WangSit Pawukon

Metafisika Waktu itu Bernama Pawukon

Membongkar Peta Batin Kuno Di dalam diri kita, terbentang sebuah "peta" batin yang unik. Peta ini adalah cerminan dari pola ...

Senin, 26 September 2022

Wuku Sinta Senin Pon 24 Oktober 2022 Kolaborasi Bisnis Logam

Hari Senin tanggal 24 Oktober 2022 memasuki lorong waktu: Senin Pon Wuku Sinta. Apakah makna hari ini bagi orang yang kelahiran Senin Pon Wuku Sinta? Bagaimana orang yang tidak terlahir pada hari Senin Pon Wuku Sinta memaknai karakteristik hari ini guna melakukan refleksi-diri dan tindakan komunikatifnya?

~ Manuskrip Pawukon ~

Mitologi Zodiak atau Wuku Sinta 

Watugunung, gugur. Mitologi pawukon (astrology) kali ini akan membuka kembali pemaknaan atas rotasi waktu, karakter orang, dan karakter hariWuku Sinta adalah wuku (zodiac) pertama dalam siklus pawukon (astrology). Dalam urutan zodiak Yunani, Wuku Sinta setara dengan zodiak Aries yang menempati urutan pertama.

Masing-masing wuku juga mempunyai pasangan mitologis seperti halnya zodiak. Mitologi Yunani kuno menyatakan, zodiak Aries berpasangan dengan Dewa Ares, sedangkan mitologi pawukon memberikan gambar-gambar simbolik bahwa wuku Sinta berpasangan dengan Bathara Yamadipati. 

Untuk mengetahui tanggal kelahiran Anda termasuk dalam siklus Wuku Sinta atau tidak, Anda bisa menghitung sendiri melalui situs BabadBali.comData kelahiran Anda secara otomatis akan terkonversi pada wuku tertentu.

Dewi Sinta dan Bathara Yamadipati

Mitos Dewa Ares dan Bathara Yamadipati mempunyai kemiripan karakter yakni sama-sama berkarakter pencabut nyawa. Dewa Ares mencabut nyawa orang melalui pertempuran, sedangkan Bathara Yamadipati mencabut nyawa siapapun yang sudah tiba waktunya. 

Bathara Yamadipati

Dewa Ares adalah putra Zeus dan Hera. Dewa Ares adalah dewa perang dan merepresentasikan semangat juang dan kekerasan seseorang dalam pertempuran, sedangkan Bathara Yamadipati adalah bathara atau dewa pencabut nyawa, dewa penjaga neraka, dewa berwujud raksasa, dan merepresentasikan seseorang yang menghormati perempuan yang setia terhadap pasangannya (setelah Bathara Yamadipati mengalami kekecewaan dalam kisah cintanya di masa lalu):

"Bathara Yamadipati adalah putra dari Sang Hyang Ismaya (Semar) dengan Dewi Sanggani. Bathara Yamadipati merupakan raksasa dari golongan dewa yang dikenal dengan nama dewa kematian, hal itu dikarenakan Bathara Yamadipati mengemban tugas sebagai dewa pencabut nyawa dan dewa penjaga neraka. Bathara Yamadipati tinggal di Khayangan Hargadumilah bersama istrinya Dewi Mumpuni namun saat bertugas Bathara Yamadipati berada di Yamaloka (Neraka) dan dibantu oleh balatentaranya yaitu makhluk yang disebut Kingkara. Kingkara sendiri dalam pewayangan tidak digambarkan dalam rupa wayang, akan tetapi diceritakan Kingkara adalah balatentara penjaga neraka yang jumlahnya milyaran serta berfisik seperti siluman setengah manusia berwarna putih, bersayap, raut muka tanpa ekspresi dan yang paling gampang dikenali matanya hitam legam seluruhnya tanpa ada putih mata."   

"Di sisi lain, dewa kematian Batara Yamadipati memiliki kekecewaan terhadap kisah cintanya di masa lalu. Yamadipati kecewa dengan Dewi Mumpuni yang mengkhianati Yamadipati. Dewi Mumpuni berpaling dengan pemuda bernama Nagatatmala. Dikisahkan bahwa Bathara Guru memberi anugerah untuk Yamadipati berupa sebuah pernikahan dengan anaknya, Dewi Mumpuni. Oleh karenanya, Dewi Mumpuni tidak mencintai Yamadipati dan berpaling ke pemuda lain. Pengkhianatan yang dilakukan Dewi Mumpuni membuat Yamadipati berjanji akan memberikan anugerah bagi istri yang setia pada suaminya." (Diah Putri Maharani, Kajian Semiotika pada Pertunjukan Savitri oleh Teater Koma, 2022). 

Perbedaan simbol antara zodiak Aries dan wuku Sinta adalah zodiak Aries disimbolkan dengan Domba jantan berbulu emas, sedangkan wuku Sinta disimbolkan dengan wayang Dewi Sinta dan Bathara Yamadipat. Simbol zodiak dalam mitologi Yunani kuno berorientasi pada simbol hewan, sedangkan simbol wuku berorientasi pada kisah wayang purwa atau wayang kulit pertama dan tertua.

Pawukon secara otentik berawal dari gambar yang pernuh simbol. Gambar simbolik itu merangkum pola perhitungan matematika dan aritmatik tentang siklus hari yang ajeg, baik menurut kalender Jawa maupun kalender Bali. 

Perbedaannya adalah pemaknaan atas pawukon Jawa telah lepas dari ajaran agama, sepenuhnya bebas menjadi diskursus praktis, diskursus metafisika, diskursus wayang, dan bahkan diskursus filsafat. Sedangkan pawukon Bali atau disebut pewarigaan sangat terhubung dengan ajaran keagamaan Hindu-Bali, sehingga pawukon Bali (pewarigaan) digunakan dalam kehidupan upacara keagamaan dan kehidupan sehari-hari. 

Blog pawukon ini memilih untuk memaknai simbol-simbol gambar pawukon Jawa, merefleksikan pengetahuan wariga dari Bali, tetapi tidak terhubung mendalam dengan ajaran agama Hindu-Bali, sehingga simbol Bathara atau Dewa pada gambar pawukon Jawa ini lebih merujuk pada diskursus wayang daripada diskursus ajaran agama Hindu Bali. Dalam simbol pawukon dari Wuku Sinta Anda bisa menafsir posisi Dewi Sinta duduk-bersimpuh menghadap Bathara Yamadipati. 

Makna Simbol Zodiak atau Wuku Sinta

Tepat pada tanggal 23 Oktober ~ 29 Oktober 2022 lorong waktu telah membuka jalan baru bagi interaksi secara simbolik antara Dewi Sinta dan Bathara Yamadipati, yang mencipta alam bawah sadar manusia yang dipengaruhi oleh mitologi karakter Bathara.

Makna simbolis dari gambar Wuku Sinta tertuju pada dua alamat:

  • Pertama, simbol Wuku Sinta tertuju pada orang yang terlahir mulai dari hari Minggu Pahing sampai dengan Sabtu Pon yang berada dalam siklus Wuku Sinta
  • Kedua, simbol Wuku Sinta tertuju pada orang yang tertarik untuk merencanakan aktivitas tertentu setelah mempertimbangkan karakter hari dan menyadari pentingnya untuk melakukan tindakan komunikatif dengan orang lain.

Karakter Orang Kelahiran Senin Pon Wuku Sinta

Orang yang terlahir pada wuku Sinta cenderung mempunyai karakter seperti mitos Dewi Sinta yang dipengaruhi oleh karakter Bathara Yamadipati. 

Pertama, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat simbol Dewi Sinta duduk-bersimpuh di hadapan Bathara Yamadipati. Gambar ini menyiratkan secara simbolik bahwa karakter orang yang terlahir dalam rotasi wuku Sinta terserap dalam karakter Dewa kematian atau Dewa pencabut nyawa. Anda yang terlahir dalam rotasi wuku Sinta mempunyai kemampuan melalui ucapan maupun tindakan tertentu untuk untuk menghilangkan peluang, kesempatan, pekerjaan, posisi/kedudukan dan bahkan nyawa orang lain. Sikap Dewi Sinta duduk-bersimpuh di hadapan Bathara Yamadipati menyiratkan bahwa meskipun karakter Anda tega dan tegas seperti Bathara Yamadipati, karena pengalaman-psikis pernah ditolak cinta, maka alam bawah sadar Anda justru menghormati perempuan yang setia pada pasangannya.

Kedua, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat simbol pohon di belakang Dewi Sinta. Pohon ini dinamakan secara simbolis: kayu Gendhayakan. Entah sebutan apa yang tepat untuk pohon Gendhayakan ini dalam ilmu pengetahuan biologi dan botani. Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir pada Wuku Sinta mampu menjadi pelindung bagi orang yang sedang menderita penyakit. 

Ketiga, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat simbol burung gagak hitam. Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mempunyai kepekaan terhadap wangsit atau pertanda alam.

Keempat, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat posisi Bathara Yamadipati yang bersanding dengan bangunan gedung (gedhong) kecil di kakinya (pada versi gambar pawukon lain, gambar gedhong digantikan oleh gambar mirip cawan emas). Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta cenderung menunjukkan keberhasilan atas pencapaian kerja, aset atau harta lainnya.

Kelima, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat umbul-umbul yang dipegang oleh Bathara Yamadipati. Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mempunyai kemuliaan dalam hidupnya.

Keenam, gambar pawukon Wuku Sinta diinterpretasi secara populer dengan pemaknaan Wulan Karahinan. Situs Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memaknai istilah Wulan Karahinan sebagai bulan yang masih nampak di siang hari. Gambar Wuku Sinta nampak seolah berada dalam suasana siang hari dan Dewi Sinta bagaikan bulan di siang hari. Makna simboliknya adalah, orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mempunyai tekad yang kuat dan pantang menyerah (kenceng budine ora bisa sareh). Anda bisa mendengarkan lagu Gendhing Wulan Karahinan yang dibunyikan dengan menggunakan gangsa atau gamelan Kanjeng Kiai Madumurti pada situs Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ketujuh, gambar pawukon Wuku Sinta diinterpretasi secara populer dengan pemaknaan bilahine setengah tuwa. Istilah "bilahi" bersumber dari bahasa Sansekerta yang artinya "halangan" atau "aral melintang". Kisah mitologi Dewi Sinta pada usia paruh baya mengalami dilema. Dewi Sinta baru mengetahui bahwa Watugunung yang menjadi suaminya ternyata adalah anaknya sendiri yang pernah ia pukul memakai alat pengaduk nasi karena Watugunung hobinya makan (rakus) di masa kecil dan minggat dari rumah, setelah dipukul ibunya sendiri. Dewi Sinta berusaha keras menghentikan dilema perkawinan sedarah (incest) dengan anaknya, Watugunung, dengan cara meminta Watugunung menikah lagi dengan bidadari. Solusi yang ditawarkan Dewi Sinta pun dilematis karena Watugunung patuh melaksanakan permintaan poligami itu, tetapi tindakan Watugunung memicu perang dengan para Bathara. Makna simbolis secara keseluruhan adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mengalami krisis dalam kehidupan percintaan, setali tiga uang dengan kisah percintaan Bathara Yamadipati yang gagal menikahi anak Bathara Guru karena mungkin Bathara Yamadipati kurang ganteng dan glowing seperti artis Korea yang rajin operasi plastik.

Sang Pemangsa Waktu dan Karakter 7 (Tujuh) Hari Wuku Sinta

Masing-masing wuku (zodiak) dalam Pawukon (astrologi) mempunyai perlambang Bathara Kala sebagai Sang Pemangsa Waktu. Disingkat "Kala". Gambar pawukon Wuku Sinta menyediakan simbol Kala yang terletak di pojok kanan atas dalam gambar wuku. 

Di dalam gambar perjalanan hari Wuku Sinta terdapat simbol-simbol 7 (tujuh) hari dalam rotasi Wuku Sinta, dimulai berturut-turut sejak hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at dan Sabtu. 

Sang "Kala" dan Karakter Hari

Makna simbolik dari gambar Karakter Hari dapat menjadi inspirasi atau panduan merencanakan aktivitas oleh orang yang terlahir dalam Wuku Sinta maupun tidak, sedangkan gambar Sang Pemakan Waktu (gambar raksasa Bathara Kala) hanya digunakan oleh orang yang terlahir dalam Wuku Sinta sebagai pengingat dalam menjalani hari Minggu Pahing sampai dengan Sabtu Pon.

Posisi "Kala" berada di Timur LautOrang yang terlahir dalam Wuku Sinta mewaspadai perjalanan jauh ke arah Timur Laut. Renungkan ulang perjalanan jauh Anda. Gambar "Kala" dengan wajah biru tua, pada bagian pojok kanan atas, merupakan simbol arah perjalanan jauh yang sebaiknya dihindari atau ditunda selama tujuh hari berjalannya wuku (pitung dina aja marani prenahing kala). Ibarat Anda berjalan menemui simbol raksasa Bathara Kala berwajah biru. Teks pawukon menafsirkan simbol gambar ini dengan ungkapan "arah perjalanan yang dihindari adalah perjalanan menuju Timur Laut, menghadap Barat Daya" (jabung kala ana lor wetan madhep ngidul ngulon). 

Pesan-pesan simbolis ini mungkin belum tentu benar-secara-empirik, sehingga memerlukan interpretasi berdasar pengalaman hidup dari orang yang terlahir dalam Wuku Sinta. Pada tanggal 23-29 Oktober 2022 orang yang terlahir dalam Wuku Sinta disarankan menghindari perjalanan jauh menuju Timur Laut.

Karakter Hari Senin (Soma) Pon, 24 Oktober 2022

Simbol gambar dari hari Senin Pon adalah batu hitam (dangu) dan orang bertelanjang dada yang merasa malu atau dipermalukan (satriya wirang).

Makna untuk Orang yang terlahir dalam Wuku Sinta. Orang yang terlahir Senin Pon Wuku Sinta berkarakter keras sekeras batu hitam (dangu). Ia tegas dalam mengambil keputusan seperti memilah antara terang dan gelap. Selain itu, orang yang terlahir Senin Pon Wuku Sinta cenderung melakukan perbuatan yang berakibat ia merasa malu atau ia dipermalukan oleh orang lain meskipun perbuatannya biasa-biasa saja (disimbolkan oleh orang yang bertelanjang dada, atau satria wirang). Orang yang terlahir Senin Pon Wuku Sinta disarankan "mengambil keputusan tanpa dipermalukan". Mitos Dewi Sinta mengisyaratkan suatu sikap tegas dan berani bohong untuk memutus mata rantai perkawinan sedarah, tetapi ia merasa malu karena telah menjalani kehidupan itu bersama suami yang sekaligus anaknya, Watugunung.

Makna untuk Orang yang tidak terlahir dalam Wuku Sinta. Anda dapat mengambil keputusan dengan tegas, tetapi pikirkan juga bahwa ucapan dan tindakan Anda akan memperoleh rasa malu atau dipermalukan oleh orang lain, atau sebaliknya.

Rencana Aktivitas 

Pawukon Jawa dan Pawukon Bali dapat menjadi inspirasi bagi Anda untuk merencanakan aktivitas pada hari Senin Pon Wuku Sinta, tanggal 24 Oktober 2022.

  • Ekawara (Luang). Anda melakukan kegiatan refleksi-diri atas ucapan, tindakan dan perilaku selama ini. Lebih baik diam-hening sejenak daripada membicarakan kepribadian orang lain yang Anda nilai tidak bermoral.
  • Dwiwara (Pepet). Anda melakukan kegiatan instropeksi atau koreksi terhadap diri-sendiri. Selaraskan kata hati untuk melakukan persuasi terhadap orang lain, dan bukan menguasai orang lain.
  • Triwara (Beteng/Waya). Anda melakukan kegiatan koreksi terhadap pikiran di masa lalu, memperbaiki komunikasi dengan orang lain, mengutamakan kegiatan permusyawaratan, perdagangan dan penyelesaian utang-piutang. 
  • Caturwara (Laba; simbolnya: Bathara Indra/Endra atau Bathara Kanwa). Anda dapat bisnis logam dan bahan buatan dari unsur logam, tapi kurang tepat untuk mengolah peralatan dari logam karena bahannya akan mengeras dan sulit dibentuk.
  • Pancawara (Pon). Belajar dari karakter kambing, Anda menjelajah wilayah secara terbatas untuk mencari peluang bisnis perdagangan logam dan lainnya, tetapi kendalikan rasa amarah selama proses transaksi.
  • Sadwara (Satriya Wirang). Anda selalu menyadari rasa dipermalukan atas segala keputusan, sehingga Anda perlu melatih meditasi atau tarik napas ketika firasat akan dipermalukan itu muncul dalam pikiran. Anda yang aktif dalam bisnis pertanian dan peternakan, sebaiknya menunda pembelian bibit karena akan sulit berkembang sesuai keinginan.
  • Sangawara (Dangu). Mengambil keputusan dengan tegas atas berbagai masalah, situasi dan peluang yang ada.
  • Dasawara (Pati). Anda bergerak secara dinamis setelah melakukan refleksi-diri. 
  • Ingkel (Wong). Jangan menyakiti orang lain meskipun keputusan Anda tegas.
  • Jejepan (Taru). Hari ini mungkin Anda berpikir dan bertindak untuk keseimbangan lingkungan, antara lain, jangan menebang pohon.
  • Lintang (Kiriman). Anda bersikap ramah tamah, santun dan lakukan reframing atau membingkai kata-kata negatif dari orang lain menjadi kata-kata yang netral dari amarah.
  • Watek Madya - Watek Alit (Gajah-Lembu). Anda mungkin suka dengan kompetisi tetapi kompetisi itu bagian dari pekerjaan dan menghasilkan sesuatu (mitos lembu yang giat bekerja dan banyak menghasilkan susu).
  • Pancasuda (Sumur Sinaba). Anda mempunyai pengetahuan, ilmu pengetahuan, atau informasi yang mendalam, seperti sumur. Orang akan mencari Anda karena pendapat Anda selalu tepat, benar dan otentik.
  • Paarasan (Aras Tuding). Nyatakan sikap Anda untuk menerima penunjukan dalam hal pekerjaan, kepemimpinan organisasi, dan sebagai utusan/delegasi untuk menyelesaikan urusan tertentu.
  • Rakam (Demang Kandhuruwan). Bila Anda sedang mempunyai rencana pembentukan aturan, pembuatan kontrak/perjanjian dan/atau kesepakatan, maka hindari substansi hukum atau substansi perjanjian yang menimbulkan masalah baru.

Seluruh rencana aktivitas ini bebas untuk Anda refleksikan sendiri dan selanjutnya dikonkretkan dalam tindakan komunikatif bersama orang lain. Nalar pawukon mayoritas menghasilkan rencana-rencana usaha berskala Desa dan perdesaan karena ilmu pengetahuan astrologi-pawukon ini lahir dari nalar Desa. 

Salah satu pesan utama dari Wuku Sinta Minggu Pahing ini adalah Anda membuat rencana aktivitas untuk mengambil keputusan secara komunikatif dan tegas mengenai kolaborasi bisnis atau usaha logam antara Desa, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan dunia global.*




Wuku Sinta Minggu Pahing 23 Oktober 2022 Kolaborasi Bisnis Peternakan

Watugunung, gugur. Mitologi pawukon (astrology) kali ini akan membuka kembali pemaknaan atas rotasi waktu, karakter orang, dan karakter hari. Wuku Sinta adalah wuku (zodiac) pertama dalam siklus pawukon (astrology). Dalam urutan zodiak Yunani, Wuku Sinta setara dengan zodiak Aries yang menempati urutan pertama.

~ Manuskrip Pawukon ~

Masing-masing wuku juga mempunyai pasangan mitologis seperti halnya zodiak. Mitologi Yunani kuno menyatakan, zodiak Aries berpasangan dengan Dewa Ares, sedangkan mitologi pawukon memberikan gambar-gambar simbolik bahwa wuku Sinta berpasangan dengan Bathara Yamadipati. 

Untuk mengetahui tanggal kelahiran Anda termasuk dalam siklus Wuku Sinta atau tidak, Anda bisa menghitung sendiri melalui situs BabadBali.comData kelahiran Anda secara otomatis akan terkonversi pada wuku tertentu. 

Mitos Dewa Ares dan Bathara Yamadipati mempunyai kemiripan karakter yakni sama-sama berkarakter pencabut nyawa. Dewa Ares mencabut nyawa orang melalui pertempuran, sedangkan Bathara Yamadipati mencabut nyawa siapapun yang sudah tiba waktunya. 

Bathara Yamadipati

Dewa Ares adalah putra Zeus dan Hera. Dewa Ares adalah dewa perang dan merepresentasikan semangat juang dan kekerasan seseorang dalam pertempuran, sedangkan Bathara Yamadipati adalah bathara atau dewa pencabut nyawa, dewa penjaga neraka, dewa berwujud raksasa, dan merepresentasikan seseorang yang menghormati perempuan yang setia terhadap pasangannya (setelah Bathara Yamadipati mengalami kekecewaan dalam kisah cintanya di masa lalu).

"Bathara Yamadipati adalah putra dari Sang Hyang Ismaya (Semar) dengan Dewi Sanggani. Bathara Yamadipati merupakan raksasa dari golongan dewa yang dikenal dengan nama dewa kematian, hal itu dikarenakan Bathara Yamadipati mengemban tugas sebagai dewa pencabut nyawa dan dewa penjaga neraka. Bathara Yamadipati tinggal di Khayangan Hargadumilah bersama istrinya Dewi Mumpuni namun saat bertugas Bathara Yamadipati berada di Yamaloka (Neraka) dan dibantu oleh balatentaranya yaitu makhluk yang disebut Kingkara. Kingkara sendiri dalam pewayangan tidak digambarkan dalam rupa wayang, akan tetapi diceritakan Kingkara adalah balatentara penjaga neraka yang jumlahnya milyaran serta berfisik seperti siluman setengah manusia berwarna putih, bersayap, raut muka tanpa ekspresi dan yang paling gampang dikenali matanya hitam legam seluruhnya tanpa ada putih mata."   

"Di sisi lain, dewa kematian Batara Yamadipati memiliki kekecewaan terhadap kisah cintanya di masa lalu. Yamadipati kecewa dengan Dewi Mumpuni yang mengkhianati Yamadipati. Dewi Mumpuni berpaling dengan pemuda bernama Nagatatmala. Dikisahkan bahwa Bathara Guru memberi anugerah untuk Yamadipati berupa sebuah pernikahan dengan anaknya, Dewi Mumpuni. Oleh karenanya, Dewi Mumpuni tidak mencintai Yamadipati dan berpaling ke pemuda lain. Pengkhianatan yang dilakukan Dewi Mumpuni membuat Yamadipati berjanji akan memberikan anugerah bagi istri yang setia pada suaminya." (Diah Putri Maharani, Kajian Semiotika pada Pertunjukan Savitri oleh Teater Koma, 2022). 

Perbedaan simbol antara zodiak Aries dan wuku Sinta adalah zodiak Aries disimbolkan dengan Domba jantan berbulu emas, sedangkan wuku Sinta disimbolkan dengan wayang Dewi Sinta dan Bathara Yamadipat. Simbol zodiak dalam mitologi Yunani kuno berorientasi pada simbol hewan, sedangkan simbol wuku berorientasi pada kisah wayang purwa atau wayang kulit pertama dan tertua.

Pawukon secara otentik berawal dari gambar yang pernuh simbol. Gambar simbolik itu merangkum pola perhitungan matematika dan aritmatik tentang siklus hari yang ajeg, baik menurut kalender Jawa maupun kalender Bali. 

Perbedaannya adalah pemaknaan atas pawukon Jawa telah lepas dari ajaran agama, sepenuhnya bebas menjadi diskursus praktis, diskursus metafisika, diskursus wayang, dan bahkan diskursus filsafat. Sedangkan pawukon Bali atau disebut pewarigaan sangat terhubung dengan ajaran keagamaan Hindu-Bali, sehingga pawukon Bali (pewarigaan) digunakan dalam kehidupan upacara keagamaan dan kehidupan sehari-hari. 

Blog pawukon ini memilih untuk memaknai simbol-simbol gambar pawukon Jawa, merefleksikan pengetahuan wariga dari Bali, tetapi tidak terhubung mendalam dengan ajaran agama Hindu-Bali, sehingga simbol Bathara atau Dewa pada gambar pawukon Jawa ini lebih merujuk pada diskursus wayang daripada diskursus ajaran agama Hindu Bali. Dalam simbol pawukon dari Wuku Sinta Anda bisa menafsir posisi Dewi Sinta duduk-bersimpuh menghadap Bathara Yamadipati. 

Makna Simbol Zodiak atau Wuku Sinta

Tepat pada tanggal 23 Oktober ~ 29 Oktober 2022 lorong waktu telah membuka jalan baru bagi interaksi secara simbolik antara Dewi Sinta dan Bathara Yamadipati, yang mencipta alam bawah sadar manusia yang dipengaruhi oleh mitologi karakter Bathara.

Makna simbolis dari gambar Wuku Sinta tertuju pada dua alamat:

  • Pertama, simbol Wuku Sinta tertuju pada orang yang terlahir mulai dari hari Minggu Pahing sampai dengan Sabtu Pon yang berada dalam siklus Wuku Sinta
  • Kedua, simbol Wuku Sinta tertuju pada orang yang tertarik untuk merencanakan aktivitas tertentu setelah mempertimbangkan karakter hari dan menyadari pentingnya untuk melakukan tindakan komunikatif dengan orang lain.

Karakter Orang Kelahiran Zodiak atau Wuku Sinta

Orang yang terlahir pada wuku Sinta cenderung mempunyai karakter seperti mitos Dewi Sinta yang dipengaruhi oleh karakter Bathara Yamadipati. 

Pertama, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat simbol Dewi Sinta duduk-bersimpuh di hadapan Bathara Yamadipati. Gambar ini menyiratkan secara simbolik bahwa karakter orang yang terlahir dalam rotasi wuku Sinta terserap dalam karakter Dewa kematian atau Dewa pencabut nyawa. Anda yang terlahir dalam rotasi wuku Sinta mempunyai kemampuan melalui ucapan maupun tindakan tertentu untuk untuk menghilangkan peluang, kesempatan, pekerjaan, posisi/kedudukan dan bahkan nyawa orang lain. Sikap Dewi Sinta duduk-bersimpuh di hadapan Bathara Yamadipati menyiratkan bahwa meskipun karakter Anda tega dan tegas seperti Bathara Yamadipati, karena pengalaman-psikis pernah ditolak cinta, maka alam bawah sadar Anda justru menghormati perempuan yang setia pada pasangannya.

Kedua, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat simbol pohon di belakang Dewi Sinta. Pohon ini dinamakan secara simbolis: kayu Gendhayakan. Entah sebutan apa yang tepat untuk pohon Gendhayakan ini dalam ilmu pengetahuan biologi dan botani. Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir pada Wuku Sinta mampu menjadi pelindung bagi orang yang sedang menderita penyakit. 

Ketiga, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat simbol burung gagak hitam. Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mempunyai kepekaan terhadap wangsit atau pertanda alam.  

Dewi Sinta dan Bathara Yamadipati

Keempat, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat posisi Bathara Yamadipati yang bersanding dengan bangunan gedung (gedhong) kecil di kakinya (pada versi gambar pawukon lain, gambar gedhong digantikan oleh gambar mirip cawan emas). Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta cenderung menunjukkan keberhasilan atas pencapaian kerja, aset atau harta lainnya.

Kelima, pada gambar pawukon Wuku Sinta terdapat umbul-umbul yang dipegang oleh Bathara Yamadipati. Makna simbolisnya adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mempunyai kemuliaan dalam hidupnya.

Keenam, gambar pawukon Wuku Sinta diinterpretasi secara populer dengan pemaknaan Wulan Karahinan. Situs Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat memaknai istilah Wulan Karahinan sebagai bulan yang masih nampak di siang hari. Gambar Wuku Sinta nampak seolah berada dalam suasana siang hari dan Dewi Sinta bagaikan bulan di siang hari. Makna simboliknya adalah, orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mempunyai tekad yang kuat dan pantang menyerah (kenceng budine ora bisa sareh). Anda bisa mendengarkan lagu Gendhing Wulan Karahinan yang dibunyikan dengan menggunakan gangsa atau gamelan Kanjeng Kiai Madumurti pada situs Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ketujuh, gambar pawukon Wuku Sinta diinterpretasi secara populer dengan pemaknaan bilahine setengah tuwa. Istilah "bilahi" bersumber dari bahasa Sansekerta yang artinya "halangan" atau "aral melintang". Kisah mitologi Dewi Sinta pada usia paruh baya mengalami dilema. Dewi Sinta baru mengetahui bahwa Watugunung yang menjadi suaminya ternyata adalah anaknya sendiri yang pernah ia pukul memakai alat pengaduk nasi karena Watugunung hobinya makan (rakus) di masa kecil dan minggat dari rumah, setelah dipukul ibunya sendiri. Dewi Sinta berusaha keras menghentikan dilema perkawinan sedarah (incest) dengan anaknya, Watugunung, dengan cara meminta Watugunung menikah lagi dengan bidadari. Solusi yang ditawarkan Dewi Sinta pun dilematis karena Watugunung patuh melaksanakan permintaan poligami itu, tetapi tindakan Watugunung memicu perang dengan para Bathara. Makna simbolis secara keseluruhan adalah orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mengalami krisis dalam kehidupan percintaan, setali tiga uang dengan kisah percintaan Bathara Yamadipati yang gagal menikahi anak Bathara Guru karena mungkin Bathara Yamadipati kurang ganteng dan glowing seperti artis Korea yang rajin operasi plastik.

Sang Pemangsa Waktu dan Karakter 7 (Tujuh) Hari Wuku Sinta

Masing-masing wuku (zodiak) dalam Pawukon (astrologi) mempunyai perlambang Bathara Kala sebagai Sang Pemangsa Waktu. Disingkat "Kala". Gambar pawukon Wuku Sinta menyediakan simbol Kala yang terletak di pojok kanan atas dalam gambar wuku. 

Di dalam gambar perjalanan hari Wuku Sinta terdapat simbol-simbol 7 (tujuh) hari dalam rotasi Wuku Sinta, dimulai berturut-turut sejak hari Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at dan Sabtu. 

Sang "Kala" dan Karakter Hari

Makna simbolik dari gambar Karakter Hari dapat menjadi inspirasi atau panduan merencanakan aktivitas oleh orang yang terlahir dalam Wuku Sinta maupun tidak, sedangkan gambar Sang Pemakan Waktu (gambar raksasa Bathara Kala) hanya digunakan oleh orang yang terlahir dalam Wuku Sinta sebagai pengingat dalam menjalani hari Minggu Pahing sampai dengan Sabtu Pon.

Posisi "Kala" berada di Timur Laut. Orang yang terlahir dalam Wuku Sinta mewaspadai perjalanan jauh ke arah Timur Laut. Renungkan ulang perjalanan jauh Anda. Gambar "Kala" dengan wajah biru tua, pada bagian pojok kanan atas, merupakan simbol arah perjalanan jauh yang sebaiknya dihindari atau ditunda selama tujuh hari berjalannya wuku (pitung dina aja marani prenahing kala). Ibarat Anda berjalan menemui simbol raksasa Bathara Kala berwajah biru. Teks pawukon menafsirkan simbol gambar ini dengan ungkapan "arah perjalanan yang dihindari adalah perjalanan menuju Timur Laut, menghadap Barat Daya" (jabung kala ana lor wetan madhep ngidul ngulon). 

Pesan-pesan simbolis ini mungkin belum tentu benar-secara-empirik, sehingga memerlukan interpretasi berdasar pengalaman hidup dari orang yang terlahir dalam Wuku Sinta. Pada tanggal 23-29 Oktober 2022 orang yang terlahir dalam Wuku Sinta disarankan menghindari perjalanan jauh menuju Timur Laut.

Karakter Hari Minggu Pahing, 23 Oktober 2022

Simbol gambar dari hari Minggu Pahing adalah batu hitam (dangu) dan tangkai daun (tungle).

Makna untuk Orang yang terlahir dalam Wuku Sinta. Orang yang terlahir Minggu Pahing Wuku Sinta berkarakter keras sekeras batu hitam (dangu). Ia tegas dalam mengambil keputusan seperti memilah antara terang dan gelap. Selain itu, orang yang terlahir Minggu Pahing Wuku Sinta cenderung mungkin melakukan kebohongan (disimbolkan oleh tangkai daun atau tungle), entah bohong demi kebaikan atau menutupi suatu peristiwa, sehingga orang yang terlahir Minggu Pahing Wuku Sinta disarankan bijak dalam berpikir, berkata dan bertindak. Karena hasil dari kebohongan tidak akan berumur lama dan traumatis ketika mengingat kebohongan itu. Mitos Dewi Sinta mengisyaratkan suatu sikap tegas dan berani bohong untuk memutus mata rantai perkawinan sedarah, dan siap memasuki nirwana menghadap Bathara Yamadipati yang akan tegas mencabut nyawanya. 

Makna untuk Orang yang tidak terlahir dalam Wuku Sinta. Anda dapat mengambil keputusan dengan tegas, kebohongan hanya dilakukan sementara untuk menjalani kebaikan.

Rencana Aktivitas 

Pawukon Jawa dan Pawukon Bali dapat menjadi inspirasi untuk merencanakan aktivitas pada hari Minggu Pahing Wuku Sinta, tanggal 23 Oktober 2022.

  • Dwiwara (Menga). Anda melakukan kegiatan komunikatif bersama orang lain. Menangkan pendengaran orang lain, seimbangkan dengan kata hati.
  • Triwara (Pasah/Dora). Anda melakukan kegiatan untuk merencanakan masa depan, tidak mengungkit masa lampau, baik melalui perbincangan informal maupun rapat/musyawarah. Aktivitas perdagangan dengan pembayaran berjangka menengah atau panjang terbuka peluangnya untuk dimulai segera.
  • Caturwara (Bathara Sri). Anda dapat bisnis pertanian, peternakan, tapi kurang tepat untuk mengolah kayu karena serat akan menguat dan logam akan aus dan tumpul.
  • Pancawara (Pahing). Bagaikan spirit harimau Anda menjelajah wilayah untuk mencari peluang perdagangan, pertanian dan/atau peternakan.
  • Sadwara (Tungle). Bijak dalam berpikir, berkata dan bertindak meskipun berbohong demi kebaikan tidak dapat dihindarkan.
  • Sangawara (Dangu). Mengambil keputusan dengan tegas atas berbagai masalah, situasi dan peluang yang ada.
  • Dasawara (Sri). Memberi suatu peluang, barang dan/atau uang kepada orang, organisasi, atau institusi lainnya.
  • Ingkel (Wong). Jangan menyakiti orang lain meskipun keputusan Anda tegas.
  • Jejepan (Mina). Hari ini mungkin Anda mengurangi makan ikan supaya tetap sehat, dan juga jangan menyiksa ikan.
  • Lintang (Gajah). Sembunyikan perasaan yang sebenarnya, tetap tenang seperti Gajah, meskipun Anda bersikeras terhadap keputusan dan pendapat Anda.
  • Watek Madya - Watek Alit (Suku-Gajah). Anda mungkin suka bepergian dalam bekerja tetapi perhitungkan bahwa pekerjaan itu berdampak pada kerusakan hubungan sosial atau kerugian atau sebaliknya.
  • Pancasuda (Wasesa Segara). Nyatakan sikap Anda ketika berkomunikasi dengan orang lain bahwa Anda adalah orang yang pemurah, pemaaf, berwibawa dan bertanggungjawab seperti laut yang tak berbatas.
  • Paarasan (Lakuning Rembulan). Nyatakan sikap Anda ketika berkomunikasi dengan orang lain bahwa Anda adalah orang yang simpatik bagi semua orang seperti bulan yang menarik perhatian manusia dan serigala sekalipun.
  • Rakam (Nuju Pati). Bila Anda terpaksa untuk segera mengambil keputusan dan sedang terpenjara situasi penuh kebohongan, maka sebaiknya istirahat terlebih dahulu karena akan berpengaruh pada kondisi fisik yang mudah sakit.

Seluruh rencana aktivitas ini bebas untuk Anda refleksikan sendiri dan selanjutnya dikonkretkan dalam tindakan komunikatif bersama orang lain. Nalar pawukon mayoritas menghasilkan rencana-rencana usaha berskala Desa dan perdesaan karena ilmu pengetahuan astrologi-pawukon ini lahir dari nalar Desa. 

Salah satu pesan utama dari Wuku Sinta Minggu Pahing ini adalah Anda membuat rencana aktivitas untuk mengambil keputusan secara komunikatif dan tegas mengenai kolaborasi bisnis atau usaha peternakan antara Desa, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan dunia global.*



Sabtu, 10 September 2022

Minggu Wuku Bala 11-17 September 2022 Bisnis Properti dan Kurangi Aktivitas Seksual

Bathari Durga

Wuku Bala, wuku (rotasi astrologi-mingguan Jawa) yang ke-25 dari siklus 30 wuku.

Kisah Mitos Wuku Bala

Kala kabut senja mulai turun, siang pun terkantuk, mega-mega merah merangkak di cakrawala, terasa pada saat itu sunyi yang teramat sunyi...menyingsing di antara senja yang mengalun…

Batara Guru dan Dewi Uma bercengkerama terbang ke angkasa, berada di atas punggung Lembu Andini, memandangi indahnya panorama alam di atas lautan Nusakambangan. Bertambah indahnya suasana saat bias pesona sinar Candhik Ayu (lembayung senja) menggamit permukaan wajah ayu Dewi Uma.

Angin barat pun bagai diundang bertiup sepoi namun agak kencang. Angin genit itu menyibakkan kain tipis yang dikenakan Sang Dewi Uma, hingga nampak terpampang nyata kemolekan betis yang mencorong bagaikan emas sinangling pesonanya, dipadu dengan rona pipi Dewi Uma yang memerah, hingga menjadikan Batara Guru Katetangi Brantaning Ati (bangkit dan berbuncah birahinya).

Saat itu juga, Batara Guru "Memanis  Mamanuhara" (merayu dengan iba) agar diladeni memadu kasih di atas punggung Lembu Andini. Akan tetapi Batara Guru yang sudah terlanjur menggigil dalam hasrat tersebut ditolak oleh sang istri, karena malu melakukan hubungan badan di tempat terbuka atau saat di perjalanan. Ini juga pamali. Semakin kuat Dewi Uma menolak dan menghindari, semakin menggebu hasrat Batara Guru untuk menyampaikan hasratnya. Akhirnya memancarlah Kama (sperma) Batara Guru dan jatuh ke laut lepas.

Batara Guru kecewa, kesal dan murka terhadap penolakan istrinya. Sepanjang perjalanan di atas punggung Lembu Andini terjadi pertengkaran hebat. Dalam keadaan kesal dan marah tanpa sadar Dewi Uma mengeluarkan Sot (kutukan) "Perbuatan Yang Mulia Batara Guru tadi hanyalah pantas dilakukan oleh mahluk bersiung panjang!".

Maka seketika itu terjadilah apa yang diucapkan karena Dewi Uma mempunyai kesaktian yang amat tinggi dan gentur tapane (ahli tapa brata). Menyadari siung/taringnya tumbuh panjang, bukan main murkanya Batara Guru, tanpa berpikir dua kali Bathara Guru segera membalas dengan mengeluarkan kutukan saktinya terhadap Dewi Uma. Seketika itu Dewi Uma menjadi Raseksi (raksasa perempuan) yang wujudnya nggegirisi.

Usai saling menjatuhkan melalui ujaran saling-mengutuk, terjadilah situasi yang ibarat pepatah: sesal kemudian tiada guna, bubur tidak lagi kembali menjadi nasi. Walaupun sama-sama masih saling mencinta, Dewi Uma sudah terlanjur berubah wujud menjadi Raseksi yang tidak pantas lagi mendampingi sebagai istri Bathara Guru raja tiga dunia. Dewi Uma diberi tempat di Kayangan Setra Gandamayit di hutan Krendawahana, menjadi ratunya para jim setan peri perayangan, ilu-ilu banaspati, gandarwa dan sebagainya. Dan Dewi Uma diberi nama Bathari Durga.

Mata Angin Wuku

Energi orang yang terlahir pada rotasi minggu/wuku Bala "berada di Barat Laut" (lihat gambar mata angin). Orang yang terlahir pada wuku Bala dekat dengan energi air, sehingga penting untuk menyadari kualitas emosinya (yang mudah terjebak dalam sikap-saling-mengutuk). Sikap menyadari kualitas emosinya itu bisa dilakukan di dekat pantai, sungai dan mata air. Ketika suara-nurani dan akal-budinya memaknai kejadian di sekitar, maka orang yang terlahir di wuku Bala terlebih dahulu melakukan meditasi guna mengelola emosinya, seperti mengelola emosi kemarahan menjadi emosi keberanian, mengelola emosi keberanian menjadi emosi sukacita dan akhirnya pencerahan.

Mata Angin Wuku

Mitos "berada di Barat-Laut" yang dijelaskan di muka adalah kebalikan dari mitos Wuku Bala selama ini. Orang yang terlahir pada rotasi minggu/wuku Bala mempunyai mitos ketidakberuntungan yakni "rawan kena racun, tenung atau santet (bila percaya santet)", terlebih ketika ia menjalani hari-demi-hari, mulai hari Minggu Kliwon sampai dengan Sabtu Legi.

Wuku Bala, simbol dewanya adalah Batari Durga, yang tidak memiliki rasa takut dengan semua orang dan mitos yang telah dikisahkan sebelumnya. Simbol kayunya: Cemara, yang mitosnya banyak bicara, suka menonjolkan kedudukan, cenderung berbuat yang tidak baik. Simbol burungnyaAyam Hutan, yang mitosnya ia disayang oleh orang berkedudukan tinggi dan sekaligus tidak mengenal rasa takut. Peringatan-mawas-diri: Sarwa Tiba ing Sela Mangsa atau sering menimbulkan konflik, huru-hara dan keributan. Orang yang terlahir di minggu/wuku Bala, diingatkan selama 7 hari (Minggu Kliwon sampai dengan Sabtu Legi) sebaiknya menghindari perjalanan jauh ke arah Barat Laut.

Dengan memakai mata angin Wuku, orang yang terlahir pada minggu/wuku Bala punya keselarasan energi dengan orang yang terlahir pada minggu/wuku Tolu dan Julung Pujud. Mitos ini perlu Anda falsifikasi. Andaikan bisa keliru. Yang penting, Anda menyadari kemudahan melakukan persuasi, komunikasi dan negosiasi ketika teman dekat atau tim kerja Anda adalah orang yang terlahir pada wuku Tolu dan Julung Pujud. Bila keliru, abaikan saja. Bila tepat, itu adalah "kebetulan yang bukan kebetulan".

Mitos Hari dalam Wuku

Wuku Bala berdurasi dari tanggal 11 September 2022 ~ 17 September 2022 (Minggu Kliwon ~ Sabtu Legi).

Mitos Hari dalam Wuku Bala

Tanggal 11 September 2022 (Minggu Kliwon)

Hari ini tepat untuk mencari orang hilang dan kemungkinan akan lebih mudah ditemukan. Kesempatan bagi tim SAR dan sebagainya untuk memaksimalkan kinerjanya pada hari ini. Baik juga untuk merekrut tenaga kerja. Untuk menanam modal atau memulai investasi sangat beresiko tinggi.

Tanggal 12 September 2022 (Senin Legi)

Hari ini perlu berhati-hati dalam setiap perjalanan. Waspada dan selalu mengantisipasi potensi musibah. Hari yang cukup "berat" karena sebaiknya hindari untuk melakukan hubungan seks seperti kisah mitos Bathara Guru dan Dewi Uma. Beberapa nasihat leluhur menyatakan, hari ini jangan memotong pohon bambu dan jenis pohon yang mengandung banyak tepung dan getah, karena hasilnya cenderung akan mudah bubukan dan dimakan rayap. Begitu kuatnya mitos Senin Legi Wuku Bala, maka hari ini kurang tepat untuk pernikahan, boyongan rumah, memulai suatu bangunan gedung, dan lain lain.

Tanggal 13 September 2022 (Selasa Pahing)

Hari penting untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan penting, terlebih bila anda berposisi sebagai seorang pemimpin dan/atau pimpinan karena hasil keputusannya cenderung mendapatkan malu. Anda pertimbangkan segala keputusan itu secara intuitif maupun perhitungan risiko. Hari ini mitosnya juga menghindari punya hajat mantu dan perayaan penting lainnya. Tetapi untuk pasang jala dan mencari ikan di sungai atau di laut sangat bagus. Begitu pula untuk memasang jerat binatang buruan di hutan. Anda perhitungkan kondisi sungai, laut dan hutan agar hasil perburuan anda akan optimal dan maksimal.

Tanggal 14 September 2022 (Rabu Pon)

Konon, mitosnya hari ini adalah pantangan untuk melakukan pekerjaan besar, seperti pengambilan keputusan publik yang menyangkut kepentingan hidup orang banyak. Karena karakter hari ini amat sangar (berisiko tinggi) maka hampir tidak bisa dinetralisir dengan ritual-ritual dan syarat apapun. Oleh karena itu, mitos hari ini mengisyaratkan Anda untuk menunda perayaan mantu/nikahan, sunatan, boyong rumah, memulai membangun suatu bangunan. Ditambah lagi kemungkinan banyak orang merasa rugi karena dalam usahanya diwarnai sikap saling menghujat satu sama lain, padahal masih termasuk kulit daging sendiri, saudara atau rekan seperjuangan.

Tanggal 15 September 2022 (Kamis Wage)

Rahayu. Hari yang tepat untuk kembali menjalin tali persaudaraan. Momentum yang tepat untuk melamar (pekerjaan atau pra-pernikahan) karena cenderung mendapat sambutan positif. Aktivitas bisnis perumahan, misalnya menggali sumur-pompa, atau aktivitas penggalian sumber air untuk kepentingan pribadi mungkin akan mendapatkan sumber yang besar dan air yang jernih. Untuk urusan bisnis sangat baik untuk menjalin kerjasama di bidang properti.

Tanggal 16 September 2022 (Jum'at Kliwon)

Hari ini mitosnya sangat tidak baik untuk mengadakan rapat, musyawarah atau sarasehan. Hasilnya mungkin akan sia-sia belaka. Paritisipan pertemuan cenderung Mbeguguk Makutho Waton (memegang kencang egonya sendiri). Begitupula untuk bepergian guna urusan penting, cenderung mengalami kebuntuan. Pada hari ini para guru ditutunt ekstra-sabar karena pelajaran yang disampaikan kepada siswa relatif sulit diterima dan sulit dipahami. Perbaiki cara persuasi kepada siswa. Menangkan simpati dari para siswa.

Tanggal 17 September 2022 (Sabtu Legi)

Rahayu. Mitosnya, hari ini tepat untuk mencari rekan kerja, menjalin hubungan baik mudah dicapai, dan bepergian. "Hati-hati di jalan," kata Tulus melalui lagu terkenalnya.

Keris dan Batu

Keris yang cocok bagi wuku Bala, antara lain keris model (dhapur): 
  • Carang Soka, 
  • Sabuk Tampar, 
  • Sabuk Inten. 






Jumat, 02 September 2022

Wuku Prangbakat Tanggal 4-10 September 2022 Ketahanan Pangan

Batara Bisma

Wuku Prangbakat, wuku (rotasi astrologi-mingguan Jawa) yang ke-24 dari siklus 30 wuku.

Kisah Mitos Prangbakat

Wuku Prangbakat disimbolkan dengan Batara Bisma. Sekedar kemungkinan yang belum tentu manifes, simbol Batara Bisma akan mewarnai teratai hati perempuan. Mirip beberapa drama korea, perempuan kecewa hati karena harapan yang ditambatkan pada lelaki tertentu agar segera duduk di singgasana pelaminan (yang penuh dengan mozaik kebahagian) akan pupus. Kandas di persimpangan jalan lantaran sesuatu hal di luar kuasa-dirinya.

Bersama gemuruh air hujan yang dicurahkan dari langit, asah suara-hati dan pikiran untuk menimbang-nimbang sumpah dan janji dari orang-orang tertentu. Mungkin, sumpah atau janji yang diucapkan pada rotasi minggu/wuku Prangbakat kelak akan menjadi masalah besar: tanggung jawab yang tak-lekas-terpenuhi.

Mata Angin Wuku

Energi orang yang terlahir pada rotasi minggu/wuku Prangbakat "berada di bawah" (lihat gambar mata angin, di bawah mata angin Selatan). Orang yang terlahir pada wuku Prangbakat, perbanyak jalan kaki, jalan sehat, perbanyak telapak kaki menapak di tanah, dan mitos-mitos serupa. Sesuaikan interpretasi "berada di bawah" ini dengan suara-nurani Anda atau akal-budi ketika memaknai kejadian di sekitar.


Mitos "berada di bawah" yang dijelaskan di muka adalah kebalikan dari mitos Wuku Prangbakat selama ini. Orang yang terlahir pada rotasi minggu/wuku Prangbakat dinasihati agar "hindari memanjat, hindari naik tangga, atau hindari naik jabatan, dan mitos-mitos semacam itu", ketika ia menjalani hari-demi-hari, mulai hari Minggu Pon sampai dengan Sabtu Wage.

Wuku Prangbakat, simbol dewanya adalah Batara Bisma. Simbol kayunya: pohon Pucang Tirisan yang maknanya berumur panjang, rejeki berlimpah, punya harga diri dan gengsi yang tinggi. Simbol burungnya: Urang-urangan, gesit dan tangkas gerakannya. Perintahnya dingin di depan, tapi panas di belakang. Orang Prangbakat kaku/keras hatinya. Peringatan-mawas-diri: jika memanjat bisa Apes karena kala/marabahaya posisinya "berada di bawah menghadap ke atas". Orang yang terlahir di minggu/wuku Prangbakat, diingatkan selama 7 hari (Minggu Pon sampai dengan Sabtu Wage) sebaiknya menghindari kegiatan panjat-memanjat.

Dengan memakai mata angin Wuku, orang yang terlahir pada minggu/wuku Prangbakat punya keselarasan energi dengan orang yang terlahir pada minggu/wuku Kurantil dan Mandhasiya. Mitos ini perlu Anda falsifikasi. Andaikan bisa keliru. Yang penting, Anda menyadari kemudahan melakukan persuasi, komunikasi dan negosiasi ketika teman dekat atau tim kerja Anda adalah Kurantil dan Mandhasiya. Bila keliru, abaikan saja. Bila tepat, itu adalah "kebetulan yang bukan kebetulan".

Mitos Hari dalam Wuku

Wuku Prangbakat berdurasi dari tanggal 4 September 2022 ~ 10 September 2022 (Minggu Pon ~ Sabtu Wage).

Tanggal 4 September 2022 (Minggu Pon)

Hindari untuk melakukan suatu perjalanan penting, cenderung akan mudah sakit demam, sakit kepala, sakit perut dan penyakit rakyat jelata lainnya. Banyak minum vitamin.

Tanggal 5 September 2022 (Senin Wage)

Bayi yang terlahir pada hari ini sangat akan sangat mudah mendapatkan teman atau sahabat. Hari ini banyak rejeki datang. Para pelaku bisnis cenderung mendulang untung besar. Lumayan bisa tetap hidup meski ancaman inflasi melanda negeri. Kalau beneran maujud, jangan lupa do'akan penulis blog ini supaya memperoleh siraman rejeki juga.

Tanggal 6 September 2022 (Selasa Kliwon)

Sangat baik untuk mulai menanam tanaman buah-buahan. Tapi bepergian untuk urusan yang sangat  penting kurang baik. Mungkin bisa digantikan pertemuan daring.

Tanggal 7 September 2022 (Rabu Legi)

Hari yang tepat untuk melakukan tirakat, mawas diri, intropeksi dan meditasi. Kurang tepat untuk melakukan acara penting, seperti pesta, pernikahan dan boyongan rumah. Simpan dulu energi untuk melakukan acara semacam ini. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan, irit dan efisien. Tapi, namanya hidup tetap juga butuh cuan. Tepat juga hari ini Anda menaikkan padi di lumbung atau menyimpan padi dan bahan pangan di gudang logistik (mirip program ketahanan pangan pemerintah, hehehe). Mungkin Anda bisa melakukan kongsi dagang, utamanya bisnis properti, dan terhubung dengan urusan perkayuan (tahun China). Mitosnya, bila hari ini ada kesempatan menjual-ide secara persuasi dan menanam modal, cenderung kelak mendulang untung.

Tanggal 8 September 2022 (Kamis Pahing)

Mitosnya, hari ini banyak hal yang dilakukan hanya sia-sia belaka seperti debu yang tertiup angin. wusssss...... Dan bila suara-hati dan intuisi menyatakan, "malas bepergian", turuti saja, siapa tahu terhindar untuk bertemu musuh yang menyulut emosi.

Tanggal 9 September 2022 (Jum'at Pon)

Hari ini kurang tepat untuk mulai membangun rumah, hotel, tempat wisata, fasilitas umum dan lain-lain, apalagi dalam kondisi modal tipis dan akhirnya struktur fisik-bangunan mengundang masalah di kemudian hari. Berbagai strategi perjuangan, nihil hasilnya.  Mitosnya, bepergian di hari ini, terutama bagi orang terlahir Prangbakat mudah sakit, baik sakit fisik ataupun sakit non-fisik (gelisah, cemas, stress-tanpa-sebab, dan lainnya).

Tanggal 10 September 2022 (Sabtu Wage)

Hari ini enjoy karena dinaungi kabegjan atau keberuntungan. Bila Anda bepergian, mungkin Anda bakal tiba di tujuan sekaligus tercapai maksud/tujuannya. Namun, .... mitosnya, setiap langkah atau kebijakan strategis pada hari ini harus disertai dengan kehati-hatian agar tidak mendapat rasa malu di kemudian hari.

Keris dan Batu

Keris yang cocok bagi wuku Prangbakat, antara lain keris model (dhapur
  • Kebo Lajer, 
  • Kebo Teki, 
  • Bethok, 
  • Tebu Sauyun, 
  • Pandhawa,
  • Sangkelat. 

Keris Dhapur Kebo Lajer, Tangguh Jenggala
Koleksi Foto: Sigit Yunarka (Klaten)

Keris Dhapur Sangkelat
Koleksi Foto: Yan Radityo 

Menurut wangsit yang belum tentu terbukti, batu permata dan batu akik untuk orang yang terlahir  Prangbakat, antara lain: Pancawarna, Jamrud, dan Blue Sapphire.*