WangSit Pawukon

Metafisika Waktu itu Bernama Pawukon

Membongkar Peta Batin Kuno Di dalam diri kita, terbentang sebuah "peta" batin yang unik. Peta ini adalah cerminan dari pola ...

Sabtu, 22 Juni 2024

Kisah Anton Wuku Dukut Minggu Pon 30 Juni 2024

Pawukon Blogspot - Tepat hari Minggu Pon, Wuku Dukut, tanggal 30 Juni 2024, di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan pandan yang rimbun, hiduplah seorang pria bernama Anton. Lahir pada Minggu Pon, Wuku Dukut, Anton tumbuh dengan karakter yang dipengaruhi oleh energi hari istimewa ini. Dia dibentuk oleh energi simbolis dewa Batara Sakri, penguasa Wuku Dukut.

Anton adalah sosok tampan dengan pembawaan purusa yang kuat. Meski begitu, ada ketakutan dan sedikit keserakahan yang tersembunyi di balik senyumannya. Suka bergurau, setia, dan cakap dalam berbagai hal, Anton memiliki kepekaan luar biasa dan kemampuan untuk menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik. Seringkali, kecerdikannya membela dirinya dalam berbagai situasi, membuatnya cocok menjadi advokat atau diplomat.

Ilustrasi: Anton dan Wuku Dukut Minggu Pon


Pagi itu, energi Dwiwara membawa semangat keterbukaan dan sosialisasi. Anton yang biasanya suka menyendiri, terdorong untuk keluar dan berinteraksi. Sambil bersarapan, ia bergurau dengan keluarganya, "Siapa tahu, hari ini aku akan menemukan jodoh di pasar! Kalau tidak, setidaknya aku bisa menemukan diskon besar-besaran." Dia menyadari bahwa mengikuti kata hati tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain bukanlah pilihan bijak hari ini.

Energi Triwara Beteng membawa kemakmuran dan kebaikan, baik untuk manusa-yadnya. Anton merasa perlu memperbaiki hubungan yang renggang, menyadari bahwa hari ini adalah waktu tepat untuk belajar dari masa lalu. Bertemu sahabat lamanya, Budi, yang pernah terlibat perselisihan kecil, ia tersenyum lebar, "Budi, mari kita akhiri perang dingin ini. Aku merindukan lelucon garingmu!" Hari ini juga baik untuk menganalisa hasil kerja dan situasi luar, serta memperkuat kehandalan diri, belajar, dan berdoa.

Dengan wibawa dan keberaniannya, sesuai energi Caturwara Jaya, Anton mengadakan rapat kecil dengan para pemuda desa untuk membahas perbaikan lingkungan dan kesejahteraan warga. Peraturan dan ketertiban dihormati, dan keputusan Anton mendapat dukungan penuh. Di tengah rapat, Anton tak lupa menyelipkan humor, "Jika kita bisa membersihkan sungai dari sampah, mungkin kita bisa menemukan harta karun atau setidaknya sandal jepit yang hilang."


Energi Wuku Dukut

Meski demikian, energi Pancawara Kambing mengingatkan Anton untuk tidak melangkah terlalu jauh. Hati-hati dan tidak merugikan orang lain, terutama keluarga, menjadi pedomannya. Saat gelisah, energi Sadwara Was yang penuh kekhawatiran mengingatkannya untuk berdoa dan bermeditasi, mencari ketenangan batin di tengah kesibukan. Sambil bercanda dengan teman-teman, Anton berkata, "Doa dan meditasi adalah kunci. Atau mungkin aku hanya butuh kopi lebih banyak."

Namun, di tengah semua aktivitas, Anton merasakan keanehan. Setiap kali melewati pohon pandan besar di tepi desa, dia merasa diawasi. Suara ayam hutan yang biasanya biasa saja, kini terdengar seperti pesan. Malam tiba, Anton mendekati pohon itu. Cahaya bulan menerangi jalannya saat dia melangkah hati-hati.

Sampai di sana, dia melihat bayangan samar di balik dedaunan pandan. Hatinya berdebar kencang, tetapi rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Dari balik bayangan, muncul pria tua dengan pakaian tradisional, yang mengenalkan dirinya sebagai kakek Sakri, penjaga hutan pandan.

Bathara Sakri

"Aku sudah lama mengawasimu, Anton," kata kakek Sakri dengan suara dalam dan penuh wibawa. "Kamu pewaris kekuatan leluhur yang luar biasa, tapi kamu harus menghadapi ujian besar."

Anton, meski terkejut, merasa ada kebenaran dalam kata-kata kakek Sakri. "Ujian apa yang harus aku hadapi, Kek?" tanyanya.

"Kamu harus menjaga keseimbangan sifat-sifatmu. Kekuatanmu bisa menjadi berkah atau kutukan, tergantung bagaimana kamu menggunakannya," jawab kakek Sakri. "Ingatlah, tidak semua orang di sekitarmu bisa dipercaya. Ada yang akan mengkhianatimu di saat kamu paling membutuhkan mereka."

Sosok kakek Sakri perlahan menghilang, meninggalkan Anton dengan banyak pertanyaan. Energi Saptawara Radite yang bersinar terang memberinya pencerahan. Anton menyadari bahwa hidup adalah perjalanan penuh kejutan dan guncangan, sebagaimana energi Sangawara Ogan yang sering membuatnya bingung. Namun, dia merasa riang (Dasawara: Suka) dan termotivasi untuk menjadi lebih baik.

Anton memutuskan untuk mengikuti energi Astawara Guru, mencari tuntunan dari orang bijak di desanya. Dia berusaha tidak menyakiti pohon (Ingkel: Taru) atau orang lain (Jejepan: Wong), meski sifat pendendam (Pancasuda: Bumi Kapethak) kadang mempersulitnya.

Hari itu, Anton memutuskan untuk berubah. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih membuka hati dan pikirannya, menerima kritik dan saran tanpa terbawa emosi. Dengan pesona bunga (Paarasan: Aras Kembang), dia ingin memikat tanpa menonjolkan kekayaannya (Lintang: Patrem). Dia belajar tidak bekerja hanya saat perlu (Watek Madya dan Lintah) dan menjaga keseimbangan hidupnya.

Anton menatap masa depan dengan semangat dan tekad baru. Dia tahu bahwa hidup adalah perjalanan penuh kejutan dan guncangan, namun dengan pesan-pesan spiritual dari simbol hari Minggu Pon Wuku Dukut, dan energi simbol Neptu 12 yang memberi kekuatan dan kestabilan, Anton yakin dia bisa melewati semua rintangan, membawa kesejahteraan bagi diri dan desanya tercinta. Sambil tersenyum, Anton berkata pada dirinya sendiri, "Kalau hidup memberiku lemon, setidaknya aku punya resep rahasia untuk es jeruk." (ASP)

Kisah Wuku Kulawu 23-29 Juni 2024: Anugerah Bumi dan Bayang-Bayang Ular di Utara

Pawukon Blogspot - Wuku Kulawu, sebuah siklus dalam kalender Jawa yang dipercaya membawa berkah dan peringatan dari Batara Sadono, Dewa Bumi, akan segera tiba. Di Desa Lontar, sebuah desa kecil yang terletak di kaki Gunung Merapi, penduduknya bersiap menyambut datangnya Wuku Kulawu dengan hati yang penuh harap dan cemas. Mereka percaya bahwa selama tujuh hari ke depan, nasib dan peruntungan mereka akan dipengaruhi oleh kekuatan mistis yang terkait dengan Wuku Kulawu. Kisah fiksi ini akan mengikuti perjalanan hidup beberapa penduduk desa selama Wuku Kulawu, mengungkapkan bagaimana watak dan karakter mereka yang dipengaruhi oleh lintang kelahiran masing-masing, berinteraksi dengan peristiwa dan tantangan yang mereka hadapi.

Simbol Bathara Sadana

23 Juni 2024, Minggu Legi

Mentari pagi menyentuh lembut Desa Lontar, sebuah desa kecil yang terletak di kaki Gunung Merapi. Di sana, hiduplah seorang pemuda bernama Bagus, yang jiwanya seteduh pohon Tal yang menjulang di halaman rumahnya. Hari itu adalah awal Wuku Kulawu, saat Batara Sadono, Dewa Bumi, memberikan berkah dan peringatan kepada mereka yang lahir di bawah naungannya.

Bagus, dengan hati lapang dan mudah menyesuaikan diri, menjalani hari-harinya dengan penuh syukur. Ia dikenal di desanya sebagai pemuda yang berwibawa, selalu mengutamakan kepentingan bersama tanpa pamrih. Seperti burung Nuri yang berkicau merdu, nasihat bijaknya selalu menenangkan hati yang resah.

Bagus mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Sumur Sinaba: "Dicari orang karena petuah dan nasehatnya."

24 Juni 2024, Senin Pahing

Hari berganti, dan sinar mentari pagi menyelimuti Desa Lontar dengan kehangatan yang berbeda. Hari itu adalah Senin Pahing, hari yang istimewa bagi mereka yang lahir di bawah naungan lintang kukus (dupa), termasuk Raga, sahabat Bagus. Pengaruh lintang ini membentuk watak Raga menjadi pribadi yang berhati keras namun tetap berkelakuan baik, sopan santun, dan lemah lembut.

Kabar tentang kearifan Raga telah menyebar jauh melampaui batas desa. Seorang saudagar kaya dari kota, yang dikenal dengan wataknya yang keras dan angkuh, datang mencari petuah dari pemuda bijaksana tersebut. Saudagar itu, yang bernama Raden Wijaya, tengah dirundung masalah besar yang mengancam kejayaan usahanya.

Raga, dengan kerendahan hati yang menjadi ciri khasnya, menyambut Raden Wijaya dengan tangan terbuka. Ia mendengarkan keluh kesah sang saudagar dengan penuh perhatian, tanpa menghakimi atau menyela. Raden Wijaya, yang terbiasa dihormati dan ditakuti, merasa terkejut sekaligus tersentuh oleh sikap Raga yang begitu tulus dan penuh pengertian.

Setelah mendengar cerita Raden Wijaya, Raga merenung sejenak. Ia memahami bahwa watak keras sang saudagar adalah bagian dari pengaruh lintang kukus yang sama-sama menaungi mereka. Namun, Raga juga tahu bahwa di balik kekerasan hati itu terdapat kebaikan dan potensi untuk berubah.

Dengan bijaksana, Raga memberikan nasihat yang menyentuh hati Raden Wijaya. Ia mengingatkan sang saudagar tentang pentingnya kesabaran, keteguhan hati, dan kemampuan untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain. Raga juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ambisi dan kepedulian terhadap sesama.

Nasihat Raga bagaikan setetes embun yang menyejukkan hati Raden Wijaya yang gersang. Sang saudagar, yang awalnya datang dengan hati penuh amarah dan dendam, kini merasa lebih tenang dan damai. Ia menyadari bahwa kekerasan hati hanya akan membawa kehancuran, sementara kelembutan dan kasih sayang adalah kunci menuju kebahagiaan sejati.

Pertemuan dengan Raga telah mengubah hidup Raden Wijaya. Ia berjanji akan memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Raga, dengan senyum tulus, mendoakan agar sang saudagar dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Raga mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Bumi Kapethak: "Suka bekerja, kuat menahan kecewa dan penderitaan, rapi dan bersih hidupnya tetapi pendendam."

Pola Energi Hari Wuku Kulawu

25 Juni 2024, Selasa Pon

Hari berganti, dan sinar mentari pagi menyelimuti Desa Lontar dengan kehangatan yang berbeda. Hari itu adalah Selasa Pon, hari yang istimewa bagi mereka yang lahir di bawah naungan lintang sona (asu), termasuk Andre, seorang pemuda desa yang dikenal ramah tamah dan manis budi bahasanya. Namun, seperti watak yang dipengaruhi oleh lintang sona, Andre juga memiliki sisi lain: ia mudah cemburu dan memiliki hati yang keras, terutama terhadap hal-hal yang ia anggap sebagai miliknya.

Ketenangan Desa Lontar terusik oleh kabar buruk. Andre, yang sedang mencari kayu bakar di hutan sebelah Utara, ditemukan tak sadarkan diri dengan bekas gigitan ular berbisa. Kabar ini mengingatkan Bagus akan peringatan Wuku Kulawu tentang bahaya yang mengintai di Utara.

Sifat hati-hati dan waspada Andre, yang biasanya menjadi kelebihannya, kali ini justru menjadi bumerang. Terlalu fokus pada pencarian kayu bakar, ia lengah dan tidak menyadari keberadaan ular berbisa yang mengintai di balik semak-semak. Rasa cemburu dan posesifnya terhadap wilayah hutan yang ia anggap sebagai miliknya mungkin juga turut berperan dalam kejadian ini.

Bagus segera mengumpulkan penduduk desa dan mengingatkan mereka untuk waspada. Ia juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menghormati semua makhluk hidup, termasuk ular yang dianggap sebagai simbol kekuatan dan kebijaksanaan Batara Sadono. Bagus menekankan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan penting untuk selalu berhati-hati dan waspada, terutama saat berada di wilayah yang dianggap berbahaya.

Andre mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Satrya Wibawa: "dihormati orang karena kemulyaan dan keluhurannya".

26 Juni 2024, Rabu Wage

Berkat kehati-hatian penduduk desa dan doa Bagus yang tulus, keadaan kembali tenang. Andre, yang terkena gigitan ular berbisa, pun berangsur pulih. Siti, seorang tabib desa yang lahir pada Rabu Wage di bawah pengaruh lintang kartika, berperan besar dalam proses penyembuhan Andre. Siti dikenal sebagai sosok yang penuh rasa hati-hati dan adil, namun juga memiliki kecenderungan untuk bersikap pelit dan suka memamerkan kepandaiannya.

Dalam merawat Andre, Siti menunjukkan keahliannya dalam meramu obat-obatan tradisional dengan cermat dan teliti. Ia tidak segan berbagi pengetahuan tentang tanaman obat kepada penduduk desa, namun tetap menjaga beberapa ramuan rahasia sebagai bentuk "kekayaan" intelektualnya. Meskipun terkadang terkesan pelit, Siti tetap memberikan pengobatan terbaik bagi Andre tanpa mengharapkan imbalan, menunjukkan sisi adil dan welas asihnya.

Bagus, yang selalu berpegang pada prinsip "lilo legowo tanpa pamrih", merasa bersyukur atas kesembuhan Andre dan bantuan Siti. Ia menyadari bahwa setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan, dan penting untuk menghargai perbedaan serta saling melengkapi dalam kehidupan bermasyarakat.

Siti mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Satrya Wibawa: "dihormati orang karena kemulyaan dan keluhurannya".

27 Juni 2024, Kamis Kliwon

Kehidupan di Desa Lontar kembali berjalan seperti biasa. Rani, seorang gadis desa yang lahir pada Kamis Kliwon di bawah pengaruh lintang naga, mengajak teman-temannya untuk membersihkan lingkungan desa. Rani dikenal sebagai sosok yang penuh cita-cita dan memiliki angan-angan yang tinggi, namun juga mudah tersinggung dan memiliki telinga yang tipis.

Semangat Rani dalam membersihkan desa tidak luput dari perhatian Bagus. Ia melihat potensi kepemimpinan dalam diri Rani dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan yang diinisiasi oleh gadis tersebut. Bagus juga memberikan nasihat kepada Rani tentang pentingnya kesabaran dan pengendalian diri, terutama dalam menghadapi kritik dan perbedaan pendapat.

Rani, yang awalnya merasa tersinggung karena beberapa penduduk desa tidak ikut serta dalam kegiatan bersih-bersih, akhirnya dapat memahami nasihat Bagus. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki prioritas dan kesibukan masing-masing, dan tidak semua orang dapat selalu sejalan dengan ide-idenya. Dengan hati yang lebih lapang, Rani melanjutkan kegiatan bersih-bersih bersama teman-temannya, sambil tetap berpegang pada cita-citanya untuk menjadikan Desa Lontar menjadi tempat yang lebih bersih dan indah.

Rani mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Bumi Kapethak: "Suka bekerja, kuat menahan kecewa dan penderitaan, rapi dan bersih hidupnya tetapi pendendam."

28 Juni 2024, Jumat Legi

Wuku Kulawu akan segera berakhir. Palomino, seorang tetua desa yang lahir pada Jumat Legi di bawah pengaruh lintang banyak angrem, memimpin doa bersama untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh penduduk desa. Palomino dikenal sebagai sosok yang jujur, berkelakuan baik, dan suka menolong orang lain. Namun, ia juga memiliki hati yang keras dan mudah memutuskan hubungan jika merasa disalahkan.

Dalam doa bersama tersebut, Palomino menyampaikan pesan tentang pentingnya kejujuran, kebaikan, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat. Ia juga mengingatkan penduduk desa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan.

Bagus, yang hadir dalam doa bersama tersebut, merasa terharu oleh ketulusan Palomino. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam mengungkapkan rasa syukur dan kepeduliannya terhadap sesama. Bagus juga belajar dari Palomino tentang pentingnya menjaga integritas dan kejujuran dalam setiap tindakan.

Palomino mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Satrya Wirang: "Luhur budinya tetapi selalu dipermalukan orang, tidak berwibawa".

29 Juni 2024, Sabtu Pahing

Mentari pagi kembali menyinari Desa Lontar. Hari terakhir Wuku Kulawu telah tiba. Arnold, seorang petani yang rajin dan lahir pada Sabtu Pahing di bawah pengaruh lintang ru (senjata), memanen hasil kebunnya dengan perasaan puas. Meskipun dikenal mudah marah dan tersinggung, Arnold juga memiliki sifat pemaaf dan pandai mengelola keuangan serta rumah tangga.

Arnold, dengan cekatan, mengumpulkan hasil panennya. Ia merasa bangga atas kerja kerasnya selama ini dan bersyukur atas hasil yang melimpah. Meskipun terkadang emosinya mudah tersulut, Arnold selalu berusaha untuk mengendalikan diri dan belajar dari kesalahannya. Ia menyadari bahwa kemarahan hanya akan membawa kerugian, sementara kesabaran dan pengendalian diri akan membawanya menuju kesuksesan.

Bagus, yang melihat Arnold sedang memanen hasil kebunnya, menghampiri dan memberikan ucapan selamat. Ia memuji kerja keras Arnold dan mengingatkannya untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Bagus juga memberikan nasihat kepada Arnold tentang pentingnya mengendalikan emosi dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Arnold, yang merasa dihargai dan didukung oleh Bagus, berterima kasih atas nasihat tersebut. Ia berjanji akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mudah terpancing emosi. Arnold juga menyadari bahwa kesuksesannya tidak hanya bergantung pada kerja keras dan kepandaiannya dalam mengelola keuangan, tetapi juga pada kemampuannya untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain. 

Arnold mulai menyadari ada energi pancasuda pada hari ini yakni Satrya Wibawa: "dihormati orang karena kemulyaan dan keluhurannya".

Hari terakhir Wuku Kulawu pun berakhir dengan penuh makna bagi seluruh penduduk Desa Lontar. Mereka belajar banyak tentang arti kehidupan, keberagaman watak manusia, dan pentingnya saling menghargai serta bekerja sama. Bagus, sebagai pemuda yang bijaksana, terus membimbing dan menginspirasi penduduk desa untuk menjalani hidup yang lebih baik dan penuh makna.*

Pengarang: anom surya putra