah lambang nafsu Amarah. Kedua, posisinya di Selatan atau Paing dan Lungguh-nya (bertempat) di telinga. Ketiga, simbol karakter (a) sangat rawan dengan hasutan dan provokasi, (b) akan mudah terbakar dan bereaksi cepat ketika mendengar provokasi.

Tindakan grusa-grusu (keburu nafsu) Dewa Brahma karena hasutan Batari Durga itu justru membuatnya ke-wirang-an atau mendapat malu yang tiada tara. Tindakan semacam itu bukannya berhasil memisahkan cinta kasih dan memusnahkan bibit unggul dari hubungan keharmonisan cinta kasih, akan tetapi Dewi Dresanala dengan Arjuna kian terpupuk subur keharmonisannya. Benih unggul yang akan dihancurkan itu menjelma menjadi Sosok Ksatria paripurna kemampuannya yang bernama Wisanggeni. Makna dari “Wisanggeni” bisa juga diartikan sebagai orang yang sudah bisa memilah mana kata-kata yang penuh racun dan mana kata-kata yang membakar atau memprovokasi.

Sosok Wisanggeni tumbuh dan dewasa melalui tempaan kedzoliman konspiratif dari Batari Durga dan Batara Brahma. Dalam kondisi konspiratif, Wisanggeni masih mampu menunjukkan keluhuran budi dan pengorbanan nyata. Wisanggeni mengambil sikap lila ing donya legowo ing pati (merelakan jiwa raganya untuk mati) demi kejayaan Nusa bangsanya ketika menjadi syarat unggulnya para Pandawa dalam perang suci barata yuda. Dengan suka cita Wisanggeni menyediakan diri lebur jadi abu lewat api yang berkobar dari Mata-Ketiga Hyang Brahma yang sebenarnya masih kakeknya sendiri.

Ke-wirang-an (rasa malu) Batara Brahma dalam peristiwa ini, akan mewarnai pula kecenderungan bayi yang terlahir dalam hari-hari yang ada didalam Wuku Mondosiyo, yaitu menyandang kecenderungan Satriya Wirang (orang yang akan mendapatkan malu) dan Lebu Katiyup ing Angin (Upayanya membuahkan hal yang sia-sia).

B. Pertautan Wuku Mandhasiya dan Mangsa 

“Wuku Mondosiyo, dewane Hyang Batara Brahma, Rosa kras pambegane, panas branan, adhem parentahe pratondho prajurit. Tan darbe toya, gedhonge minep ing ngarsa, gemi ing arto. Kayu asem, dadi pangaubane wong kawelas arsa. Manukke Platuk bawang. Rosa budine tan saronto barang karepe. Mondosiyo Anggoro kasih kayu agung, tegese dadi pangauban. Dora patut akekadang, tan darbe umbul umbul.”

“Candrane watu item munggeng ing papreman lan wreksa geng pancere. Luwih sabar nanging yen nepsu nemeni. Bilahine kesiung lan kejailan. Tulak slamet ana sega ing ambengan dang dangan beras sepitrah kang abang, jangane bayem bang, iwak ayam abang, mongmonge kembang setaman abang. Slawate picis anyar kang putih 40 ketheng, dungane slamet pina. Mondosiyo tinilaring warih kang mina. Bilahine rinengon dening wong agung. Pangruwating bilahi jambu kluthuk satus iji lan ambengan wetonn slawate patang puluh ketheng. Kang darbe wuku yen peteng atine nylametana nuju pawukone.  Kolo wuku neng ngisor, yen prang ojo mudhun soko gunung.”

Artinya:
Mondosiyo dewanya Batara Brahma. Kayunya Asam, bisa untuk menjadi tempat berlindung bagi yang membutuhkan. Burungnya Platuk bawang, pekerja keras, banyak dipuji, ingin sekali menjadi orang yang dihormati. Mondosiyo Anggoro Kasih, maknanya adalah menjadi tempat berlindung, akan tetapi sering tidak bisa akur dengan saudara. Celakanya jika terkena bisa/racun taring. Sedekahnya nasi ambeng, daging ayam wulu abrit/bulu merah yg dibumbu pindhang, serta ditambahkan sego among among (nasi putih dengan lauk kuluban). Do'a slamet, Selawat uang yang baru sejumlah 40 ketheng.  Kolo posisi dibawah, menengadah ke atas. Dalam tujuh hari seyogyanya menghindari kegiatan memanjat.

Wuku Mondosiyo pada bulan Januari 2015 kali ini masih berada didalam rotasi Mangsa Kapitu. Candra-nya adalah "Wisa Kentar Ing Maruta".

Ing mongso iki akeh lelara panas lan weteng. Akeh Kali banjir lan angin gedhe. Wong sesawah wiwit tandur. Bayi lair ing mongso iki watake brangasan. Seneng gawe lara atine liyan. 

Artinya: Wisa, sesuatu yang berbisa dibawa angin. Pada waktu ini banyak orang sakit panas dan gangguan sakit perut. Banyak terdapat sungai banjir dan angin besar, tanah longsor. (Bencana pada unsur Bumi, geni/api, Banyu, Angin/di darat, di udara, di laut, bawah tanah). Para petani mulai memasuki musim tanam. Bayi yang terlahir pada mongso ini punya watak brangasan (emosional) dan cenderung menyakiti hati sesama.

Karakter harian dalam Wuku Mondosiya, dari Tanggal 04 Januari sampai dengan tanggal 10 Januari 2015 diuraikan berikut ini.

Tanggal 04 Januari 2015 (Minggu Pon): Tidak baik untuk bepergian urusan-urusan penting, cenderung tidak membuahkan hasil.

Tanggal 05 Januari 2015 (Senin Wage): Rahayu, baik untuk memasang jerat dan akan membawa hasil (jerat dalam artian luas pada sebuah kehidupan yang kompleks saat ini).

Tanggal 06 Januari 2015 (Selasa Kliwon): tidak baik, banyak halangan, waspada, baik sekali untuk tirakat, mulat sarira hangrasa wani atau intropeksi.

Tanggal 07 Januari 2015 (Rebo Legi): rahayu, untuk berdagang (kulakan) barang dagangan dan banyak beruntung. Baik untuk memulai membongkar bangunan yang sudah tidak sesuai lagi.

Tanggal 08 Januari 2015 (Kemis Paing): baik untuk berdagang (kulakan). Untuk urusan-urusan selain berdagang akan seperti Lebu Katiyub ing Angin (debu tertiup angin) sehingga apapun yang diupayakan cenderung kurang maksimal. Anak yang terlahir pada hari Kamis Paing yang Wuku-nya Mondosiyo, mempunyai pembawaan Lebu Katiyup ing Angin.

Tanggal 09 Januari 2015 (Jemuah Pon): cocok untuk mulai membangun kolam ikan atau tambak, memulai usaha, dan menjalin tali persaudaraan. Karakter bayi yang terlahir pada hari Jumat Pon Wuku Mondosiyo menyandang pembawaan Lebu Katiyup ing Angin (antara perjuangan dengan hasil yang didapat belum sebanding/imbang).

Tanggal 10 Januari (Setu Wage): Baik untuk mendatangi musuh, menang dalam peperangan. Sangaring Tanggal (pantang tuk hajatan mantu). Karakter bayi yang terlahir pada hari Sabtu Wage wuku Mondosiya adalah Satriya Wirang (dalam perjalanan hidup cenderung sering mendapatkan malu).

Untuk orang yang terlahir Satriya Wirang dan Lebu Katiyup ing Angin, di jaman dahulu, diadakan Ritual Ruwatan Pawukon. Tujuannya, untuk menetralisir energi negatif Satriya Wirang dan Lebu Katiyup ing Angin. Warisan budaya Ruwatan Pawukon ini masih dijumpai pada jaman sekarang ini, walau sudah amat langka.

C. Pertautan Wuku dan Keris

Wuku Mondosiyo keris yang lebih lebih cocok adalah: (a) Keris Leres (lurus; bhs Jawa) seperti dhapur Bethok, dhapur Kebo Lajer, dhapur Kebo Teki atau Kebo Teteki; (b)  sedangkan untuk keris Keluk (Luk) adalah Keris dhapur Sangkelat dan keris dhapur Pandhowo Lare, Pandhowo Cinarito.











Minggu Wuku Langkir [28 Desember 2014 - 3 Januari 2015] dan Tahun Baru 2015: "Aura" Bathara Kala


A. Sekilas Bathara Kala

Pertautan antara Wayang dan Pawukon (ilmu tentang Wuku; astrologi) amatlah unik. Mpu Totok Brojodiningrat (Padepokan Keris Sumur BROJODININGRAT, Surakarta) memberikan interpretasi yang menarik, utamanya berkaitan dengan fenomena Wuku Langkir yang menaungi akhir tahun 2014 sampai dengan awal tahun 2015.

Bathara Kala, Simbol Wuku Langkir

Wuku Langkir yang menaungi adalah Hyang Bathara Kala, terjadi dari “Kama Salah” (air mani yang tidak tersalurkan dengan semestinya). Ketika Sang Hyang Manikmaya bersama istrinya, Dewi Uma, nganglang jagad naik Lembu Andini, di atas Nusakambangan,lembayung senja sinarnya menerpa betis indahnya Dewi Uma. Hingga, Hyang Manikmaya “Katetangi Brantaning Manah” (menggigil dalam hasrat), saat itu pula ingin sekali diladeni hasratnya oleh Dewi Uma diatas punggung Lembu Andini. Akan tetapi sang Dewi Uma menolaknya, disamping malu melakukan hubungan intim di tempat terbuka, juga sedang diatas kendaraan,pamali/pantangan untuk bersenggama.

Gejolak birahi yang berbuncah-buncah tidak lagi mampu dibendung oleh Hyang Manikmaya. Akhirnya sang Kama (air mani) tumpah ruah jatuh kedalam air samudra. Maka, seketika itu air samudra bergolak hebat seakan tidak bersedia menampungKama Salah. Dalam waktu singkat Kama itu berubah wujud menjadi makhluk yang sangat Nggegrisi dan dengan cepat tumbuh besar, liar dan amat rakus, seakan hendak menelan seluruh isi bumi menjadi mangsanya. Dan Kama Salah itu diberi nama Bathara Kala.

Untuk mengendalikan kerakusan Bathara Kala, sebagai ayahnya, Hyang Manikmaya meminta anaknya untuk sungkem/menyembah. Seketika itu juga lidah dan taring Bathara Kala yang sangat berbisa itu dipotong oleh Hyang Manikmaya. Potongan lidah menjadi senjata ampuh, anak panah yang “Bedhornya Wulan Tumanggal” yaitu PASOPATI yang kelak menjadi miliki Arjuna. Potongan taring sebelah kiri menjadi keris ampuh KALADITE, pusaka Surya Putra (Karna). Taring kanan menjadi keris KOLONADHAH, keris ampuh yang menghantarkan Prabu Tremboko ke kasedan jati.

Keris KOLONADHAH menggores telapak kaki prabu Pandu hingga menghantarkannya pada kamoksan. Kemudian keris KOLONADHAH menjadi pusaka andalan Arjuna hingga diserahkan kepada Gatutkaca sebagai “kancing gelung” saat akan mengawini Pergiwa. Bathara Kala, pada pemerintahan prabu Jayabaya di Kadiri, pernah menjelma ke dunia sebagai Prabu Yaksadewa.

Berikut adalah ungkapan puitik penuh makna dari Wuku Langkir:
Kala, sarto nyokot jasade kang miyat giris. Candala wangkot budine. Murka keh larangane. Tan darbe banyu tan darbe gedhong, kayune ingas panas aten. Cemara sol tan kena ing ayuban, tur rame wicarane. Manuk gemak wadon prajurit pambegane, ber kawanen tan amawang ing wong. Tan ajrih ing sasami, tur karem panggawe luput. Tan darbe umbul-umbul. Barang kang miyarso cilik atine. Candrane gunung gumaludhug nanging tan mitayani. Bilahine durjono myang kakerengan. Tulak slamet ana sega wuduk dang-dangan beras sepitrah. Iwak wedhus lan iwak loh linambaran jangan kang pepak. Dongane slamet pina. Langkire andawani, tegese bilahi gone lawe prakara. Pangruwating bilahi “Bendho nem iji gluntung lan ambengan weton”. Slawate limang ketheng. Kang darbeni wuku yen peteng atine nylametana nuju weton pawukone. Kala aneng kidul wetan, pitung dina aja marani kala.

B. Amatan Wuku

Penghitungan Wuku Langkir, menurut Mpu Totok Brojodiningrat (Padepokan Keris BROJODININGRAT, Surakarta), melingkupi sepanjang tanggal 28 Desember 2014 sampai dengan 3 Januari 2015. Periode Wuku Langkir ini memasuki “Mongso Kapitu” dengan pencandraan sebagai berikut:
Wisa Kentar ing Maruta
Mongso iki akeh lelara panas lan weteng. Akeh kali banjir lan angin gedhe. Wong sesawah wiwit tandur. Bayi lair ing mongso iki watake brangasan, seneng gawe lara atine liyan.
Artinya, Wisa yang diterbangkan angin. Dalam periode Mongso ini banyak orang yang sakit panas dan sakit perut. Begitupula banyak sungai meluap, banjir, tanahlongsor dan angin besarOrang kerja di sawah dan memulai masa tanam. Bayi yang lahir pada Mongso ini, wataknya cenderung emosional dan melukai hati sesama.

28 Desember 2014, Minggu Legi
Rahayu, baik untuk memulai bercocok tanam, utamanya pula bagus untuk melakukan penanaman modal yang ada kaitannya dengan pangan.

29 Desember 2014, Senin Paing
Hari Sampar Wangke. Pantangan untuk (1) bersenggama; (2) memotong bambu dan sejenis pohon surian karena akan bubukan; (3) mantu dan hajatan.

30 Desember 2014, Selasa Pon
Rahayu, baik untuk bepergian urusan niaga/bisnis, banyak rejeki. Bayi yang lahir khusus pada hari ini cenderung banyak rejeki.

31 Desember 2014, Rebo Wage
Rahayu, baik sekali untuk melakukan ritual dan tirakat dalam kaitannya denganmulat sarira hangroso wani (introspeksi).

1 Januari 2015, Kemis Kliwon
Rahayu. Baik sekali untuk memulai sebuah kehidupan, memulai usaha ternak dan usaha pangan. Hari pertama pada tahun 2015 merupakan hari yang baik untuk memulai segala sesuatu tindakan yang mengarah kepada kehidupan baru.

2 Januari 2015, Jum’at Legi
Rahayu. Baik untuk urusan melamar dan mencari jodoh, menanam polo kabrungkah(palawija) dan usaha pertanian lainnya. Selain itu, disarankan untuk menjamasi pusaka.

3 Januari 2015, Sabtu Paing
Rahayu. Baik untuk melamar, mencari jodoh, menjalin kerjasama usaha, melamar pekerjaan dan membuat nota kesepakatan (MoU; Memorandum of Understanding).

C. Interpretasi

Akhir tahun 2014 merupakan sisa waktu yang penting untuk melakukan penguatan ketahanan pangan, baik pada level diri, keluarga dan skala nasional. Wuku Langkir dan pencandraan “Wisa Kentar ing Maruta” memberikan aspek perencanaan kedepan untuk memulai bisnis di bidang pangan. Hal ini memiliki relevansi yang tinggi ditengah kondisi bangsa yang sedang terancam dengan krisis beras. Apalagi jika beras Vietnam sudah mulai masuk ke Indonesia secara bebas dan mengalahkan daya beli masyarakat terhadap beras lokal (nusantara).

Sisi menarik lainnya adalah sinyalemen “Mongso Kapitu” untuk memperhatikan pola makan di akhir tahun 2014. Situasi pola makan yang berlebihan di saat liburan panjang akan berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh. Wajar kiranya jika tuntunan ilmu pawukon memberikan titik-tekan terhadap tanggal 31 Desember 2014 agar terdapat alokasi waktu untuk melakukan introspeksi.

Barulah pada keeseokan harinya, terhitung sejak tanggal 1 Januari 2015 sampai dengan 3 Januari 2015 untuk memulai usaha baru, membuka kehidupan baru dan merawat pusaka (keris dan tombak pusaka). Puncaknya adalah pada tanggal 3 Januari 2015, tiap individu mencapai kesepahaman antar pihak untuk kemajuan yang lebih progresif.
1419661087965047055
Tombak Dhapur Gunungan, Pamor Sulur Ringin. Koleksi: Anom S Putra
Karya: Mpu Basuki T Yuwana (Padepokan Keris BROJOBUWANA, Karanganyar, Jawa Tengah)

Sang bayi yang baru lahir pada akhir tahun, sebaiknya diperhitungkan metode asupan untuk kecerdasan emosionalnya. Howard Gardner, pencetus kecerdasan jamak (multiple intelligence), kiranya dapat difungsikan sebagai pelengkap analitik untuk kecerdasan sang bayi pada 4-5 tahun kedepan. Bayi yang terlahir pada Wuku Langkir, Mongso Kapitu, menuntut penataan kecerdasan inter-personal agar lebih mudah memahami orang lain. Salah satunya adalah melepaskan enerjinya ke ruang-ruang kecerdasan kinestetik melalui metode tactile (sentuhan), agar sang bayi teroptimalkan dalam mengekspresikan keseimbangan “aura” Kuning (air) dan Merah (api) dalam dirinya. Kecenderungan aura ini dapat kita lihat pada warna dominan dalam gambar “Bathara Kala” sebagai simbol Wuku Langkir.

Refleksi lainnya terhadap simbol Bathara Kala adalah simbol kehati-hatian terhadap sang waktu yang akan melumat seluruh usaha kita jika tidak peka terhadap fenomena alam seperti banjir, longsor dan sebagainya. Ajaran ilmu ketatanegaraan (Hasta Brata) setidaknya sudah mulai diperankan sedemikian rupa agar struktur pemerintahan era Jokowi-JK ini segera bergerak untuk mengantisipasi fenomena alam (banjir dan seterusnya) dan tercapainya suatu kesepakatan antar institusi pemerintahan untuk segera bekerja, bekerja…bekerja….* [anom]