WangSit Pawukon

Metafisika Waktu itu Bernama Pawukon

Membongkar Peta Batin Kuno Di dalam diri kita, terbentang sebuah "peta" batin yang unik. Peta ini adalah cerminan dari pola ...

Minggu, 30 Agustus 2015

Minggu/Wuku Marakeh 30 Agustus - 5 September 2015, Pasangan Ideal Pilkada (Marakeh, Warigagung, Kulawu), Berbatu Cincin Meteor Hitam dan Kecubung Wulung, Ber-Keris Munding Wangi Lajer

Mpu Totok Brojodiningrat (1995)
Mendalang Wayang Kulit, Pagelaran Kraton Surakarta Hadiningrat
Peringatan Setengah Abad Kemerdekaan RI 1995


Wuku Marakeh durasi dalam minggu ini dari tanggal 30 Agustus 2015 ~ 05 September 2015 (Minggu Legi ~ Sabtu Paing).

Dibawah pengaruh Mongso Katelu: "Suta Manut Bapa". Mangsane lung lungan podho merambat ing lanjarane. Pring lan empon empon liyane podho ngebung (nukul). Palawija mangsane panen. Bayi lahir mongso iki watakke kumer anteng. 

Artinya: "Anak menurut kepada Bapak/orang tua". Waktunya tanaman merambat pada tempat rambatannya, rumpun bambu dan tanaman sejenis kunyit, jahe, lengkuas dan lainnya mulai bersemi. Tanaman palawija mulai panen. Bayi yang terlahir pada Mongso ini wataknya pendiam.

Kedudukan "Wuku" 8 Penjuru Mata Angin dan Atas-Bawah
Berdasarkan kedudukan Wuku, pasangan yang cocok untuk orang ber-wuku Marakeh didalam Pilkada adalah orang ber-wuku Warigagung dan wuku Kulawu.

Syawal 1948
Dulkaidah 1948

Agustus 2015

Syawal 1436
Dzul Qaidah 1436

Minggu RaditeSenin SomaSelasa AnggaraRabu BudhaKamis RespatiJum'at SukraSabtu Saniscara
26
Langkir
9 Legi
27
Langkir
10 Pahing
28
Langkir
11 Pon
29
Langkir
12 Wage
30
Langkir
13 Kliwon
31
Langkir
14 Legi
1
Langkir
15 Pahing
2
Mandhasiya
16 Pon
3
Mandhasiya
17 Wage
4
Mandhasiya
18 Kliwon
5
Mandhasiya
19 Legi
6
Mandhasiya
20 Pahing
7
Mandhasiya
21 Pon
8
Mandhasiya
22 Wage
9
Jlg. pujud
23 Kliwon
10
Jlg. pujud
24 Legi
11
Jlg. pujud
25 Pahing
12
Jlg. pujud
26 Pon
13
Jlg. pujud
27 Wage
14
Jlg. pujud
28 Kliwon
15
Jlg. pujud
29 Legi
16
Pahang
1 Pahing
17
Pahang
2 Pon
18
Pahang
3 Wage
19
Pahang
4 Kliwon
20
Pahang
5 Legi
21
Pahang
6 Pahing
22
Pahang
7 Pon
23
Kr.welut
8 Wage
24
Kr.welut
9 Kliwon
25
Kr.welut
10 Legi
26
Kr.welut
11 Pahing
27
Kr.welut
12 Pon
28
Kr.welut
13 Wage
29
Kr.welut
14 Kliwon
30
Marakeh
15 Legi
31
Marakeh
16 Pahing
1
Marakeh
17 Pon
2
Marakeh
18 Wage
3
Marakeh
19 Kliwon
4
Marakeh
20 Legi
5
Marakeh
21 Pahing
Sumber Gambar Kalender: Ki-Demang.Com

Tanggal: 30 Agustus 2015 (Minggu Legi): Rahayu. Sangat baik untuk menanam Pala Brungkah, Pala Kina. Baik untuk bercocok tanam.

Tanggal 31 Agustus 2015 (Senin Paing): Baik untuk membongkar rumah atau bangunan. Baik untuk sembarang kegiatan.

Tanggal 01 September 2015 (Selasa Pon): Tidak baik untuk melakukan perjalanan jauh/penting.

Karakter Hari Minggu/Wuku
Marakeh
Tanggal 02 September 2015 (Rabu Wage): Tidak baik untuk melakukan segala keperluan yang penting, banyak sekali halangan. Akan tetapi banyak orang yang mendapat rejeki nomplok dari arah yang tidak di sangka sangka, perbanyaklah bersedekah pada hari ini, karena akan sangat bermanfaat bagi sesama.

Tanggal 03 September 2015 (Kamis Kliwon): Rahayu. Untuk kulakan barang atau jual beli barang dagangan bagus, cenderung mendulang untung. Baik untuk membongkar rumah atau bangunan. Untuk mengobati orang yg sudah lama menderita sakit cenderung mendapatkan kesembuhan.

Tanggal 04 September 2015 (Jumat Legi): Hari ini Satriya Wirang (mendapat malu besar). Hati hatilah didalam mengambil suatu keputusan penting, apa lagi yang ada kaitannya dengan kepentingan banyak orang, walau hari ini wataknya rahayu dan baik untuk melakukan banyak kegiatan.

Tanggal 05 September 2015 (Sabtu Paing): Hari ini wataknya Rahayu, selamat untuk melakukan bepergian.

Wuku Marakeh: Dewanya Batara Surenggana.
Kayunya: Trengguli. Kembangnya tiada guna, maknanya tidak bisa disuruh untuk pergi jauh. Dipuji orang karena buahnya yang indah. Kehormatannya dekat. Baik hati. Kuat daya ingatnya.
Celakanya: Jika di Aniaya.
Kolo/Apes: di Utara. Selama 7 hari wuku Marakeh jangan melakukan perjalanan penting/jauh kearah
Bathara Surenggarana
Simbol Padewan Minggu/Wuku
Marakeh
Kolo atau Utara.

Batu permata dan batu akik yang cocok untuk wuku Marakeh, antara lain: Batu meteor warna hitam, kecubung wulung, Bulu Monyet, intan hitam

Keris yang cocok untuk wuku Marakeh: Keris dapur Campur Bawur, keris dapur Munding wangi Lajer, keris dapur Pudak Sategal, keris dapur Supana/sempana Kinjeng.




Minggu, 23 Agustus 2015

Minggu/Wuku Kuruwelut, 24-29 Agustus 2015: Pasangan Ideal Pilkada (Kuruwelut, Warigalit, Wayang), Berbatu cincin Pancamaya dan Jamrud

Mpu Totok Brojodiningrat
Arahan Budaya untuk Petugas Paskibraka,
"Filosofi Keris dalam Membangun Karakter Anak Bangsa"

Wuku Kuruwelut, dalam minggu ini durasi dari tanggal 23 Agustus 2015 ~ 29 Agustus 2015 (Minggu Wage ~ Sabtu Kliwon). Dibawah pengaruh Mongso Katelu.

Condronya Mongso: "Suta Manut Bapa". Mangsane Lung lungan podho merambat ing lanjarane. Pring lan empon empon podho ngebung (nukul). Palawija mangsane panen. Bayi lahir ing mongso iki watake kumer anteng. 

Artinya: "Anak Nurut Pada Bapak/Orang Tua" waktunya jenis tanaman yang merambat mulai tumbuh dan mencari rambatannya. Anak rumpun bambu dan jenis empon empon (kunyit, jahe, lengkuas dan lain sebagainya) mulai tumbuh. Palawija saatnya panen. Bayi yang lahir pada mongso ini wataknya pendiam.

Dalam dunia penghelatan politik nasional, pasangan yang cocok dan baik bagi wuku Kuruwelut dalam "Pasangan Pilkada" adalah wuku Warigalit dan wuku Wayang.

Kedudukan Wuku dalam Penjuru Mata Angin dan "Atas-Bawah"


Wuku Kuruwelut yang menaungi adalah Batara Wisnu, senopati perang para dewata, pernah mengalahkan Prabu Watu Gunung tanpa menggunakan kesaktiannya, tapi dengan kecerdikannya. Oleh karenanya, dalam konteks komunikasi individu antar-wuku, orang yang dinaungi wuku Watugunung disarankan untuk berhati-hati saat berpapasan dengan wuku Kuruwelut yang dipayungi oleh putra kelima Hyang manikmaya ini.

Bathara Wisnu
Simbol Minggu/Wuku Kuruwelut

Batara Wisnu berkahyangan/bersemayam di Untarasegara. Sering ngejawantah atau  menjelma ke dunia untuk brastha watak angkoro budi candhala ambeg siya (angkara murka) dengan cara menitis. Senjata yang dimiliki Bathara Wisnu berupa Cakra Baskara, yang titisannya juga memiliki, kecuali Sang Rama Regawa.

Bathara Wisnu juga memiliki pusaka sakti yang bisa menghidupkan orang meninggal Sak Jabane Pepesthen (mati sebelum waktunya) yang bernama Kembang Cangkok Wijayakusuma. Bathara Wisnu juga memiliki Aji Braholosewu yang amat nggegiri jika triwikrama (berubah wujud menjadi raksasa yang teramat besar). Saat Batara Wisnu menitis sebagai Narayana/Krisna, ajian itu diberikan oleh gurunya yang bernama Begawan Padmanaba yang sesungguhnya adalah Hyang Wisnu sendiri.

Batara Wisnu pernah menjelma sebagai Narasingha (manusia dengan berkepala singa) ketika memusnahkan raja raksasa Prabu Hiranyakasipu. Ia menjelma menjadi Matsa (ikan) untuk membinasakan Hargagriwa yang berujud raksasa sakti. Juga pernah ber-Avatara dalam wujud Wimana (orang kerdil) untuk membinasakan Ditya Bali.

Batara Wisnu identik dengan tunggangannya yaitu Garuda birawa bernama Bhirawan. Karena sayangnya kepada Garuda titihannya, Bhirawan dijadikan menantu dan dijodohkan dengan salah satu putrinya, yaitu Dewi Kastapi.

Didalam Purana, Batara Wisnu dikisahkan menjadi raja di Medangkamulan dengan gelar Prabu Satmata, juga sebagai Raja Pinandita di Kadiri bergelar Sri Aji Jayabaya yang kondang hingga sekarang dengan kitab Jongko Joyoboyo yang disadur oleh seorang Putut dari Padepokan Tegal Sari dibumi Wengker, yaitu Raden Mas Ngabehi Rongga Warsita.

Karakter Hari dalam Minggu/Wuku Kuruwelut

Tanggal 23 Agustus 2015 (Minggu Wage): Hari ini Kolo Dite, hari yang angker dan banyak sialnya juga halangan, terutama bagi yang terlahir Julung Caplok (terlahir pada waktu matahari menjelang tenggelam di ufuk barat). Namun hari ini sangat baik untuk memasang tumbal penolak balak. Memagari rumah, tempat usaha, perhotelan, perkantoran dan lain lain.

Karakter Hari dan Posisi Kala
Minggu/Wuku Kuruwelut

Tanggal 24 Agustus 2015 (Senin kliwon): Sangat baik untuk membuka/mencari lahan baru untuk perumahan, perhotelan, perkantoran dan tempat tempat usaha lainnya. Baik untuk membuka ikatan kerja sama. Mencari jodoh atau pasangan hidup. Membangun kembali tali persaudaraan yang terputus. Akan tetapi karena bertepatan dengan hari Satriya Wirang, hati hati dalam setiap mengambil keputusan penting agar terhindar dari rasa Malu Besar.

Tanggal 25 Agustus 2015 (Selasa Legi): Hari ini Kolo Tinantang. Hati hati jika terpaksa melakukan perjalanan jauh dan perjalanan penting.

Tanggal 26 Agustus 2015 (Rabu Paing): Untuk melakukan perjalan jauh dan perjalanan penting lebih hati hati, karena cenderung banyak terjadi kecelakaan.

Tanggal 27 Agustus 2015 (Kamis Pon): Hari ini Satriya Wirang, seyogyanya tidak membuat keputusan penting, karena berpotensi untuk mendapatkan Malu Besar nantinya. Untuk membuat dan memasang tumbal penolak balak sangat baik.

Tanggal 28 Agustus 2015 (Jum'at Wage): Hari ini juga sangat baik untuk membuat dan memasang tumbal penolak balak untuk rumah, tempat usaha, pabrik, perhotelan, perkantoran dll.

Tanggal 29 Agustus 2015 Agustus (Sabtu Kliwon): hari ini adalah Sampar Wangke (menyandung mayat/bangkai). Sangat tidak baik. Seyogyanya tidak untuk melangsungkan pernikahan. Memulai membangun rumah. Boyongan, juga hajad penting lainnya.

Karakter Orang Terlahir Wuku Kuruwelut

Wuku Kuruwelut: Dewanya Batara Wisnu.
Kayunya: Parijatha.
Burungnya: Sepahan. Budi pekertinya halus akan tetapi sering salah langkah. Selalu bersedih. Celakanya: Bisa terkena senjata atau peluru nyasar.
Kolo/Apes: Berada di Atas. Dalam 7 (tujuh) hari di rotasi minggu/wuku Kuruwelut ini, bagi orang yang terlahir ber-wuku Kuruwelut, disarankan jangan memanjat atau mendaki gunung.

Batu cincin yang cocok untuk wuku Kuruwelut: Batu Pancamaya, Jamrud.

Keris yang cocok untuk Kuruwelut: Keris dapur Brojol, keris dapur Semar Tinandhu, keris dapur Semar Pethak, keris dapur Semar Mesem, keris dapur Rarasiduwo, keris dapur Pandawa.

Keris Dhapur Brojol, Koleksi: Adnan Buyung Nasution
Pameran Keris di Gedung DPR-RI (2015)







Senin, 17 Agustus 2015

Minggu/Wuku Pahang 16-22 Agustus 2015: Pasangan Ideal dalam Pilkada (Pahang, Wugu dan Gumbreg)


Mpu Totok Brojodiningrat,
Berkunjung dan tirakat di Situs Hutan Jati Donoloyo, Wonogiri.
Diatas tunggak kayu jati yang dulu digunakan untuk bahan
Soko Guru Masjid Agung Demak, zaman Wali Songo


Orang yang berwuku Pahang, ketika maju pilkada atau pendamping dalam bekerja, cocok   berpasangan dengan orang yang berwuku Wugu dan berwuku Gumbreg. Dan harus berhati-hati jika harus berpasangan dengan pemilik wuku Warigagung, wuku Marakeh dan wuku Kulawu. Jika orang berwuku Pahang hendak berpasangan dengan orang berunsur 3 (tiga) wuku tersebut, sebaiknya dinetralisir (diruwat) dari pengaruh energi ketidakselarasannya.

Wuku Pahang di bulan Agustus 2015 berada dalam durasi dari tanggal 16 Agustus 2015 ~ 22 Agustus 2015 (Minggu Paing ~ Sabtu Pon). Wuku Pahang kali ini dibawah pengaruh Mongso Karo.

"Bantolo Rengko". Mangsane Lemah Nelo. Wit randu wiwit pradopo semi. Bayi lahir ing mongso iki watake Crobo. 
Artinya: Bumi atau sawah sawah pada retak karena terpanggang panas teriknya sang surya. Pohon randu belum beranjak penuh dari rontok daunnya. Dibarengi dengan tanaman padi gagal panen karena kekurangan air dibanyak titik sudut bumi pertiwi. Bayi yang terlahir pada mongso ini berwatak ceroboh atau sembrono.

Karakter Hari dalam Wuku Pahang

Karakter Hari dan Posisi Kala
Minggu/Wuku Pahang

Tanggal 16 Agustus 2015 (Minggu paing): Banyak halangan, segala kegiatan akan menjadi sandungan dikelak kemudian hari.

Tanggal 17 Agustus 2015 (Senin pon): Tidak baik untuk melakukan perjalanan penting, banyak halangan, cenderung akan kena tuduh hal yang tidak baik.

Tanggal 18 Agustus 2015 (Selasa Wage): Hari ini adalah Lebu Katiyub Angin. Tidak baik bepergian urusan penting. Disamping banyak aral melintang juga usahanya Muspro (sia sia), seperti debu yang tertiyup angin lesus. Dan bisa menuai celaka.

Tanggal 19 Agustus 2015 (Rabu kliwon): Hari ini disamping Lebu Katiyub Angin, juga bertepatan dengan Bangas Padewan, Tidak baik untuk Mantu/pernikahan. Memulai mendirikan rumah atau bangunan, tempat usaha, hotel dan lain sebagainya. Untuk memulai bercocok tanam atau bertani bagus.

Tanggal 20 Agustus 2015 (Kamis legi): Rahayu. Baik untuk memulai beternak ayam, sejenis unggas.

Tanggal 21 Agustus 2015 (Jumat paing): Baik untuk membongkar bangunan yang sudah tidak lagi dimanfaatkan. Akan tetapi tidak baik untuk melakukan perjalanan penting.

Tanggal 22 Agustus 2015 (Sabtu pon): Sangat baik untuk segala pengobatan penyakit yang sulit untuk diobati. Orang yang lama menderita sakit akan cenderung mendapat kesembuhan kembali jika diupayakan usaha/pengobatan pada hari ini.

Karakter Orang Ber-Wuku Pahang

Batara Tantra
Simbol Padewan, Wuku Pahang

Wuku Pahang, dewanya Batara Tantra.
Kayunya: Pohon Gendayakan. Bisa menjadi pelindung orang yang nandang sakit.
Burungnya: Cocak. Banyak dan mudah mengeluarkan pernyataan. Mempunyai kedudukan atau jabatan. Ikhlas terhadap harta benda miliknya. Ucapannya sering memanaskan telinga orang yang mendengarkan.
Pahang ora pinuju ngati, artinya punya watak iri hati.
Celakanya: dianiaya.
Kolo/apes: di Selatan menghadap Utara. Selama tujuh hari jangan mengadakan perjalanan jauh ke arah Selatan.

Keris dan Wuku Pahang

Keris yang cocok untuk Pahang, antara lain: Keris dapur Jalak Ngore, keris dapur Jalak Sangu Tumpeng, keris dapur Jalak Dingding/Jinjing, keris dapur Jalak Tilam Sari, keris dapur Condong Campur, keris dapur Panimbal.

Wuku Pahang, dibawah pengaruh Hyang Tantra. Begitu kuatnya nilai-nilai roh Batara Tantra ini sehingga di belahan bumi tumbuh subur aliran semacam Tantrayana, Tantra Bhairawa dan sebagainya. Leluhur Nusantara tidak sedikit yang gandrung akan aliran Bathara Tantra.

Di candi Sukuh, tepatnya pada suatu tempat yang sangat erotis, sebelah barat kaki gunung Udayadri (jaman sekarang lebih masyhur dikenal dengan nama Gunung Lawu), terdapat sebuah relief.  Relief itu menggambarkan suasana didalam besalen (tempat membuat keris) yang bangunannya berbentuk Limasan Gigir Kebo.

Relief di Candi Sukuh

Di dalam relief terdapat gambaran seorang Mpu dimana ia disertai seorang panjak (tukang ububan) dengan posisi berdiri dengan satu kaki. Posisi berdiri satu kaki itu menggambarkan salah satu sikap yoga Hyang Tantra. Sorot mata sang Mpu terlihat Jatmiko (tajam penuh wibawa) ketika ia sedang menempa keris dengan Paron Dhengkul (lutut sebagai ganti landasan besi tempa), dengan ageman/atribut yg masing masing mengirim pesan kepada manusia di bumi sebagai berikut.

Sosok Mpu dengan model rambut Hagegelung Minangkoro cinandhi renggo (wus datan keweran dununging panembah marang sesembahan jati) artinya: sudah tidak ragu lagi akan penyatuan terhadap Tuhannya (manunggaling kawulo Gusti) atau bersatunya antara kehendak Yang Disembah dengan Yang Menyembah.

Ditengah antara kedua alis memakai Pupuk Emas Rineka Jaroting Asem (budine ngrawit pindho jaroting asem). Maknanya: manusia harus halus budinya melebihi lembut dan rumitnya serat buah asam.

Di telinga menyelipkan Sumping Pudhak Sinumpet (pinter api api balilu). Maknanya: sebenarnya cerdas tapi tidak menampakkan kecerdasannya. Berbeda dengan kondisi mental pada umumnya manusia di jaman sekarang, seperti diingatkan dalam Serat Wedatama: Durung Besus Kasusu Kaselak Besus (belum bisa apa-apa, tapi terburu-buru ingin terlihat pintar);

Ditangannya memakai Kelat Bau Rineka Balibar Manggis Binelah Tekan Kendhagane (Njobo njero podho). Maknanya: antara ucapan dan tindakan selaras (sabdo pandhito ratu), jika berucap bisa dipegang ucapannya, bukannya esuk tempe sore dhele (lain sekarang, lain nanti kenyataan ucapannya).

Memakai kalung Sangsangan Nogo Bondo, dari arah kanan ke kiri (yen prang campuh mundure yen wus prapteng lampus). Maknanya: jika sudah mempunyai kesanggupan didalam sebuah perjuangan untuk bangsa, maka tidak akan pernah mundur sejengkalpun, mundur jika sudah berkalang ibu pertiwi.

Memakai Kampuh Poleng Bang Bintulu, Abang, Ireng, Kuning, Putih (memakai kain poleng merah, hitam, kuning, putih). Maknanya: meletakkan nafsunya dibawah perut atau diluar tubuhnya, yaitu bukan ditunggangi oleh nafsu Amarah, Aluamah, Supiah, Mutmainah, akan tetapi mampu menyetir dan menunggangi 4 (empat) nafsu yg melekat pada setiap individu yang memang merupakan anasir 4 (empat) asal muasal badan wadag manusia. Adapun nafsu empat tadi selalu menyeret manusia kepada:
a.     Abang/Api kepada nafsu amarah, emosi;
b.     Ireng/Tanah kepada Aluamah, urusan perut;
c.     Kuning/Air kepada nafsu Supiah, urusan birahi; dan
d.     Putih/Udara kepada nafsu Mutmainah, hal spiritual yang jika berlebihan (over) akan menimbulkan pamer (riya').

Begitu kentalnya spirit yang ditebarkan Hyang Tantra pada kehidupan umat manusia yang mampu diserap oleh leluhur kita. Utamanya para Mpu keris di jaman dahulu menitipkan pesan filosofisnya lewat maha karyanya, yaitu keris.***



Minggu, 09 Agustus 2015

Minggu/Wuku Julung Pujud, 9-15 Agustus 2015: Kehati-hatian Menyusun Strategi Politik

Mpu Totok Brojodiningrat (berbaju hitam)
Acara Peluncuran Buku "Kujang", Gedung Indonesia Menggugat
Bandung, Jawa Barat


A. Kisah Generasi Paripurna

Wuku Julung Pujud, dewa yang mempengaruhi adalah Batara Guritna. Dalam versi Redisutan, Batara Guritna adalah Spirit/jiwa dari Jabang Tetuka, Koconagoro, Purbaya, yang proses berkembang dan dewasanya digembleng di pusat pendadaran bernama Kawah Candradimuka.

Kawah Candradimuka secara simbolik merupakan inti dari lelehan pijarnya magma untuk membentuk sebuah generasi baru yang mumpuni. Generasi baru ini mempunyai sikap mental yang gagah berani, tangguh, tanggon dan memiliki sifat tanggung jawab tinggi. Ibarat ber-otot kawat balung wesi (otot kawat, tulang besi), sungsum gegolo (sungsum inti nuklir). Sosok generasi yang mampu terbang menggapai langit lazuardi dan membelah mega-mega yang merangkak di cakrawala.

Bathara Guritna,
Simbol Wuku Julung Pujud

Tubuh generasi yang memancarkan medan energi dahsyat tiada tara untuk menetralisir panas dan curah derasnya air hujan, karena limambaran pusaka sakti berupa baju atau Kutang Antakusuma dan Caping Basunando. Bahkan sang generasi itu mampu melanglang buwana (dunia) dan segala medan, tanpa terdeteksi oleh radar lawan. Ibarat "Kayu aeng, Lemah sangar dadi towo", karena ia memiliki Kasut podo kacarmo, yaitu sepatu yang tercipta dari kulit penjaga bumi berwujud naga bernama Sang Hyang Ananta Kusuma.

Namun, generasi paripurna ini harus lebih awal gugur sebagai kusuma bangsa. Lantaran dijadikan tumbal atau tameng hidup oleh titisan Wisnu Batara. Ini terjadi dalam situasi langkah penyelamatan terhadap Arjuna dari senjata pamungkas yang bernama panah Kunta Wijayandanu. Senjata pamungkas itu dilepas oleh Surya Putra/Karna Basusena dalam perang suci antara Darma dengan Adarma di padang Kuru Kasetra nan angker.

Bathara Guritna telah mempersiapkan generasi berikutnya, putranya, yaitu Sasikirana. Ibarat persalinan atau melahirkan, sekecil apapun harus berdarah darah, maka Bathara Guritna itulah yang berdarah tumbal untuk menghantarkan Sang Sasikirana.

B. Karakter Hari dalam Minggu/Wuku Julung Pujud

Tanggal 9 Agustus 2015 (Minggu Kliwon): Saat yang sangat baik untuk menjalin tali persaudaraan, akan erat dan saling menguntungkan. Untuk membangun hubungan kerja sangat baik, melakukan kerjasama dalam bisnis dan politik cenderung membawa dampak yang baik bagi pelbagai pihak. Untuk memulai suatu pekerjaan besar seperti proyek dan lain sebagainya seyogyanya hati-hati, karena hari ini bertepatan dengan Lebu Katiyub Angin (debu yang tertiup angin topan). Bisa muspro atau sia-sia perjuangannya.

Karakter Hari dan Posisi Kala
Minggu/Wuku Julung Pujud

Tanggal 10 Agustus 2015 (Senen Legi): Hari ini sangat bagus untuk upaya membebaskan orang yang terbelenggu atau pembelaan bagi orang yang terkena urusan hukum. Untuk mencari jodoh atau teman hidup cepat dapat. Untuk urusan perekrutan tenaga kerja baik.

Tanggal 11 Agustus 2015 (Selasa Paing): Sangat baik untuk memasang perangkat/perabot pusaka, seperti memasang tombak pada landeyan/tangkai. Memasang hulu/handel pada keris. Untuk melakukan perjalanan dalam rangka berniaga baik. Kegiatan yang lain seyogyanya lebih hati-hati, hari ini bertepatan dengan Satriya Wirang (mendapat malu/dipermalukan).

Tanggal 12 Agustus 2015 (Rabo Pon): Sangat baik untuk Njamasi pusaka, seperti keris, tombak. Baik sekali untuk membuatkan warangka pusaka, seperti keris, tombak dan pusaka-pusaka lainnya.

Tanggal 13 Agustus 2015 (Kamis Wage):  Untuk bepergian urusan penting tidak baik, begitu juga untuk kegiatan kegiatan penting lainnya, banyak Sambikolo/halangan.

Tanggal 14 Agustus 2015 (Jum'at Kliwon): Tidak baik untuk merencanakan sesuatu yang besar, tidak baik untuk menyusun sebuah strategi penting, karena dikemudian hari akan membawa bencana. Terlebih menyusun strategi dalam politik, akan menuai bencana pada waktunya kelak.

Tanggal 15 Agustus 2015 (Sabtu Legi): Rahayu. Sangat baik untuk menyimpan padi di lumbung/gudang. Memulai membuka usaha pangan atau kebutuhan bahan pokok. Baik untuk investasi atau menanam modal.


Individu yang terlahir pada kategori Lebu Katiyup Angin dan Satriyo Wirang, sebaiknya diruwat Pawukon untuk mentralisir energi negatif yang menyelimutinya serta menimbulkan kesadaran baru atas diri, keluarga, profesi dan masa depannya.

C. Pranata Mangsa dan Wuku Julung Pujud

Pranoto mongso Wuku Julung Pujud, pada bulan Agustus 2015, berada didalam rotasi Mongso Karo. 

Candrane Mongso: "Bantolo Rengko" mangsane lemah nelo, wit randu wiwit pradopo semi. Bayi lahir mongso iki watakke crobo.

ArtinyaTanah dan sawah retak retak, karena terpanggang panas teriknya sang surya. Pohon randu belum beranjak penuh dari rontok daunnya. Dibarengi dengan kerontangnya tanaman padi yang kekurangan air dibanyak titik di sudut bumi pertiwi (gagal panen). Banyak sumber air Asat/kering. Bayi yang terlahir di mongso ini cenderung berwatak ceroboh (sembrono)

Salah satu solusi spiritualitas yang diwariskan leluhur Nusantara adalah ruwatan pawukon terhadap bayi yang terlahir dalam situasi pranoto mongso karo, wuku Julung Pujud.  

D. Karakter Individu Terlahir dalam Minggu/Wuku Julung Pujud


Ilustrasi: Manuskrip Pawukon
Sumber: Museum Brojobuwono, Karanganyar, Jateng

Wuku Julung Pujud: dewanya Batara Guritno. 
Kayunya: Rembuyut, indah dalam pandangan mata, banyak orang mencarinya walau tidak berbunga. 
Burungnya: Emprit Tondang. Wataknya dekat dengan keberuntungan, menjadi buah bibir yang baik. 
Julung Pujud Lengkowo. Artinya, bisa menyenangkan hati banyak orang. 
Bilahi atau celakanya: Jika ditenung atau kena guna-guna. 

Kala/apesnya berada di Barat laut menghadap tenggara. Individu yang terlahir pada saat rotasi wuku Julung Pujud, selama 7 (tujuh hari), mulai hari Minggu sampai Sabtu sebaiknya menghindari perjalanan ke arah Barat Laut.

E. Keris dan Wuku Julung Pujud

Keris yang cocok bagi individu yang ber-Wuku Julung Pujud adalah keris keluk (Luk), yaitu dhapur Sabuk Inten, Sabuk Tampar, Carang Soka dan dhapur Pandawa Lare, Pandawa Cinarita.