WangSit Pawukon

Metafisika Waktu itu Bernama Pawukon

Membongkar Peta Batin Kuno Di dalam diri kita, terbentang sebuah "peta" batin yang unik. Peta ini adalah cerminan dari pola ...

Minggu, 26 Juli 2015

Minggu/Wuku Mandhasiya, 2-8 Agustus 2015: Kehati-hatian Mendaftar Pilkada, Momen Tepat untuk Perdamaian


Mpu Totok Brojodiningrat (kiri) mewakili para ketua/sesepuh suku Dayak Kaltim,
Tjahjo Kumolo (tengah), dan Bupati Kutai Barat (kanan)
 Saat penyerahan Mandau Pusaka yang di-babar (dibuat) Padepokan Brojobuwono
kepada Bp. Jokowi (diwakili oleh Tjahjo Kumolo), Tugu Proklamasi, Jakarta (2014)

Karakter Minggu/Wuku Mandhasiya

Wuku Mandhasiya (dibaca: Mondosiyo) minggu ini dipengaruhi Mongso Karo "Bantolo Rengko". Mangsane Lemah Nela, wit randu wiwit pradopo semi. Bayi lahir ing mongso iki watake Crobo.

Artinya: Banyak sawah tanahnya retak kekeringan karena terpanggang panas teriknya sang surya. Pohon randu belum beranjak penuh merontokkan daun daunnya, dibarengi dengan tanaman padi yang kekurangan air dibanyak titik sudut bumi pertiwi/gagal panen. Bayi yang terlahir pada mongso ini berwatak Ceroboh (sembrono).

Karakter Minggu/Wuku
Mandhasiya

Wuku Mondosiyo lama durasi dari tanggal 02 Agustus 2015 (Minggu Pon) ~ 08 Agustus 2015 (sabtu Wage) sebagai berikut.

Tanggal 02 Agustus 2015 (Minggu Pon): Bertepatan dengan Kolo Tinantang, tidak baik untuk melakukan perjalanan jauh.

Tanggal 03 Agustus 2015 (Senin Wage): Hari ini sangat baik untuk memasang jerat. Pelanggar hukum yang licinnya bagai belut putih akan sial (apes) dan mudah terjerat pada hari "Sanggar Waringin" ini.

Tanggal 04 Agustus 2015 (Selasa Kliwon): Hari ini Nuju Pati. Hati-hati segala aktifitas yang ada kaitannya dengan orang yang menjagokan diri menjadi wakil daerah (Kepala Daerah), akan banyak halangan yang menjadi "Pepalang" (hambatan serta kendala). Pada hari ini hanya cocok untuk Laku Tirakat atau prihatin serta mawas diri guna lebih hening (jernih sumur hati) langkah kedepannya.

Tanggal 05 Agustus 2015 (Rabo Legi): Rahayu, sangat baik untuk kulakan (membeli) barang dagangan. Baik untuk membongkar bangunan.

Tanggal 06 Agustus 2015 (Kamis Paing): Baik untuk Kulakan (membeli) barang dagangan. Untuk aktifitas lain seyogyanya lebih extra hati hati, karena hari ini adalah "Lebu Katiyup Angin" (debu yang tertiup angin). Apa yang dikerjakan atau diperjuangkan banyak muspra/sia-sia belaka bagaikan debu dimusim kemarau panjang yang diterbangkan angin lesus.

Tanggal 07 Agustus 2015 (Jumat Pon): Rahayu, sangat baik untuk memulai  membangun kolam ikan, usaha tambak ikan cenderung bagus hasilnya. Untuk kembali menjalin tali persaudaraan yang sempat terputus adalah moment yang sangat baik pada hari ini, akan sama-sama menguntungkan dan membawa manfaat bagi kedua belah pihak. Untuk kegiatan lainnya harap hati-hati, karena hari ini adalah "Lebu Katiyup Angin". Apa yg dikerjakan atau diperjuangkan cenderung sia-sia tanpa membawakan hasil seperti yang diharapkan.

Tanggal 08 Agustus 2015 (Sabtu Wage): Bagi yang merasa punya musuh adalah moment yang tepat untuk mendatangi dan klarifikasi untuk sebuah perdamaian, karena musuh akan merasa segan dan cenderung diam seribu bahasa pada hari ini (dengan kata lain: Takut). Sangat baik untuk mencari jodoh. Untuk pembicaraan yang ada kaitannya dengan prosesi perkawinan kedua belah pihak akan sama sama suka. Untuk aktifitas lainnya seyogyanya hati-hati. Karena hari ini adalah "Satriya Wirang" (mendapat malu besar/dibuat malu).

Karakter Individu Kelahiran Minggu/Wuku Mandhasiya

Bathara Brahma
Simbol Minggu/Wuku Mandhasiya

Wuku Mondosiyo: Dewa Bumi [Batara Brama/Api].
Kayunya: Asam, bisa untuk menjadi tempat perlindungan.
Burungnya: Platuk bawang. Gila kerja, suka dipuji, gila penghormatan.
Candra/Frasa simbolik: Mondosiyo Anggoro kasih. Artinya: Bisa menjadi pelindung, sulit untuk bisa Akur dengan saudaranya sendiri.
Celakanya: jika terkena taring atau siung.
Kolo/Apesnya: di Bawah menghadap ke Atas. Bagi yang terlahir wuku Mondosiyo dalam 1 (satu) minggu, dari tanggal 02 Agustus sampai dengan 08 Agustus 2015, agar menghindari kegiatan Panjat memanjat atau mendaki gunung, karena bisa celaka.

Keris yang cocok bagi orang berwuku Mondosiyo adalah:
  1. Keris dhapur Kebo Lajer, 
  2. keris dhapur Kebo Teki (Kebo Teteki), 
  3. keris dhapur Bethok, 
  4. keris dhapur Tebu Sauyun, 
  5. keris dhapur Sangkelat, 
  6. keris dhapur Pandawa.




Rabu, 22 Juli 2015

Minggu/Wuku Langkir, 26 Juli - 1 Agustus 2015: Pilihan waktu untuk Kebijakan Transmigrasi, Penjamasan Pusaka


Mpu Totok Brojodiningrat (didepan, dipayungi) memimpin ritual
Umbul Mantra Mbabar Pusaka Nuswantoro Gung
Candi Brau Trowulan, Peringatan 721 Tahun Majapahit


Kisah Simbolik Wuku Langkir


Senja. Kembang teratai putih berkemas menyembunyikan mekar kelopaknya, menandai terang bergantinya malam. Burung belibis berpisah dengan kekasihnya, ditingkah kegembiraan pepohonan dan rerambatan yang istirahat dari lelahnya seharian berlomba, berebut mencumbu sinarnya mentari.

Pada saat itu pula Dewi Uma istri Batara Guru penguasa Kahyangan nyidham kawoworan (ingin yg teramat sangat) tamasya bersama suami naik Lembu Andini, nganglang jagad membelah indahnya senja di angkasa raya. Sebagai suami yang penguasa Tribuwana, maka dikabulkanlah Pamothah (permintaan kurang lazim) sang istri. Walau sadar benar bahwa hari itu adalah jatuh pancasuda "Satriya Wirang" (mendapatkan malu yang besar).

Diatas Lembu Andini yang mengangkasa nampak jelas puncak puncak wukir/gunung. Seakan diiring lambaian cemara dari lereng gunung, kepak sayap burung merak yang pancawarna yang begitu indah mempesona. Ketika lentera raksasa yang merebahkan hangatnya di peraduan begitu terasa agung. Tiada habisnya keagungan karya Hyang Widhi bila hendak digambarkan. Ketika melintas diatas pulau Nusakambangan, semilir angin pawana jemarinya genit menyibakkan kain sutra Dewi Uma yang menerawang bagaikan rupa awan tipis terbentang menyelimuti bulan purnama.

Maka seketika terpampang pesona yg menggetarkan seluruh senar hati dibalik kain tipis Dewi Uma. Pahanya jenjang bagaikan buluh gading berkilau-kilau sampai betis, digamit cahaya lembayung senja nan manja. Ujung-ujung bulu lembut di betis sang Dewi Uma mampu membelah teratai hati Batara Guru hingga Gumregah Nandhang Kasmaran (seketika terbangun hasrat birahinya).

Bagaikan batin sang pengantin anyar menggigil mendayu dayu, menganyam lamunan cinta dalam jiwanya, mengawang awang dalam puncak rasa. Sungguh, hati Batara Guru bagaikan Pedupaan Timah yang meleleh dipanggang terik panasnya hasrat birahi yang maha dahsyat, ingin segera menuntaskan dirinya dalam Ulah Keharuman Cumbu rayu. Letak duduk Batara Guru dibelakang Dewi Uma kian mendekat ...dan kian merapat kedepan hingga bersentuhan kulit...dan membelai tubuh. Hasrat Batara Guru menggelegak mengalahkan panasnya dapur magma gunung merapi. Meradang dan panas, laksana dada perawan menyimpan cemburu.

Betapapun manis cumbu rayu dan kata kata yang Memanuhara (menghiba penuh cinta) dari Batara Guru yang begitu manis laksana endapan madu tawon liar hutan belantara, akan tetapi Dewi Uma tidak tergetar simpul-simpul tubuhnya untuk melayani suami dalam Ulah kridaning priya wanodya, karena pamali melakukan ditempat terbuka, apalagi diatas punggung Lembu (sapi) Andini.

Hasrat Batara Guru sudah tiada tertahankan lagi tuk dipasung, menggelegak dahsyat diantara tulang sulbi, menyemburlah lahar sperma Batara Guru tidak pada tempat Giri Kumolo (pintu gerbang rahim), akan tetapi jatuh disamudra luas. Benih atau Kama salah itu disebut "Sang Kendhang Gumulung", yaitu menjadi sepotong daging yang mampu membuat mendidih air samudera hinga menimbulkan Goro goro (huru hara yang luar biasa) di tribuwana.

Maka atas titah Batara Guru, para dewa diperintahkan untuk melenyapkan Sang Kendhang Gumulung dengan senjatanya masing masing:

  1. Hyang Brahma melepaskan senjata Surya Kantha. 
  2. Hyang Wisnu melepaskan senjata Cakra Baskara. 
  3. Hyang Bayu melepaskan senjata Gada Wesi Pulasari. 
  4. Hyang Indra melepaskan senjata Duduk. 
  5. Hyang Sambu melepaskan senjata Kolo Welang.  
  6. Hyang Panyarikan melepaskan senjata Kolo Rancang. 
  7. Hyang Pratanjala melepaskan senjata Karacan. 
  8. Hyang Surya melepaskan senjata Lukita sari. 
  9. Hyang Mahasekti melepaskan senjata Wastra Karacikan. 
  10. Hyang Yama melepaskan senjata Karareje. 
  11. Hyang Tamboro melepasakan senjata Wastra Wesi Akas. 
  12. Hyang Narada melepaskan senjata Nenggala.


Akan tetapi semua senjata pamungkas yang dilepas pada Kendhang Gumulung hancur meluluh menjadi organ tubuh, antara lain:
~ Senjata Brahma menjadi mata
~ Senjata Bayu menjadi Urat punggung
~ Senjata Indra menjadi tangan
~ Senjata Sambu menjadi Tulang Engsel
~ Senjata Panyarikan menjadi semua Urat
~ Senjata Pritanjala menjadi Rambut
~ Senjata Surya menjadi Betis
~ Senjata Mahasekti menjadi Jari
~ Senjata Temboro menjadi Sungsum
~ Senjata Narada menjadi Telapak kaki

Bathara Kala, Simbol Minggu/Wuku
Langkir
Kama salah yang sudah berujud sosok yang amat nggegirisi (mengerikan) itu keluar dari samudera berangkat ke Kahyangan menghadap Batara Guru yang sebenarnya adalah ayahnya.

Setelah menghadap Batara Guru dan para dewa, kemudian diterima sebagai anaknya, Batara Guru memberi pakaian dan senjata  Bedomo (gada), karena sang Kama salah termasuk golongan dewa maka rambutnya diparas dan diberi nama Batara Kala. Dan memotong lidah serta kedua taringnya yang sangat berbisa. Potongan lidah Batara Kala dicipta menjadi anak panah yang bedhornya Wulan Tumanggal (diberi nama Pasupati, kelak dianugerahkan kepada Arjuna ketika menjadi pertapa peparab* Begawan Ciptoning di wukir (gunung) Indrakila.

Taring kiri dicipta menjadi keris Kolodite yang kelak kemudian menjadi pusaka Adipati Karna. Potongan taring kanan dicipta menjadi keris bernama Kolonadah, kelak menjadi pusaka Arjuna.



Karakter Hari dalam Wuku Langkir

Wuku Langkir dalam minggu ini dipengaruhi oleh sifat Mongso Karo "Bantolo Rengko".
Durasi Wuku Langkir adalah tanggal 26 Juli 2015 (Minggu Legi) sampai dengan  1 Agustus 2015 (Sabtu Pon).


Karakter Hari dalam Minggu/Wuku
Langkir
Tanggal 26 Juli 2015 (Minggu Legi): Sangat baik untuk memulai bercocok tanam, cenderung mendulang panen yang menguntungkan. Juga baik untuk menanam modal dibidang pangan dan agrobisnis.

Tanggal 27 Juli 2015 (Senin Paing): Hari ini adalah Sampar Wangke (menyandung mayat). Seyogyanya tidak melakukan hubungan Sex. Jangan memotong/panen pohon bambu dan jenis pohon Surian atau yang bergetah, akan sangat mudah bubukan atau keropos karena dimakan sejenis hama thothor dan rayap. Jika bambu tersebut  dijadikan bangunan seperti usaha kandhang ayam maka akan mudah rusak dan ambruk. Tidak baik untuk melangsungkan nikahan/mantu. Jangan memulai membangun rumah, perhotelan, gedung perkantoran, tempat usaha dll, karena cenderung mendapat musibah keselamatan bagi penghuninya.

Tanggal 28 Juli 2015 (Selasa Pon): Baik untuk bepergian, untuk urusan bisnis baik. Berniaga akan banyak mendulang untung. Bayi yang terlahir pada hari ini banyak rejeki. Akan tetapi hati-hati, orang yang potensi berperkara akan sangat mudah kena tuduh pada hari ini.

Tanggal 29 Juli 2015 (Rabu Wage): Hari ini sangat baik untuk tirakat, energi yang didapat akan berlipat-lipat dari hasil tirakatnya dibandingkan dengan tirakat pada hari-hari lainnya. Waktu yang baik untuk bermawas diri.

Tanggal 30 Juli 2015 (Kamis Kliwon): Sangat baik untuk memulai membangun kehidupan, seperti mendaftar transmigrasi, memberangkatkan transmigrasi, memulai membuka lahan/ladang di tempat baru/lokasi transmigrasi. Baik untuk memulai usaha ternak, baik itu ternak berkaki empat maupun ternak berkaki dua. Untuk memulai usaha pangan juga baik.

Tanggal 31 Juli 2015 (Jumat Legi): Baik untuk melamar, baik untuk mencari jodoh/pasangan hidup. Tetapi tidak baik untuk melangsungkan Pernikahan atau punya hajad mantu, boyongan rumah dan lain sebagainya, karena hari ini Bangas Padewan. Untuk menanam tanaman pala kabrungkah atau palawija sangat baik. Memulai usaha pertanian juga baik. Hari ini sangat baik untuk menggauli pusaka/menjamasi pusaka tosan aji, seperti keris, tombak. Baik untuk mendapatkan/menyimpan keris, tombak dan pusaka tosan aji lainnya.

Tanggal 1 Agustus 2015 (Sabtu Pon): Baik untuk mendapatkan jodoh/pasangan hidup. Baik untuk melamar jodoh. Hari ini jika bertemu dengan teman masa lalu (Reuni) sangat potensi sekali terjadi hubungan asmara (Perasaan Lama Tak Kesampaian Kembali Bersemi). Akan tetapi segala langkah harus hati-hati, hari ini bertepatan Satriya Wirang (Mendapat malu besar atau dipermalukan).

Karakter Individu Terlahir Wuku Langkir


Wuku Langkir dewanya Batara Kala.
Kayunya: Cemara sol dan kayu Ingas. Disamping tidak bisa untuk menjadi pelindung juga sangat panas.
Burungnya: Gemak. Berani dan lancang. Buruk perangai dan tingkah lakunya sulit untuk dipercaya.
Langkir uripe sarwo oyod, artinya: Tidak mempedulikan lingkungan sekitar dan tidak mendengarkan masukan/nasehat yang baik.
Celakanya: Jika berkelahi dan kecurian.
Kolo/apes: berada di Tenggara menghadap Barat Laut. Selama 1 (satu) minggu individu yang berwuku Langkir sebaiknya tidak melakukan perjalanan jauh ke arah Barat Laut.

Keris yang cocok untuk individu yang terlahir dalam rotasi Wuku Langkir antara lain: Keris dapur Campur bawur, keris dapur Pudak Sategal, keris dapur Kebo Lajer, keris dapur Supono/Sempono Kinjeng.




----------------------
*Peparab: penyebutan nama untuk pertapa/resi/brhamana. Untuk prabu/ratu digunakan kata jejuluk; Ksatriya digunakan kata sesilih; Dewa digunakan kata bebisik; Raseksa digunakan kata preceko.  Contoh penggunaan: raja Amarta jejuluk prabu Yudistira. Satriya madukara sesilih raden Arjuna. Pendeta di Sokalima peparab Pendeta Durna. Dewa di Sidik pengudal-udal bebisik Batara Narada. Suatu kekayaan bangsa Indonesia, penyebutan nama sudah menandakan siapa yang dimaksudkan dari penyebutan tersebut.






Rabu, 15 Juli 2015

Minggu Wuku Kuningan, 19-25 Juli 2015: Hari Pantangan Menanam Tembakau, Hari Tepat untuk Mencari Modal Kerja

Sebagai Budayawan Pawukon dan Keris, Mpu Totok Brojodiningrat
berdiskusi dengan Fadli Zon (kolektor/pemerhati keris) tentang
identifikasi keris untuk penulisan buku Keris Minangkabau



Wuku Kuningan, kali ini masih terpengaruh oleh Mongso Kasa "Sotya Murca Ing Ngembanan". Lama durasi dari tanggal 19 Juli 2015 (Minggu Wage) ~ tanggal 25 Juli 2015 (Sabtu Kliwon).

Karakter Hari dalam Minggu/Wuku Kuningan

Tanggal 19 Juli 2015  (Minggu Wage): Hari ini Pantang untuk menanam Tembakau, cenderung merugi ketika panen nantinya. Bayi yang lahir pada hari ini banyak rejekinya.

Posisi "apes"/Kala dan
Karakter Hari dalam Minggu/Wuku
Kuningan
Tanggal 20 Juli 2015 (Senin Kliwon): Sangat bagus untuk membikin syarat ilmu pengasihan (dalam artian luas) orang yang semula benci akan menjadi asih/sayang. Untuk mengobati orang yang sakit sudah lama akan mudah mendapat kesembuhan. Untuk berniaga akan mendulang kesuksesan. Untuk kegiatan lain lain harus sangat hati hati, karena hari ini bertepatan Satriya Wirang (mendapatkan malu besar).

Tanggal 21 Juli 2015 (Selasa Legi): Hari ini Naasing Tanggal Bangas Padewan. Tidak baik untuk Mantu/perkawinan, Supitan, memulai membangun rumah, perkantoran, gedung, tempat usaha dan boyongan/pindahan rumah ataupun kantor. Akan tetapi untuk menagih hutang dan mencari kredit di Bank bagus, jika untuk modal usaha maka usahanya cenderung berkembang dan maju pesat.

Tanggal 22 Juli 2015 (Rabo Paing): Hari ini sangat baik untuk mencari orang hilang. Untuk melakukan ilmu Puter Giling (memanggil orang minggat) lebih mudah berhasil.

Tanggal 23 Juli 2015 (Kamis Pon): Tidak baik, untuk segala aktifitas dan kegiatan harap lebih berhati-hati. Lebih banyak mengalami kebuntuan dan mendapatkan kekecewaan di hati.

Tanggal 24 Juli 2015 (Jumat Wage): Pantang untuk melakukan hal yang penting, pernikahan, boyongan rumah. Untuk membangun gedung, pertokoan, tempat usaha ataupun membangun rumah, akan cepat mengalami kerusakan, sejenis musibah dan lain sebagainya. Untuk memasang Landheyan Tumbak dan Hulu keris sangat bagus. Untuk mendapatkan dan menyimpan pusaka tosan aji seperti Keris, tumbak dan pusaka-pusaka lainnya akan banyak memberi manfaat kepada pemegangnya.

Tanggal 25 Juli 2015 (Sabtu Kliwon): Rahayu. Baik untuk menagih hutang, menemui seseorang untuk mencari modal kerja, hasilnya baik.

Karakter Individu Kelahiran Minggu/Wuku Kuningan

Bathara Indra
Simbol Wuku Kuningan
Wuku Kuningan: Dewanya Batara Indra.
Kayunya: Wijayakusuma. Wajah: berparas menarik.
Burungnya: Urang urangan. Pandai mengatur ekonomi, mendahulukan yang lebih penting.
Wuku Kuningan Winuteja: Sering mengalah walau makan hatinya sendiri demi kebaikan.
Celakanya: jika di-amuk.
Kolo/apes: ada di Barat, menghadap di Timur. Bagi individu kelahiran minggu/wuku Kuningan, Dalam tujuh hari dari tanggal 19 Juli 2015 (Minggu Wage) ~ tanggal 25 Juli 2015 (Sabtu Kliwon) jangan melakukan perjalanan jauh/penting ke arah Barat.

Keris yang cocok untuk wuku Kuningan antara lain: Keris dapur Brojol, keris dapur Semar Tinandu, keris dapur Semar Pethak, keris dapur Supono/Sempono, keris dapur Rarasiduwa, keris dapur Pandawa.***




Sabtu, 11 Juli 2015

Minggu Wuku Galungan, 12-18 Juli 2015, Ekstra Hati-hati Bepergian Jauh (Mudik), Positif untuk Rekrutmen Tenaga Kerja

Mpu Totok Brojodiningrat (maestro Pawukon) bersama Almarhum Idris Sardi Sang maestro biola
di sebuah acara budaya di Library Fadli Zon (Jakarta)


Kisah Simbolik Wuku Galungan


Batara Kamajaya dianugerahi berparas elok dan sangat tampan. Ia adalah insan berwajah paling tampan di Tribuana (Jagad Mayapada, Madyapada, dan Arcapada ). Bersama istrinya Batari Ratih/Kamaratih, pasangan suami istri itu menjadi simbol abadi kerukunan suami istri, serta dewa cinta kasih di jagad raya. Mereka amat kondang rukun, saling mencintai, tidak pernah bertengkar, saling setia satu sama lain, dan hanya ada pelangi cemburu yang teramat tipis. Istilah pepatah jawa "Pindho mimi nedheng hamituna" (laksana binatang laut yang bernama mimi yang sedang hamaituna/bersetubuh).

Bathara Kamajaya,
Simbol Minggu/Wuku Galungan

Batara Kamajaya adalah putra Sang Hyang Ismaya/Semar dengan dewi Senggani. Batara Kamajaya bersinggasana pada tumpukan untaian bunga bunga mekar mewangi di Kahyangan Cakrakembang. Ia memiliki pusaka ampuh yaitu senjata pamungkas berupa panah yang bernama Kanjeng Kyai Ageng Pancawisya.

Batara Kamajaya pernah mengemban tugas dari Batara Guru rajanya Kahyangan untuk menganugerahkan wahyu Cakraningrat kepada putera Arjuna yang bernama Raden Abimanyu/Angkawijayan sebagai pasangan wahyu Widayat/hidayat yang diturunkan oleh Batari Ratih kepada Dewi Utari istri Abimanyu. Siapapun yang kadunungan/ketempatan kedua wahyu tersebut akan menurunkan raja-raja Gung binatara.

Suatu saat, keagungan Kahyangan Suralaya diserang oleh Bolo Bacingah/bala tentara raksasa dibawah panji kebesaran Sang Prabu Nilarudraka, yang memanfaatkan waktu dimana saat itu Batara Guru tidak ada ditempat karena sedang gentur tapa bratanya di puncak Gunung Kailasa. Para dewa tidak satupun yang mampu membendung amukan balatentara raksasa yang dipandegani oleh prabu Nilarudraka yang sakti mandraguna mumpuni aji jaya kawijayan, guno kasantikan. Beberapa dewa mengungsi dan menyusul dipertapaan Batara Guru, dan berusaha matek Aji Pameling untuk membangunkan Batara Guru dari tapa bratanya, namun gagal total semuanya.

Karena serbuan prabu Nilarudraka berniyat "Sungsang Buwono Balik" (menghancur leburkan Kahyangan), dan ini mengancam keibawaan Batara Guru dan keseimbangan Tribuana, lalu Batara Kamajaya mengambil inisiatif guna menyelamatkan Kahyangan. Diambilnya senjata pamungkas yaitu panah sakti Pancawisaya, yang jika dilepas dampaknya ngedap edapi, daya perbawanya akan langsung menghujam tepat pada jantung perasaan yang terdalam dan menggetarkan seluruh senar hati yang getar dan gemanya bagai "Brengenge Sadpada hangisep sarineng sekar" (kumandang sejuta lebah kasamaran yang berebut menghisap sari-sarinya bunga). Laksana dendang simfoni yang menawarkan manis madunya bercinta. Maka seketika itu Batara Guru Katetangi Brantaning Ati (terusik dengan dahsyat endapan magma panas birahinya) dan terbangun dari tapa bratanya karena ampuhnya panah asmara Pancawisaya.

Konon, bedhor (ujung) panah Pancawisaya di-babar/dicipta dari tosan aji wesi Mangambal, yang diambil dari unsur wesi Jagad Kulon (arah barat), dan dibabar oleh Mpu Ramayadi dan Mpu Anggonjali, "Nalika pande ono sak luhuring mego malang" (diatas awan putih berarak). Namun sungguh diluar dugaan, ternyata Batara Guru murka kepada Batara Kamajaya, karena tapa bratanya  saat itu pada tataran/level Heneng, Hening, Awas, Eling. Seketika dari mata ketiga Batara Guru, yaitu mata yang menghias di tengah tengah dahi, meluncur seleret/seberkas sinar ke biru-biruan Sak Sodo Lanang (sebesar lidi daun aren), membakar tubuh Kamajaya dan dalam waktu sekejap saja tubuh Kamajaya menjadi abu, berserak diterbangkan angin pawana.

Setelah Batara Kamajaya meninggal, Dewi Ratih hanyut dan timbul tenggelam dalam banjirnya airmata yang mengucur deras dari pelupuk matanya laksana hujan 40 hari 40 malam menyiram bumi tiada henti. Dengan tangan lemah memohon menghiba kepada Batara Guru agar sesegera mungkin ikut dibunuh supaya lekas bisa menyusul suaminya dan menyatu cinta dalam keabadian. Mendengar suara tangis Dewi Ratih yang mengisyaratkan ketulusan hati yang tidak mampu pisah dengan belahan sukmanya, luluhlah perasaan welas asih Batara Guru. Lalu dengan Tirta Amerta/Tirta Mahening Suci, yakni air penghidupan, Batara Kamajaya di-Ruwat elemen-elemen jatinya Kamajaya di Sendang Panguripan pada hari Sukra Abritan (Jumat Paing) Wuku Galungan untuk dihidupkan kembali karena cinta suci Dewi Ratih.

Kamajaya dan Kamaratih mendapatkan kehormatan tugas bersemayam di Singgasana jiwa laki laki dan wanita. Mematri dua bongkah logam hati yang berkilau pasangan kekasih, agar senantiasa indah abadi laksana kelopak mawar hutan yang merah merona dalam asuhan rembulan. Gelembung gelembung asmara selalu ditiupkan dalam hasrat cinta yang bergairah di setiap utas rambut pada tubuh suami isteri, …"bak untaian pesona ajaib Red Baron yang membara merahnya, bagai permata Bio Solar yang lembut dan sejuk tak ubahnya pantulan keagungan bulan purnama sidi, tebaran teduhnya ijo royo royo tak ubahnya hamparan kerikil batu Bacan di beranda paviliun hati para pecinta yang agung….."

Karakter Hari dalam Rotasi Minggu/Wuku Galungan

Wuku Galungan, lama durasi dari tanggal 12 Juli 2015 (Minggu Paing) ~ tanggal 18 Juli 2015 (Sabtu Pon).

Karakter Hari dalam Minggu/Wuku Galungan,
dan Posisi "Bathara Kala"

Tanggal 12 Juli 2015 (Minggu Paing): Tidak baik. Pantangan untuk melakukan sesuatu yang sangat penting, seperti Pernikahan/Punya hajad mantu, boyongan/pindahan rumah, pindahan kantor. Jangan memulai membangun rumah, membangun perhotelan, membangun gedung tempat usaha. Juga tidak baik untuk memulai tempat usaha. Karena hari ini bertepatan  Nuju Pati*.

*termasuk hari Golongan Leluri: Dhendan Kukudan: artinya hari yang sangat pantangan untuk segala keperluan penting. Pada hari minggu tersebut, terdapat karakter hari yang sangar yaitu Nuju Pati dan Dendhan Kukudan.

Tanggal 13 Juli 2015 (Senin Pon): Hindari melakukan sesuatu yang penting, seperti pernikahan, boyongan rumah, memulai membangun tempat usaha, perhotelan, perkantoran dan rumah tinggal. Hari ini termasuk Golongan Leluri: Dendhan Kukudan (Pantang untuk melakukan sesuatu yang penting)

Tanggal 14 Juli 2015 (Selasa Wage): Hari ini Lebu Katiyuping Angin dan Dhendan Kukudan. Jangan melakukan kegiatan yang sangat penting. Seperti Pernikahan, boyongan rumah, boyongan kantor, memulai membangun tempat usaha seperti perhotelan, tempat usaha dan rumah tinggal.

Tanggal 15 Juli 2015 (Rabu Kliwon): Hari ini adalah hari Syarik Agung (Tulah Besar) gawatnya kelewat lewat. Juga bertepatan Lebu Katiyup Angin dan Kolo Tinantang. Jangan untuk memulai suatu usaha, jangan memulai suatu pekerjaan penting, sebaiknya menghindari perjalanan jauh, banyak halangan besar dan rawan terjadi kecelakaan baik didarat laut dan udara, semua pihak harus lebih exstra hati-hati pada hari ini.

Tanggal 16 Juli 2015 (Kamis Legi): Sangat baik untuk menyimpan gabah, padi dan bahan makanan di logistik. Baik untuk menanam modal, baik untuk kongsi dagang, menjalin kerjasama urusan dagang sangat baik. Akan tetap untuk bepergian jauh tidak baik.

Tanggal 17 Juli 2015 (Jumat Paing): Rahayu untuk melakukan perjalanan jauh. Untuk membongkar bangunan baik, begitu juga untuk perniagaan banyak mendulang untung.

Tanggal 18 Juli 2015 (Sabtu Pon): Baik untuk mencari orang hilang, cenderung lebih mudah diketemukan. Baik untuk menjalankan ilmu Puter Giling (memanggil orang yang pergi tanpa meninggalkan pesan alias minggat). Untuk merekrut tenaga kerja baik.

Karakter Psikologis Individu "Galungan"

Wuku Galungan: simbol dewanya adalah dewa bumi (Batara Kamajaya).
Kayunya: Tangan, artinya lebih banyak mengerjakan sesuatu hal dengan tangannya.
Burungnya: Tido, keras hati. Menyukai miliknya sendiri walau itu buruk.
Wataknya: Dermawan dan cenderung boros. Tidak memiliki pendirian yang teguh.
Celakanya bila terlibat suatu perkelahian.
Kolo/apes: Berada di timur laut. Selama tujuh hari, individu terlahir dalam Wuku Galungan jangan melakukan perjalanan jauh ke arah Timur laut.

Keris untuk Individu "Galungan"

Keris yang cocok untuk wuku Galungan: keris dapur Jalak Sangu tumpeng, keris dapur Jalak Ngore, keris dapur Jalak Diding/Jinjing, keris dapur Jalak Tilam sari, keris dapur Condong Campur, keris dapur Panimbal.***




Sabtu, 04 Juli 2015

Minggu Wuku Sungsang, 5-11 Juli 2015, Larangan Menyerang Lawan Politik, Kemudahan Transaksi, Sesambungan dengan Leluhur

Mpu Totok Brojodiningrat dalam Acara Ritual
Merampungkan Keris untuk Joko Widodo dan Jusuf Kalla,
Padepokan Brojobuwono, Karanganyar Jawa Tengah


Kisah Simbolik Padewan 

Batara Guru atau Sang Hyang Manikmaya adalah penguasa Kahyangan sangat berkehendak (baca: meng-idam-idam-kan) mempunyai keturunan yang mumpuni/ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. Disamping juga ia berkehendak ada seorang putera yang sakti mandraguna ora tedhas tapak paluning pande sisaning gurinda (kebal lahir batin) yang pilih tanding untuk bisa memusnahkan Prabu Nilarudraka.

Prabu Nilarudraka adalah Sosok raja raksasa yang Merong kampuh jinggo mbondhan tanpo ratu (memberontak) ke kahyangan. Ia berhasrat mempersunting salah seorang bidadari yang amat kondang, sexy, dan menggairahkan bernama Batari Gagar mayang.

Batara Narada sebagai sesepuh dan penasehat utama kahyangan yang amat cerdik dan waskita, lalu merancang skenario briliant guna mewujudkan impian dan harapan Batara Guru agar mendapatkan seorang putera yang cerdas dan berpengetahuan seluas tujuh samudera yang tak bertepi. Batara Narada sangat paham bahwa Liman (gajah) membawa sifat dasar berdaya ingat sangat kuat, disamping volume otak yang amat besar melebihi binatang lain yang ada dibumi ini.

Batara Narada yang cerdik dan gudangnya ide itu berfikir: alangkah dahsyat dan hebatnya bila otak gajah yang amat besar itu di-cangkok dengan sel-sel otak manusia. Tentu saja kelak akan menjelma sosok penasehat utama dengan kombinasi otak limited yang super cerdas.

Maka diperintahkanlah kepada Batara Indra untuk menuntun tunggangannya yaitu Gajah Erawana dengan cara diam-diam dibelakang Dewi Uma (istri Batara Guru). Betapa kaget dan terkejut setengah mati Dewi Uma yang saat itu sedang mengandung ketika menoleh kebelakang melihat Gajah.
Bathara Ganesa, Simbol Padewan
Minggu Wuku Sungsang

Sambil memekik tertahan lari ketakutan dengan tanpa sadar tangannya cincing (menarik) kain jarit tinggi-tinggi. Hingga menyembul jelas betis indahnya mencorong bagaikan emas sinangling yang menawarkan hasrat pada gelora birahi lelaki. Sehingga ia lupa mengucapkan "Amit amit jabang bayi" seperti lumrahnya yang diucapkan para wanita mengandung ketika melihat perwujudan yang menakutkan atau menjijikkan baginya. Pengaruh keterkejutan sangat terpatri kuat dalam jiwa Dewi Uma.

Saat kandungan dalam rahim Dewi Uma genap hitungannya Nawa candra dasa ari (sembilan bulan sepuluh hari), seketika itu Myak langse gumbolo giri mijil kang jabang bayi (terlahir dari rahim bayi super sehat yang berbadan manusia berkepala gajah). Kelak anak yang terlahir ini lebih dikenal dengan nama Batara Ganesa.

Beberapa saat setelah lahir, Batara Ganesa dibawa oleh Batara Narada ke palagan (medan perang) untuk menandingi kesaktian Prabu Nilarudraka yang sedang mengamuk di kahyangan. Peperangan dua tokoh sakti itu efeknya sampai menimbulkan tsunami dan letusan gunung, sehingga tercipta lindu (gempa) yang menggoncangkan bumi seluruh isinya.

Akhirnya peperangan dimenangkan oleh Batara Ganesa. Binasalah raja raksasa berikut dengan para bala pasukannya tanpa meninggalkan sisa. Tumbal dan pertanda nyata lahirnya simbol dewa pengetahuan dan pendidikan.

Untuk selanjutnya batara Ganesa mendapat kepercayaan tugas memberi ilmu pengetahuan kepada umat manusia di tribuana (tiga dunia), diagungkan sebagai sumbernya segala ilmu, sebagai dewa pengatahuan, sastra dan penyebar ilmu.

 Karakter Hari dalam Minggu Wuku Sungsang

 Wuku Sungsang dibawah pengaruh Batara Ganesa. Durasi dalam minggu ini di mulai dari tanggal 05 Juli 2015 (Minggu Kliwon) ~ 11 Juli 2015 (Sabtu Legi).

Sifat wuku Sungsang dalam minggu ini dipengaruhi watak Mongso "Kasa": Baik untuk mencari kenalan baru menjalin persahabatan, berbesanan, bertransaksi dalam berniaga, bercocok tanam. Pantangan: Memanjat Pohon, Menebang Pohon, Menyerang Lawan Politik ataupun berperang.

Lukisan Pawukon
Karakter Hari dalam
Minggu/Wuku Sungsang
Tanggal 05 Juli 2015 (Minggu Kliwon): Hari ini hari Lebu Katiyuping Angin (debu yang tertiup angin). Hal-hal yang dikerjakan hasilnya cenderung sia sia tanpa hasil. Hindari bepergian jauh, karena rentan mendapat sakit fisik dan sakit hati serta mendapatkan malu.

Tanggal 06 Juli 2015 (Senin Legi): Rahayu. Baik untuk memasang tumbal gedung perkantoran, tempat usaha, rumah, perkebunan, sawah. Pada hari ini orang yang berniyat jahat dengan cara mengirim guna guna dan sejenisnya tidak kesampaian alias gagal total.

Tanggal 07 Juli 2015 (Selasa Paing): Hari ini bertepatan Satriya Wirang (mendapat malu besar). Tidak baik untuk segala kerja atau keperluan. Akan tetapi untuk menjala ikan baik, mencari buruan negara dan pasang jebakan juga baik.

Tanggal 08 Juli 2015 (Rabo Pon): Rahayu. Untuk bepergian mendapat hasil dan hatinya suka. Begitu juga dengan pekerjaan pekerjaan lainnya, hasilnya baik.

Tanggal 09 Juli 2015 (Kamis Wage): Hari ini wataknya Rahayu. Orang sangat mudah saling Mempercayai. Mengadakan perjanjian kerja sangat baik. Melakukan transaksi atau mas kawin/mahar baik. Bepergian selamat.

Tanggal 10 Juli 2015 (Jumat Kliwon): Rahayu. Sangat baik untuk mendoakan leluhur. Saat yang afdol untuk sesambungan dengan para Leluhur. Bayi yang terlahir pada hari ini banyak rejeki dan cenderung kaya raya.

Tanggal 11 Juli 2015 (Sabtu Legi): Hari ini seyogyanya berhati-hati untuk segala kegiatan atau beraktivitas.

Karakter Psikologis Invidividu Kelahiran Wuku Sungsang

Wuku Sungsang: Dewanya Batara Ganesa.
Pohonnya: Kayu tangan. Wataknya: lebih suka menggunakan tangannya kalau mengerjakan sesuatu.
Burungnya: Nuri. Sangat boros. Lila legowo jika hartanya diminta. Dalam hidupnya merasa tidak selalu dihinggapi kebahagiaan. Sangat ambisi untuk mendapatkan harta atau yang diinginkannya.
Sungsang mega mendung, artinya: mudah gelap mata dan gelap hati.
Celakanya: jika terkena besi.
Kolo/bahaya: Berada di Timur menghadap Barat. Individu yang terlahir atau berwuku Sungsang saat memasuki wuku Sungsang jangan bepergian jauh ke arah Timur.

Keris yang cocok bagi wuku Sungsang: Keris dapur Sabuk Inten, keris dapur Sabuk tampar, keris dapur Pandawa, keris dapur Carang soka.*